Greenland (2020)
119 min|Action, Thriller|18 Dec 2020
6.4Rating: 6.4 / 10 from 132,508 usersMetascore: 64
A family struggles for survival in the face of a cataclysmic natural disaster.

Greenland adalah film aksi bencana garapan Ric Roman Waugh. Ini adalah kali kedua, Ric berkolaborasi bersama aktor laga Gerard Butler setelah Angel Has Fallen tahun lalu. Selain Butler, film ini juga dibintangi oleh Morena Baccarin, Roger Dale Floyd, serta aktor gaek Scott Glenn. Greenland berbujet U$ 35 juta yang tergolong kecil untuk genrenya. Setelah beberapa kali tema meteor/komet jatuh ke bumi diproduksi, sebut saja Meteor, Deep Impact, hingga Armageddon, apa yang ditawarkan kini oleh Greenland?

Alkisah diperkirakan serangkaian komet akan jatuh ke bumi berupa serpihan kecil hingga satu serpihan besar yang bakal membawa bencana besar bagi umat manusia. John bersama istri dan putranya, Allison dan Nathan, terpilih pemerintah untuk masuk ke dalam bunker rahasia di wilayah utara bumi. Kisah filmnya secara sederhana menyajikan bagaimana upaya perjuangan mereka ke lokasi tersebut.

Plotnya berjalan gamblang dan sederhana yang berjalan tanpa henti sejak awal hingga akhir. Ketegangan bermula ketika rencana yang ditetapkan beralih mendadak dan aksi berlangsung intens hingga akhir filmnya. Untuk skala kisahnya yang global dan bujet yang tergolong kecil, film ini secara mengesankan menampilkan adegan-adegan aksi kolosal tanpa mengumbar banyak efek visual. Fokus bukan pada bencana, namun pada tiga tokoh utamanya. Tak ada para jagoan di angkasa sana yang berupaya menghancurkan kometnya. Secara keseluruhan, tak banyak kejutan berarti dan plotnya sudah terlalu jamak untuk genrenya, sekalipun mampu menyajikan ketegangan intens dalam beberapa momennya.

Baca Juga  Alien: Covenant

Greenland menggunakan format baku bencana dengan kisah yang teramat familiar untuk genrenya, namun cukup mengesankan untuk bujetnya yang kecil. Inti filmnya hanyalah survival. Sisi manusiawi terasa kental dalam film ini di tengah kepanikan luar biasa dan bahaya yang mengancam. Manusia bisa berubah menjadi layaknya binatang dalam situasi macam ini, namun juga sisi kebaikan tak akan pernah sirna. Seperti dalam Greenland, bencana pandemi seperti yang kita rasakan sekarang membuat kita merenung lebih jauh, menjadi refleksi, apa yang sudah kita lakukan dalam hidup dan sesama yang sepadan untuk diingat? Manusia hanyalah sebuah serpihan kecil dibandingkan komet yang dulu pernah memusnahkan sebagian besar kehidupan di bumi.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaCome Play
Artikel BerikutnyaDi Bawah Umur
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.