Infinite (2021)
106 min|Action, Sci-Fi, Thriller|10 Jun 2021
5.3Rating: 5.3 / 10 from 12,474 usersMetascore: 28
A man discovers that his hallucinations are actually visions from past lives.

Bermain dengan premis “reinkarnasi” memang bukan perkara baru bagi medium film. Mungkin yang paling ambisius adalah proyek karya Wachowsky Brothers, Cloud Atlas yang plotnya terbagi dari 6 era yang berbeda membentang ribuan tahun. Infinite juga sekilas bermain dengan kilas-balik untuk menyuguhkan segmen masa silamnya, walau secara fisik berbeda tubuh. Konsep ini memang bukan perkara mudah untuk diterapkan dan memang masih menjadi rahasia alam. Infinite menggunakan konsep ini sebagai satu kemampuan khusus yang dimiliki tokoh-tokohnya untuk membaca masa lalunya. Sementara Cloud Atlas berlandaskan kuat filosofi religi timur, Infinite menggunakannya konsep ini, kalau boleh saya bilang, rada kelewatan.

Infinite diadaptasi dari novel berjudul The Reincarnationist Paper. Tak tanggung-tanggung, film ini diarahkan oleh sineas kawakan Antoine Fuqua dengan bintang-bintang besar pula, yakni Mark Walhberg dan Chiwetel Ejiofor. Film ini seharusnya dirilis bulan Agustus tahun lalu yang kini dirilis secara digital oleh platform Paramount + beberapa hari lalu. Bermodal sineas dan pemain bintangnya, Infinite ternyata tidak mampu memberikan sebuah sajian aksi fantasi yang menggigit.

Evan McCauley (Walhberg) tidak menyadari jika ia ternyata memiliki kemampuan khusus yang diistilahkan Infinite, yakni mampu melihat siapa saja dirinya di masa lalu dan memiliki kemampuan fisik mereka. Misal saja, Evan memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni serta mampu membuat pedang yang sama kualitasnya dengan aslinya. Masalah muncul ketika musuh lama Evan, Bathurst (Ejiofor) berusaha mencarinya karena diyakini Evan menyimpan satu artifak kuno ciptaannya yang mampu membuat umat manusia lenyap hingga tak lagi bisa bereinkarnasi.

Baca Juga  The Secret Life of Pets

Ada dua macam infinite menurut plot filmnya; the believers (protagonis) yang percaya kemampuan mereka adalah melindungi dan untuk kebaikan umat manusia; the nihilist (antagonis) yang percaya bahwa kemampuan mereka adalah sebuah kutukan yang harus dihentikan. Dari pernyataan ini saja sudah terasa janggal, bukankah kelompok kedua terlihat lebih bijak? Apakah kelompok pertama tidak pernah berpikir mengapa mereka hingga ribuan kali harus bereinkarnasi terus menerus tanpa henti? Tidak perlu penjelasan konsep religi, namun bagi yang sudah menonton Little Buddha yang diperankan Keanu Reeves pasti sudah mengerti. Sang avatar jika masuk dalam konsep film Infinite adalah seorang antagonis. Oke, memang sah-sah saja menggunakan konsep yang berbeda.

Plot film ini justru bermasalah dengan logika kisahnya, yakni penuh lubang plot. Eksposisi yang terlampau cepat adalah penyebab ini semua. Kisahnya bergerak demikian laju berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan dari satu kilas-balik ke kilas balik lain di masa yang berbeda. Kita tidak tahu persis, kemampuan mereka sebenarnya apa? Kebodohan mungkin salah satunya. Jika sejak awal mereka sudah tahu betul posisi di mana musuh mereka, mengapa tidak sejak awal mereka ke sana? Aksi-aksinya pun nyaris sama tanpa nalarnya. Naskahnya tidak mampu membangun kontinuitas cerita yang cukup untuk bisa dibaca secara koheren.

Bermain dengan konsep reinkarnasi memang menjanjikan, namun Infinite mengolah plotnya absurd tanpa nalar, ditambah lagi membuang talenta para kasting besar dan sineasnya. Bagi sineas sekelas Fuqua yang menggarap film-film berkualitas macam Training Day hingga seri Equalizer, Infinite bisa jadi adalah karya terburuknya. Ranah fiksi ilmiah dan fantasi mungkin bukan genrenya. Bagi sang bintang masih ditunggu filmnya yang mampu mengeksplorasi maksimal kemampuan aktingnya. Walhberg punya potensi itu sejak dulu (The Departed, The Fighter), namun sayangnya ia banyak terjebak dalam film-film box-office.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaF9
Artikel BerikutnyaSkater Girl
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.