I Care a Lot (2020)
118 min|Comedy, Crime, Drama|19 Feb 2021
6.4Rating: 6.4 / 10 from 156,766 usersMetascore: 66
A crooked legal guardian who drains the savings of her elderly wards meets her match when a woman she tries to swindle turns out to be more than she first appears.

Kapitalisme merupakan sasaran empuk bagi para pembuat film selama ini. Penguasa atau otoritas yang korup sudah jamak dalam medium film, namun I Care a Lot menyajikan satu perspektif yang menarik dan segar. I Care a Lot adalah film drama thriller yang digarap dan ditulis naskahnya oleh J. Blakeson. Film ini dibintangi sederetan bintang ternama, Rosamund Pike, Peter Dinklage, Elsa Gonzales, Chris Messina, dan aktris kawakan Dianne Weist. Film yang dirilis Netfilx ini mengetengahkan tema segar tentang skandal penipuan dengan sasaran para manula.

Marla (Pike) adalah seorang penipu kelas kakap yang menyasar para manula dengan kedok kesehatan. Bekerja sama dengan petugas kesehatan, usahanya adalah meyakinkan hakim untuk memberi surat legal bahwa mereka tidak lagi mampu mengurus diri sendiri sehingga memberikan kontrol penuh terhadap semua aset milik mereka. Dengan cara ini, Marla mampu menguras seluruh harta kekayaan mereka tanpa resiko hukum apa pun. Suatu ketika, Marla mendapat sasaran empuk seorang perempuan tua kaya yang hanya tinggal seorang diri tanpa sanak keluarga. Rupanya, kali ini Marla salah sasaran yang membuatnya bermasalah dengan seseorang gangster berpengaruh di kota tersebut.

Awalnya, saya pikir ini adalah kisah nyata, ternyata tidak. Naskah yang ditulis begitu brilian mampu mencari celah dari perlindungan “hukum” bagi para manula lalu mengobrak-abrik secara sistematik dan legal untuk memberikan keuntungan bagi para petugas kesehatan, rumah sakit, klinik, rumah panti jompo, produsen obat, hakim, hingga tentu saja sang supervisornya. Film ini bakal terasa memuakkan bagi kita yang menonton karena tak ada lagi nurani dalam diri mereka. Khususnya sang tokoh utama, Marla. Sejak awal, ingin rasanya kita meninju karakter ini karena begitu teganya ia mempermainkan nasib orang-orang tua malang ini. Seolah mudah diprediksi, sosok ini pasti akan mendapat pelajaran besar dari ini semua. Setimpal? Saya tak akan menjawab ini, satu hal yang jelas, kisahnya sungguh di luar dugaan dengan ending mengejutkan yang begitu “indah”.  Ini menjawab semuanya.

Baca Juga  xXx: Return of Xander Cage

Pike dan Dinklage adalah yang menjadi sorot perhatian utama dalam film ini. Pike bermain gemilang sebagai Marla yang bak sosok vampir menghisap darah korbannya hingga tuntas. Ia mampu tampil begitu percaya diri, ambisius sekaligus memuakkan dan menjijikkan. Pokoknya perannya komplit dan memesona. Rasanya peran ini adalah salah satu yang terbaik dari karirnya. Sementara Dinklage mampu bermain dingin dan penuh amarah terpendam sebagai sosok bos gangster yang bengis. Dengan tone gambar yang cerah, film ini kontras dengan kisahnya yang gelap seolah semua berjalan normal (legal). Satu montage menawan disajikan secara efektif untuk menggambarkan secara ringkas dan rinci bagaimana Marla secara bertahap menguras harta korbannya.

I Care a Lot menyajikan perspektif segar skandal penipuan berkedok kesehatan dengan dukungan meyakinkan para kastingnya, khususnya Pike, serta pesan kuat tentang dunia kapitalisme dan segala kegilaannya. Film ini jelas menghibur, namun di balik ini, mampu memberikan wawasan dan kesadaran baru bagi kita yang menonton. Tak bisa dinalar memang, bagaimana satu sistem hukum bisa dibengkokkan sedemikian rupa untuk kepentingan segelintir/penguasa. Faktanya, hal senada walau dalam bentuk yang berbeda sungguh terjadi di sekeliling kita. Ketika kita, sebagai orang kecil sudah tak mampu berbuat banyak terhadap sebuah sistem korup yang sulit untuk dilawan. Apa yang bisa kita perbuat? Film ini tak memberikan banyak opsi, namun yang jelas ending-nya bukanlah cara yang bijaksana.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Map of Tiny Perfect Things
Artikel BerikutnyaBody Brokers
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses