Fourcoulours Films, bekerja sama dengan KlikFilm Productions, baru saja merilis miniseri yang tengah mencuri perhatian media dan banyak pegiat sinema berjudul Hitam. Miniseri arahan Tata Sidharta ini ditulis pula olehnya bersama para penulis lain, seperti Sandi Paputungan, Ninndi Raras, dan Fajar Martha Santosa. Sang director sendiri, tahun lalu telah menyutradarai lima episode (dari total 16) miniseri produksi Fourcoulours Films juga, dengan judul Tunnel. Miniseri bergenre thriller ini dibintangi oleh aktor kawakan Donny Damara, dan para pendatang baru yaitu Aksara Dena, Sara Fajira, Eka Nusa Pertiwi, dan Seteng Yuniawan. Dengan ramainya media memberitakannya, seperti apa sebenarnya miniseri ini?

Kisahnya bermula saat sepulangnya Tika (Sara Fajira) dari London, ia mesti menyaksikan kesibukan ayahnya, Pak Dibyo (Donny Damara) sebagai kepala kelurahan yang hendak merevitalisasi pasar di desa. Beruntung, kejenuhannya ini masih dapat terobati oleh keberadaan sahabatnya, Retno (Eka Nusa Pertiwi) dan kakak angkatnya, Gilang (Aksara Dena). Tetapi meski tak terlalu tampak ada masalah yang cukup berarti untuk dianggap serius, hadirnya sosok Pak Bambang (Seteng Yuniawan) membikin Pak Dibyo agak merasa gelisah. Ditambah lagi dengan munculnya berita orang hilang yang melibatkan Retno. Di samping persoalan pembangunan desa, rupanya ada keganjilan serius yang tengah terjadi tepat di dekat orang-orang itu.

Hitam mengawali miniserinya dengan misteri berupa peristiwa aneh dan ganjil, yang sudah menimbulkan rasa penasaran dalam benak penonton sejak episode pertamanya. Walau yang ramai disoroti oleh pelbagai pihak, baik dari media maupun sineas adalah “adanya suatu wabah virus”, Hitam nyatanya memiliki sejumlah konten sampingan yang juga menarik. Misalnya, konflik kepentingan dalam pembangunan desa. Kendati serangan wabahlah yang tetap menjadi poros dan melibatkan banyak pihak. Bahkan sejak dari episode pertama, beberapa kejadian ganjil sebenarnya sudah mulai tampak saling berkaitan. Ini pun bila mampu mencermati dengan baik, sejumlah clue yang ditunjukkan.

Meski tema wabah virus (apapun bentuk virusnya), acapkali telah digunakan sebagai ide cerita dalam plot utama banyak film di luaran sana, miniseri ini tetap menawarkan gayanya sendiri dengan titik berat yang memaksimalķan konten lokal berlatar Jawa. Lalu seperti yang diduga dan kebanyakan terjadi, kalau sudah berbicara soal konten lokal berupa pembangunan desa –yang mana dalam kasus Hitam ini melibatkan pejabat pengampu desa, besar kemungkinan ada pula bumbu-bumbu aksi penyuapan demi sebuah proyek.

Baca Juga  Galih dan Ratna

Miniseri ini, punya misteri yang saling memunculkan dugaan di sana-sini. Namun sejenak saja misteri tersebut muncul di awal-awal, tak lama kemudian ternyata mulai terjawab dengan penjelasan yang tersusun rapi di episode dua. Memang sulit kiranya untuk membendung penonton yang “aktif”, dengan cakupan misteri yang kecil. Apalagi dengan setting yang hanya dalam lingkup internal satu desa. Sedikit saja ada yang dibuka, satu persatu misteri yang ada pun mulai (tanpa sadar) terjelaskan –atau lebih tepat bila disebut “kebocoran tak terduga”?

Sosok Sara Fajira sendiri, meski sebagai pendatang baru telah menunjukkan potensi yang menjanjikan. Ia pun tak tampak bermasalah saat beradu akting dengan aktor kawakan Donny Damara. Terlebih dalam miniseri ini, dia memerankan dua sosok dengan karakteristik yang jelas-jelas sangat berlainan. Tinggal terus berlatih olah peran saja ke depannya untuk semakin meningkatkan kemampuannya ini. Sedangkan dua tokoh lain yang juga terlibat dengan Donny, Eka Nusa Pertiwi (Retno) dan Aksara Dena (Gilang), masih terlihat menahan diri sambil mencari-cari kenyamanan masing-masing ketika berada dalam satu adegan dengannya.

Orang-orang yang telah menonton Hitam mungkin menganggap wabahnya menyebarkan virus zombie. Namun, rasanya terlalu gegabah bila menyimpulkannya demikian. Pertama, tidak ada (dalam Hitam) yang menyebut virus ini merupakan wabah zombie. Satu-satunya penjelasan paling sederhana yang dibuat oleh tokohnya sendiri adalah “hewan buas”. Sama sekali tidak disebutkan tentang zombie, bahkan dari sumber virusnya sendiri (London) pun tidak menyinggung itu. Kedua, karakteristik salah seorang tokoh setelah terjangkit virus tersebut sama sekali tidak relevan dengan karakteristik sosok zombie, sebagaimana yang umum diketahui selama ini. Lantas apa namanya? Ya, kembali lagi ke penyebutan menurut yang ada dalam miniserinya sendiri saja lebih baik, hewan buas. Karena mau disebut zombie pun tak masuk. Vampir juga bukan. Tidak ada yang cocok.

Hitam, walau tergolong pendek dengan hanya ada empat episode, namun memiliki ending yang seru untuk menuntaskan konflik antartokoh sentralnya. Sebuah miniseri yang –memang patut diakui—dapat menjadi salah satu pilihan yang cukup baik untuk genrenya. Kendati setting-nya hanya sebatas satu desa dengan sedikit menyinggung luar daerah (London), Hitam menunjukkan eksekusi yang lumayan. Walau pada saat yang sama, sempitnya setting juga turut memengaruhi sisi misterinya jadi lebih mudah bocor, karena tak berhasil membendung dugaan dari penonton.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaXtreme
Artikel BerikutnyaMare of Easttown
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.