Gundala (2019)
123 min|Action, Adventure, Sci-Fi|29 Aug 2019
7.5Rating: 7.5 / 10 from 1,952 usersMetascore: N/A
Indonesia's preeminent comic book superhero and his alter ego Sancaka enter the cinematic universe to battle the wicked Pengkor and his diabolical squad of orphan assassins.

Gundala merupakan tokoh komik ciptaan Harya “Hasmi” Suraminata pada tahun 1969. Disutradarai oleh Joko Anwar, Gundala merupakan film pembuka dari jagat sinema Bumi Langit yang digadang-gadang menjadi pelopor film superhero nasional. Aktor-aktris ternama bermain dalam film ini, antara lain Abimana Aryasatya, Tara Basro, Ario Bayu, Rio Dewanto, dan Bront Palarae.

Menjelang perilisan film Gundala, Bumi Langit Cinematic Universe (BCU) sudah merilis beberapa judul film lainnya yang akan tayang pada rentang 6 tahun ke depan seperti Sri Asih, Godam & Tira, Si Buta dari Gua Hantu, Patriot Taruna, Gundala: Putra Petir, Mandala: Golok Setan, dan Patriot. Bahkan beberapa nama bintang pemeran para sosok super ini juga sudah dipublikasi, sebut saja Godam (Chicco Jerikho), Sri Asih (Pevita Pearce), Mandala (Joe Taslim), Tira (Chelsea Islan), Camar (Hannah Al Rashid), Bidadari Mata Elang (Kelly Tandiono), Mustika Sang Kolektor (Tatjana Saphira), Cempaka (Vanesha Prescilla), Virgo (Zara JKT48), Aquanus (Nicholas Saputra), dan Dewi Api (Dian Sastro). Dengan sederet nama aktor dan aktris papan atas, bagaimana jagat sinema ini akan dimulai?

Sancaka (Muzakki Ramdhan/Abimana Aryasatya) adalah seorang anak dari keluarga tak berada yang tinggal di daerah kumuh. Ayahnya (Rio Dewanto) adalah seorang buruh yang meninggal dalam kerusuhan pabrik tempatnya bekerja. Ibunya yang bekerja ke luar kota, tak kunjung pulang hingga Sancaka memutuskan untuk hidup di jalanan. Dibantu oleh Awang yang melatihnya bela diri, Sancaka berhasil bertahan hidup dalam kejamnya kota. Namun, akhirnya mereka terpisah, dan Sancaka pun harus kembali bertahan hidup sendiri. Sancaka tumbuh menjadi sosok yang tidak memerdulikan sekitar hingga suatu hari terjadi pergolakan batin antara memilih untuk diam atau bertindak ketika melihat ketidakadilan di depan matanya.

Memang jika superhero biasanya memiliki background penderitaan amat sangat yang menjadikan dirinya tumbuh menjadi sosok super, namun dalam film ini tidak dikisahkan, apa bedanya ia dengan anak-anak jalanan lainnya. Siapa Sancaka sebenarnya? Sancaka yang sudah akrab dengan “petir” sejak kecil, juga tidak jelas, sebenarnya dia memiliki kekuatan super sejak kapan? Sejak kerusuhan pabrik waktu ia kecil, atau saat tersambar ketika ia dewasa? Mungkin akan dijelaskan dalam sekuelnya (jika diproduksi)?

Baca Juga  Ini Kisah Tiga Dara

Lalu bagaimana konsep kekuatan Sancaka? Dalam komiknya, ia digambarkan bisa berlari secepat angin. Dalam filmnya, ia digambarkan bisa mengeluarkan petir dari tangannya dan memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata. Keahlian silat tentu tak kita hitung sebagai kekuatan super. Mungkin saja kekuatan supernya datang secara bertahap. Dalam satu momen klimaks, digambarkan ia mampu menghancurkan obyek tertentu (materi kaca), namun anehnya, banyak obyek yang sama tidak hancur (misal kaca jendela), bagaimana bisa? Penonton milenial yang tidak familiar dengan sosok Gundala tentu akan dibuat bingung jika tak ada penjelasan detil tentang sosok dan konsep super tokoh ini.

Urusan politikus dan wakil rakyat dalam kisahnya terasa berbelit-belit. Mengapa tidak menampilkan cerita yang lebih sederhana? Plot Gundala yang terlalu kompleks rasanya bakal banyak membingungkan penontonnya. Terlalu banyak tokoh yang datang dan pergi dalam perjalanan cerita membuat penonton hilang fokus karena terlalu sibuk mengidentifikasi siapa dan apa perannya. Juga, situasi darurat dan bahaya yang ditimbulkan oleh sosok antagonis tidak terasa nuansa gentingnya. Kita hanya disuguhkan demonstrasi dan penjarahan yang didominasi oleh tayangan di stasiun televisi nasional.

Jika Anda berharap akan menonton film superhero yang serba hingar bingar saling bertarung dengan kekuatan super, film ini jauh dari itu. Drama dan aksi baku hantam tangan kosong (kadang pakai tongkat atau pisau) mendominasi keseluruhan cerita film. Bahkan kekuatan super Gundala juga masih belum terlihat dikuasai benar oleh Sancaka dan ia lebih sering bertarung dengan tangan kosong (pencak silat). Segmen aksinya yang didominasi teknik long take ini malah memperlihatkan kelemahannya. Aksinya terlihat kaku dan terasa sekali para pemainnya hanya menghafal koreografi. Terlebih segmen pertarungan antara Gundala dengan anak buah Pengkor yang terlihat sekali ‘bergantian’ atau ‘menunggu giliran tampil’.

Namun, setting filmnya menjadi poin plus, meski beberapa adegan masih terlihat artifisial Penata artistik sudah cukup berhasil memaksimalkan kinerja mereka dalam membuat satu tatanan kota yang terkesan kumuh dan jauh dari kata ‘makmur’. Terlebih suasana mencekam layaknya film horor pada menit-menit awal cukup memacu adrenalin penonton.

Sisi cerita yang lemah masih menjadi problema tersendiri bagi perfilman kita. Rasanya akan lebih menarik jika kisahnya dibuat lebih sederhana dan mudah diterima oleh semua kalangan. Terlebih, penonton kita sudah terbiasa dimanjakan oleh film-film produksi Hollywood yang sangat mapan dari segi teknis maupun cerita. Juga, membuat satu universe bukan perkara mudah apalagi ketika sineas dituntut untuk menjaga kontinuiti cerita film satu dengan lainnya. Jika sisi cerita masih menjadi masalah dalam film pembukanya, bagaimana nasib film lainnya?

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaReady or Not
Artikel BerikutnyaTwivortiare
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil hobi menonton film dan menulis. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya rubrik film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Ia juga salah satu penyusun dan penulis buku 30 Film Indonesia Terlaris 2002-2018. Kini, ia menjabat sebagai Asisten Divisi Website untuk periode 2019-2020.

2 TANGGAPAN

  1. Hai. Sepertinya Anda perlu menonton ulang film Gundala agar tidak kebingungan begini. Banyak hal-hal tidak penting yang Anda pertanyakan tapi sebenarnya sudah dijelaskan di dalam film. Misal, mengapa kaca jendela tidak pecah? Sebab kaca pada botol kaca itu material khusus yang sudah diakalin sama Ghazul agar bisa melepas segel kepala buntung.

    Jauh hari sebelum menonton film ini, saya sudah haus akan cerita film Indonesia yang kompleks dengan nuansa politik seperti Daredevil vs Kingpin misalnya. Ketika ternyata Gundala mengangkat isu itu rasanya benar-benar memuaskan. Dari segi cerita tersusun rapi dan menurut saya nggak ada yang nggak masuk akal karna sebab-akibat selalu diceritakan.

    Soal koreo berantem bisa jadi kelemahan, tapi melihat Gundala banyak pakai one shoot buat adegan tarung yang panjang rasanya sih malah kelihatan estetik. Hahaha.

  2. Bagi saya ini film sudah cukup memuaskan. Karna gaakan mudah membuat film Universe superhero layaknya marvel dgn cerita yg saling berkaitan. Apalagi dengan budget yg jauh dari film produksi marvel.

    Film ini sejatinya adalah pembuka cerita bagi film2 bumilangit universe yg lain. Maka akan banyak scene2 yg membuat kita penasaran, sehingga menjadi jalan cerita untuk dibahas film2 setelahnya. Contohnya tentang sancaka. Masih sangat samar latar belakang sancaka, bagaimana bisa mendapatkan kekuatannya, siapa sancaka sebenarnya, itu akan dijelaskan dalam sekuelnya Gundala : Putra Petir.

    Karna film Universe seperti ini tak mungkin semuanya dihabiskan dalam satu film, jadi wajar ketika kekuatan sancaka belum sekuat yg kita harapkan. Layaknya Iron man, kekuatannya selalu berkembang di tiap film2 lanjutannya, seperti di Iron man 2, Iron Man 3 dsb.

    Plot twistnya juga bagus2. Banyak scene yg menimbulkan banyak pertanyaan sehingga membuat penasaran untuk mendapatkan jawabannya di film selanjutnya. Overall, bagi saya kurang cocok apabila hanya mendapatkan rating 50.00.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.