K-zombie menyerang lagi! Happiness adalah serial drama thriller populer produksi Korea Selatan yang dirilis ulang oleh Netflix di bulan April ini. Serial produksi tahun lalu ini digarap oleh Ahn Gil-ho dengan sederetan bintang-bintang kenamaan lokal, seperti Han Hyo-joo, Park Hyung-sik, Jo Woo-jin, Lee Jun-hyeok, Moon Ye-won, Park Hee-von, serta Lee Kyu-hyung. Serial ini bertotal 12 episode yang berdurasi rata-rata satu jam. Belum lama, serial zombi All of Us are Dead yang juga dirilis Netflix menjadi trending di mana-mana. Korea Selatan dengan film-film zombi berkualitasnya, kini berubah menjadi kekuatan baru di subgenre ini. Lantas, apakah Happiness memiliki kualitas yang sepadan? Rupanya tidak.

Serial ini memiliki karakteristik zombi unik yang belum pernah ada sebelumnya. Mari kita bicara soal ini dulu. Dikisahkan setelah pandemi COVID-19 berakhir di Korea Selatan, terdapat ancaman virus lebih serius dari efek penggunaan obat penenang bernama NEXT. Walau sudah ditarik dari peredaran, namun obat ini masih diperjualbelikan secara ilegal. Efek obat ini dapat mengubah seseorang untuk beberapa saat menjadi haus darah (terutama jika dipicu darah) namun bisa kembali normal setelahnya. Jadi untuk membedakan secara fisik, seorang penderita atau bukan, amatlah sukar. Virus ini bisa menular ketika seseorang digigit atau terkena cakaran, dan lama kelamaan efek virus ini pun permanen.

Rupanya pemerintah telah tahu hal ini, namun infonya disembunyikan dari publik agar tidak meresahkan. Pihak militer yang dipimpin Letkol Han Tae-seok (Woo-jin) menggunakan area fasilitas bekas kampus untuk menjadi markas mereka serta lokasi karantina. Penderita baru diisolasi di ruang kamar, sementara penderita berat (permanen) diisolasi di kontainer pendingin. Uji lab untuk mencari vaksin pun dilakukan dan sejauh ini belum berbuah hasil. Dari banyaknya jumlah penderita yang ada di fasilitas ini, rasanya hampir mustahil (pada momen ini), penyakit ini belum meluas ke masyarakat. Mereka tentunya adalah para penderita yang secara fisik telah berubah dan menyerang orang lain atau telah tergigit/tergores. Oke, masalah kecil ini kita simpan dulu.

Melalui penuturan plot yang apik, semua hal di atas disajikan melalui sudut pandang dua protagonis utama kita, Yoon Sae-bom (Hyo-jo) dan Jung Yi-hyun (Hyun-sik). Sae-bom adalah anggota “SWAT-tim” anti teroris, sementara Yi-Hyun adalah seorang polisi penyelidik. Berawal dari satu anggota SWAT pengguna NEXT yang berubah menjadi zombi, dalam satu pergulatan, telapak tangan Sae-bom terkena goresan sehingga ia dibawa ke fasilitas karantina. Tidak ada satu shot-pun yang mengindikasi bahwa orang lain melihat luka kecil Sae-bom, lantas bagaimana mereka tahu? Anehnya lagi, rekan Sae-bom yang juga terlibat dalam perkelahian seru (tergores lebih parah) mengapa tidak dikarantina saat itu juga? Gelagat secuil ini rupanya mengawali banyak hal yang tak masuk akal dalam pengembangan cerita berikutnya.

Satu keunikan filmnya adalah skala ceritanya yang semakin menyempit. Investigasi kasus yang luas mengerucut menjadi pertahanan hidup di lingkup satu bangunan apartemen. Menuju ke sana, satu persatu karakter penghuni apartemen diperkenalkan. Anehnya, para penghuni dari bangunan lantai 15 tersebut rupanya hanya ada beberapa gelintir saja dan beberapa karyawan cleaning service. Penikmat film atau serial pun tahu, ini tentu untuk memudahkan pengolahan cerita pada naskahnya. Bisa dibayangkan jika semua penghuni apartemen penuh, seperti apa kisahnya (All of US Dead bisa mengolah ratusan kastingnya dengan baik). Oke, walau janggal, saya bisa tolerir hal ini. Bagi yang sudah menonton, pasti bisa menghitung para penghuninya sendiri, termasuk dua protagonis kita yang pura-pura kawin sehingga mendapat poin untuk bisa tinggal di sini.

Baca Juga  I Think We’re Alone Now

Untuk mengolah ¾ porsi cerita berdurasi lebih dari 12 jam di bangunan apartemen tentu bukan hal mudah. Namun dari sisi ini, filmnya mampu memanfaatkan ruang-ruang setting-nya dengan efektif yang berlokasi di situ-situ saja, sebut saja kamar (tiap penghuni), areal seputar tangga dan elevator, ruang gym, parkir basement, pintu masuk apartemen, dan roof top. Hubungan ruang dengan bangunan apartemen tetangga pun tergambar baik. Ruang geografis setting bangunan tentu penting untuk membangun intensitas ketegangan, walau di film ini kadang “dimensi jarak” seringkali tak jelas, misalnya jarak antara lantai dasar dengan lantai 15 terkadang tidak terlihat jauh. Yah, ini memang bukan masalah besar dalam banyak adegannya.

Pembangunan awal cerita yang bagus, premis menarik, penokohan karakternya yang kuat, serta setting terbatas yang menjanjikan, dalam pengembangan plotnya terganjal satu masalah besar, yakni logika (plot holes). Puluhan lubang plot (sebagian sudah saya sebutkan di atas) tersaji tiap kali hingga pada tingkat yang sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Coba, jika kita pernah disudutkan dalam posisi yang mengancam nyawa kita, apakah kita akan bisa percaya orang tersebut di kemudian hari? Ya tentu tidak. Orang bodoh mana yang mau membiarkan bahkan mendengar opini seseorang yang jelas-jelas pernah berniat membunuh/mencelakai kita? Bodohnya, nyaris semua orang dalam film ini bersikap seperti ini dan ini berulang kali terjadi.

Sejak awal, Seo-boom sudah didorong paksa oleh si dokter masuk ke kamar mandi dan dikancing bersama satu zombi. Mengapa setelahnya, bahkan Seo-bom masih mau berbicara dengan sang dokter. Benar saja, ketika ini dibiarkan, di waktu lain, ia pun mengulangi niat jahatnya, dan gilanya, masih saja dibiarkan setelah tertangkap basah. Ini jelas tak masuk akal. Puluhan kejadian semacam ini terjadi di kisahnya. Ini situasi hidup mati dan zombi ada sekitar mereka, mengapa masih bersikap situasi berjalan normal dan ada niatan saling mencelakai satu sama lain? Jika saya, tentu orang yang berniat jahat sudah saya ikat dan sekap dalam kamar. Sebagai bandingan, All of Us Are Dead tidak pernah sekalipun menyajikan hal semacam ini selain sisi dramatik yang kadang berlebihan.

Dengan premis yang menarik dan segar untuk subgenrenya (zombi), plot Happiness terjebak dalam konflik rutin yang tidak berujung dan jauh dari nalar. Menonton dari episode ke episode dengan pengulangan konflik yang sama sungguh sangat melelahkan. Arah kisahnya sudah mudah terlihat dan solusi di penghujungnya pun sudah tidak lagi bisa dipedulikan. Serial ini tidak mau mengambil resiko cerita dengan membunuh tokoh-tokoh pentingnya. Terasa sekali konfliknya hanya diulur-ulur untuk melengkapi 12 episode. Ini tentu amat disayangkan dengan segala potensi yang dimiliki serial ini. Film bertema zombi memang sering membawa pesan sisi humanis tentang sisi gelap manusia. Di mana zombi sebenarnya bukan masalah utama tetapi adalah sifat egois dan rakus manusia. kebebasan bercerita tentu tidak bisa dibatasi tapi bukan lantas bisa dibuat sekonyol ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaFantastic Beast: The Secrets of Dumbledore
Artikel BerikutnyaChoose or Die
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Setuju banget, padahal menjanjikan, tapi di episode 3, jadi ga masuk akal. Udah ga nerusin lagi sejak episode itu. Lebay.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.