Good Boys (2019)
90 min|Adventure, Comedy|16 Aug 2019
6.9Rating: 6.9 / 10 from 15,129 usersMetascore: 60
Three 6th grade boys ditch school and embark on an epic journey while carrying accidentally stolen drugs, being hunted by teenage girls, and trying to make their way home in time for a long-awaited party.

Saya sudah lupa, entah hampir kapan menonton film tentang problematika bocah SD yang benar-benar bagus. Good Boys adalah film komedi langka bertema praremaja yang disutradarai oleh sineas debutan Gene Stupnitsky yang naskahnya ditulisnya sendiri bersama Lee Eisenberg. Film berbujet USD 20 juta ini dibintangi oleh bintang cilik ternama, Jacob Tremblay, bersama Keith Williams dan Brady Noon. Selain Jacob, wajah-wajah pemain lainnya masih asing bagi saya. Lalu apa yang mau ditawarkan komedi bocah SD ini? Coba bayangkan, film bertokoh usia bocah sekolah dasar, namun rating filmnya dewasa, kegilaan macam apa yang bisa disajikan?

Alkisah Max, Lucas, dan Thor adalah tiga orang bocah SD yang bersahabat baik karena orang tua mereka saling bertetangga. Max menghadapi problem besar ketika ia diajak pesta oleh Soren, bocah populer di sekolahnya, karena cewek yang ia taksir, Brixlee juga hadir dan di sinilah kesempatan untuk melakukan first kiss dengan idolanya. Hanya untuk pesta ini, Max dan dua rekannya melakukan segalanya agar semuanya berjalan lancar. Hanya berawal dari keinginan untuk belajar berciuman, segalanya berubah menjadi mimpi buruk dan petualangan besar mereka di dunia orang dewasa pun di mulai.

Saya ulangi, kegilaan macam apa yang disajikan dari film bocah SD berating dewasa? Semuanya adalah kegilaan maksimal dari awal hingga akhir hingga dijamin penonton bakal terkuras enerjinya untuk tertawa. Humornya sangat berkelas dan segar. Segala hal yang jarang sekali ada dalam film, semuanya ada di sini. Kita dapat melihat bocah-bocah ini seringkali menyumpah (F word) dan berkata tak pantas seenaknya layaknya orang dewasa. Keluguan mereka plus hormon mereka yang mulai berkembang menjadikan eksplorasi segala hal tentang orang dewasa menjadi obyek humor yang dominan. Misal saja, “sex toys” mereka anggap sebagai properti layaknya barang biasa. Istilah misoginis mereka salah artikan dengan massage (pijat). Bahkan vitamin pun mereka anggap obat terlarang. Nyaris semua dialognya yang seringkali disisipi tribute (film), mampu memancing tawa lepas kita.

Baca Juga  Mad Max: Fury Road

Semua pencapaian brilian dialog dan naskahnya, tidak berarti apapun tanpa penampilan mengesankan dari para kastingnya. Ketiga tokoh utamanya jelas menjadi sorotan utama. Jacob, Keith, dan Brady memiliki chemistry yang sangat kuat, dan seolah mereka seperti terlahir untuk ini. Mereka mampu menarik penonton untuk melihat segala hal melalui sudut pandang dunia bocah SD yang masih polos. Satu nilai plus, ada pada Keith yang bermain sebagai Lucas, si bocah kulit hitam. Akting bocah ini sungguh istimewa dengan sosok yang ia perankan, Lucas, yang dituntut selalu berkata jujur sementara ia sendiri mengalami tekanan mental akibat orang tuanya yang bercerai.

Enerjik, segar, dan brilian, Good Boys terasa bagai “oase” di tengah gempuran genre populer lainnya yang mampu mengeksplorasi maksimal keluguan dan polah usia praremaja dengan didukung sederetan kasting cilik memukau, serta sisi humor dan tribute yang amat berkelas. Sudah langka kini bisa menemukan film bagus yang orisinal di tengah dominasi film franchise. Walau sebagian besar kastingnya anak-anak, namun film ini memang ditujukan untuk penonton dewasa. Di AS, Good Boys memiliki rating R yang setara dengan film superhero brutal macam Deadpool dan Logan. Dari perspektif yang berbeda, film ini jelas bisa dianggap tidak mendidik (untuk anak-anak) dengan dialog kasar dan sajian visualnya yang vulgar. Namun, dari sudut pandang para penikmat film, Good Boys adalah satu perjalanan sinematik yang mengasyikkan yang mengingatkan kita betapa indah dan lugunya dunia anak-anak.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaAd Astra
Artikel BerikutnyaPretty Boys
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.