Hellbound merupakan serial fantasi supernatural produksi Korea Selatan yang digarap oleh Yeon Sang-ho yang juga memproduksi film berkualitas Train to Busan. Serial rilisan Netflix ini terdiri dari enam episode yang berdurasi rata-rata 50 menit. Seri ini dibintangi beberapa bintang lokal, Yoo Ah-in, Kim Hyun-joo, Park Jeong-min, Won Jin-ah, serta Yang Ik-june. Serial ini uniknya dirilis perdana di beberapa festival film besar, yakni Toronto International Film Festival 2021, BFI London Film Festival, hingga Busan International Film Festival. Seberapa istimewakah film ini?

Satu peristiwa supernatural terjadi di pusat keramaian kota ketika tiga entiti berwujud monster mengincar dan membakar seorang laki-laki, dan setelahnya menghilang. Satu kota pun geger, dan pihak polisi berusaha menyelidiki peristiwa aneh ini. Detektif Jin (Ik-june) ditugaskan untuk mencari informasi dari pimpinan kelompok The New Truth yang dianggap punya kaitan dengan kejadian ini. Si pemimpin, Jeong Jin-soo (Ah-in) rupanya sudah berulangkali melihat fenomena yang sama dan menganggap para monster tersebut adalah utusan Tuhan yang membawa para korban ke neraka karena dosa-dosa mereka. Pamor Jeong pun melesat naik dan kelompok fanatiknya, Arrow Head, seolah menjadi wakil Tuhan yang berhak menghakimi para pendosa dengan cara-cara anarkis.

Jika kisahnya dijelaskan utuh, maka penjelasannya bisa teramat panjang karena kompleksnya cerita. Kisahnya sendiri terbagi dua segmen yang masing-masing terdapat tiga episode. Segmen kedua berkisah lima tahun setelah kejadian dalam tiga episode pertama. Kisahnya memang tidak terfokus pada sang monster, latar belakang kejadian, atau bicara soal spiritual, namun adalah efek samping dari peristiwa ini. Manusia menjadi lupa diri dan tidak lagi bisa membedakan baik dan benar. Semua ini disajikan secara brilian dengan efektif, khususnya pada tiga episode awal. Walau kisahnya dikemas dalam skala demikian luas dengan banyak karakter, namun alur plotnya tetap mudah untuk diikuti. Segmen kedua, kita justru semakin dibuat penasaran karena adanya kejutan kecil (sang bayi) yang merubah arah plotnya. Amat menarik.

Kita tahu persis, film ini mau bicara apa dan ke mana arahnya, hanya saja, satu poin penting belum dijelaskan sama sekali. Kita pasti ingin tahu asal usul sang monster dan (jika memang utusan Neraka) mengapa harus menampakkan diri secara fisik ke alam manusia dengan cara yang begitu brutal pula. Apakah karena umat manusia sudah demikian bobrok mentalnya sehingga harus dipaksa melihat “kebesaranNya” secara gamblang? Entahlah. Sineas bisa jadi menunda informasi ini untuk kelanjutan serinya. Tapi ini lantas menjadikan pesan filmnya menjadi rancu, terlebih setelah post credit scene-nya.

Baca Juga  Oni: Thunder's God Tale

Kita alihkan dulu bahasan ini ke pencapaian estetiknya. Tidak mudah untuk membuat skala cerita luas dengan masih mampu menjaga intensitas plotnya. Perpindahan adegan demi adegan berjalan mulus dengan beberapa kali sisipan kilas-balik untuk menegaskan informasi. Setting menjadi kunci kekuatan terbesar karena adegannya sering kali berpindah lokasi secara cepat. Musik juga mampu mendukung suasana ketegangan sekaligus menaikkan ritme dan intensitas banyak adegannya. Kastingnya tentu mengambil peran dominan, namun tercatat yang menonjol hanyalah sang detektif dan sang pemimpin The New Truth, Jeong Jin-su. Tercatat pula, dalam satu adegan aksinya (episode 5) menyajikan tata koreografi kamera dengan pergerakan yang begitu mengesankan.

Hellbound merupakan analogi cerdas isu fanatisme aliran kepercayaan yang menjadi salah satu problem terbesar umat manusia, walau banyak hal dalam kisahnya masih menyisakan pertanyaan. Kisahnya memiliki sisi sensitif yang hingga kini masih berlangsung. Cara anarkis melalui contohnya, aksi terorisme, bukan lagi hal baru dengan mengatasnamakan satu aliran kepercayaan. Sudah banyak film menyajikan hal yang sama. Fanatisme kadang membutakan hati manusia. Manusia menghakimi manusia lain dengan begitu gampangnya berbekal doktrin yang mereka yakini. Manusia lupa jika kita diciptakan sama, dan satu nyawa, sama nilainya dengan ribuan nyawa. Hellbound menggambarkan semua ini dengan cerdas dan berkelas. Namun mengapa “Tuhan” membuat skema dengan mengutus malaikat kematiannya langsung turun ke bumi? Ini sama sekali tidak memiliki relasi yang jelas. Adegan post credit scene-nya justru membuat segalanya menjadi tambah membingungkan. Kita tidak mampu hanya sekadar menduga-duga dan beropini liar dalam perkara sensitif macam ini. Hal ini justru mengaburkan pesan filmnya yang sebenarnya sudah terlihat gamblang.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Ledge
Artikel BerikutnyaAll of Us Are Dead
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.