Great White (2021)
91 min|Horror, Thriller|16 Jul 2021
4.2Rating: 4.2 / 10 from 8,874 usersMetascore: 45
A fun filled flight to a remote atoll turns into a nightmare for five passengers when their seaplane is destroyed in a freak accident and they are trapped on a raft, 100 miles from shore with man-eating sharks lurking beneath the ...

Subgenre “serangan hiu” rupanya kini semakin diminati pembuat film. Tercatat sejak satu dekade lalu, tiada tahun tanpa film subgenre shark attack ini atau diistilahkan sharkploitation. Sekalipun film klasik Jaws (1975) sulit ditandingi, namun beberapa film terbukti mampu memberikan sisi thriller dan hiburan yang seimbang, macam The Meg, Deep Blue Sea, The Shallow, Open Water, hingga film indie cult ikonik, Sharknado. Great White, film produksi Australia ini digarap sineas lokal, Martin Wilson. Film ini dibintangi nama-nama yang belum banyak dikenal, yakni Katrina Bowden, Aaron Jakubenko, dan Tim Kano. Tak banyak ekspektasi sebelum menonton, tapi siapa tahu?

Kaz dan Charlie adalah sepasang kekasih yang kini mengelola tur perjalanan udara di perairan yang terkenal dengan obyek wisatanya, Hell’s Reef. Suatu ketika, mereka direkrut dua wisatawan kaya asal Jepang, Joji dan Michelle. Sesampainya di lokasi, tanpa sengaja mereka menemukan satu korban tewas serangan ikan hiu. Mereka mencoba mencari perahu milik sang korban, dan tanpa diduga pesawat mereka mendadak diserang oleh seekor hiu hingga tenggelam. Tak hanya mereka harus mengarungi ratusan mil untuk pulang, namun mereka harus bertahan hidup dari serangan hiu putih raksasa yang menguntit mereka.

Baca Juga  The Ledge

Seperti sudah diduga, tak banyak ekspektasi terhadap film ini. Plotnya terlalu mudah untuk diantisipasi, tak banyak elemen kejutan, dan bahkan kamu bisa menduga-duga, siapa korban berikutnya dan siapa yang selamat. Dengan setting yang luar biasa indah, alur kisahnya terhitung membosankan dan tidak memiliki ketegangan yang cukup untuk bisa memicu adrenalin penonton. Tampak sekali beberapa konflik terlalu dipaksakan dan aksinya pun terasa monoton. Dialog pun terlalu datar dan tidak mampu mengangkat sisi dramatik di momen-momen penting. Sebagai bandingan, The Shallow yang hanya memiliki satu tokoh dan setting yang sama mampu memberikan sisi ketegangan yang luar biasa.

Great White tidak menambah apapun untuk genrenya selain panorama setting-nya yang memukau.  Dengan film subgenrenya yang masih terbatas, masih dimungkinkan film yang jauh lebih baik dengan segala potensi dan elemennya. Lokasi produksi di wilayah perairan dan di bawah air memang bukan perkara mudah karena ada keterbatasan ruang gerak teknis. Namun, tentu ini menjadi tantangan besar bagi para pembuat film. Masih kita nantikan film pesaing Jaws. Setidaknya, jika subgenre ini nyatanya terus diproduksi tiap tahun berarti ada segmen penonton yang selalu menanti.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaTexas Chainsaw Massacre
Artikel BerikutnyaDon’t Kill Me
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.