#DUPE# (2019)
N/A|N/A|N/A
Rating: Metascore: N/A
N/A

Saya sudah lupa, entah hampir kapan menonton film tentang problematika bocah SD yang benar-benar bagus. Good Boys adalah film komedi langka bertema praremaja yang disutradarai oleh sineas debutan Gene Stupnitsky yang naskahnya ditulisnya sendiri bersama Lee Eisenberg. Film berbujet USD 20 juta ini dibintangi oleh bintang cilik ternama, Jacob Tremblay, bersama Keith Williams dan Brady Noon. Selain Jacob, wajah-wajah pemain lainnya masih asing bagi saya. Lalu apa yang mau ditawarkan komedi bocah SD ini? Coba bayangkan, film bertokoh usia bocah sekolah dasar, namun rating filmnya dewasa, kegilaan macam apa yang bisa disajikan?

Alkisah Max, Lucas, dan Thor adalah tiga orang bocah SD yang bersahabat baik karena orang tua mereka saling bertetangga. Max menghadapi problem besar ketika ia diajak pesta oleh Soren, bocah populer di sekolahnya, karena cewek yang ia taksir, Brixlee juga hadir dan di sinilah kesempatan untuk melakukan first kiss dengan idolanya. Hanya untuk pesta ini, Max dan dua rekannya melakukan segalanya agar semuanya berjalan lancar. Hanya berawal dari keinginan untuk belajar berciuman, segalanya berubah menjadi mimpi buruk dan petualangan besar mereka di dunia orang dewasa pun di mulai.

Saya ulangi, kegilaan macam apa yang disajikan dari film bocah SD berating dewasa? Semuanya adalah kegilaan maksimal dari awal hingga akhir hingga dijamin penonton bakal terkuras enerjinya untuk tertawa. Humornya sangat berkelas dan segar. Segala hal yang jarang sekali ada dalam film, semuanya ada di sini. Kita dapat melihat bocah-bocah ini seringkali menyumpah (F word) dan berkata tak pantas seenaknya layaknya orang dewasa. Keluguan mereka plus hormon mereka yang mulai berkembang menjadikan eksplorasi segala hal tentang orang dewasa menjadi obyek humor yang dominan. Misal saja, “sex toys” mereka anggap sebagai properti layaknya barang biasa. Istilah misoginis mereka salah artikan dengan massage (pijat). Bahkan vitamin pun mereka anggap obat terlarang. Nyaris semua dialognya yang seringkali disisipi tribute (film), mampu memancing tawa lepas kita.

Baca Juga  La La Land

Semua pencapaian brilian dialog dan naskahnya, tidak berarti apapun tanpa penampilan mengesankan dari para kastingnya. Ketiga tokoh utamanya jelas menjadi sorotan utama. Jacob, Keith, dan Brady memiliki chemistry yang sangat kuat, dan seolah mereka seperti terlahir untuk ini. Mereka mampu menarik penonton untuk melihat segala hal melalui sudut pandang dunia bocah SD yang masih polos. Satu nilai plus, ada pada Keith yang bermain sebagai Lucas, si bocah kulit hitam. Akting bocah ini sungguh istimewa dengan sosok yang ia perankan, Lucas, yang dituntut selalu berkata jujur sementara ia sendiri mengalami tekanan mental akibat orang tuanya yang bercerai.

Enerjik, segar, dan brilian, Good Boys terasa bagai “oase” di tengah gempuran genre populer lainnya yang mampu mengeksplorasi maksimal keluguan dan polah usia praremaja dengan didukung sederetan kasting cilik memukau, serta sisi humor dan tribute yang amat berkelas. Sudah langka kini bisa menemukan film bagus yang orisinal di tengah dominasi film franchise. Walau sebagian besar kastingnya anak-anak, namun film ini memang ditujukan untuk penonton dewasa. Di AS, Good Boys memiliki rating R yang setara dengan film superhero brutal macam Deadpool dan Logan. Dari perspektif yang berbeda, film ini jelas bisa dianggap tidak mendidik (untuk anak-anak) dengan dialog kasar dan sajian visualnya yang vulgar. Namun, dari sudut pandang para penikmat film, Good Boys adalah satu perjalanan sinematik yang mengasyikkan yang mengingatkan kita betapa indah dan lugunya dunia anak-anak.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaAd Astra
Artikel BerikutnyaPretty Boys
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.