Infinite (2021)
106 min|Action, Sci-Fi, Thriller|10 Jun 2021
5.5Rating: 5.5 / 10 from 61,122 usersMetascore: 28
A man discovers that his hallucinations are actually visions from past lives.

Bermain dengan premis “reinkarnasi” memang bukan perkara baru bagi medium film. Mungkin yang paling ambisius adalah proyek karya Wachowsky Brothers, Cloud Atlas yang plotnya terbagi dari 6 era yang berbeda membentang ribuan tahun. Infinite juga sekilas bermain dengan kilas-balik untuk menyuguhkan segmen masa silamnya, walau secara fisik berbeda tubuh. Konsep ini memang bukan perkara mudah untuk diterapkan dan memang masih menjadi rahasia alam. Infinite menggunakan konsep ini sebagai satu kemampuan khusus yang dimiliki tokoh-tokohnya untuk membaca masa lalunya. Sementara Cloud Atlas berlandaskan kuat filosofi religi timur, Infinite menggunakannya konsep ini, kalau boleh saya bilang, rada kelewatan.

Infinite diadaptasi dari novel berjudul The Reincarnationist Paper. Tak tanggung-tanggung, film ini diarahkan oleh sineas kawakan Antoine Fuqua dengan bintang-bintang besar pula, yakni Mark Walhberg dan Chiwetel Ejiofor. Film ini seharusnya dirilis bulan Agustus tahun lalu yang kini dirilis secara digital oleh platform Paramount + beberapa hari lalu. Bermodal sineas dan pemain bintangnya, Infinite ternyata tidak mampu memberikan sebuah sajian aksi fantasi yang menggigit.

Evan McCauley (Walhberg) tidak menyadari jika ia ternyata memiliki kemampuan khusus yang diistilahkan Infinite, yakni mampu melihat siapa saja dirinya di masa lalu dan memiliki kemampuan fisik mereka. Misal saja, Evan memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni serta mampu membuat pedang yang sama kualitasnya dengan aslinya. Masalah muncul ketika musuh lama Evan, Bathurst (Ejiofor) berusaha mencarinya karena diyakini Evan menyimpan satu artifak kuno ciptaannya yang mampu membuat umat manusia lenyap hingga tak lagi bisa bereinkarnasi.

Baca Juga  Us

Ada dua macam infinite menurut plot filmnya; the believers (protagonis) yang percaya kemampuan mereka adalah melindungi dan untuk kebaikan umat manusia; the nihilist (antagonis) yang percaya bahwa kemampuan mereka adalah sebuah kutukan yang harus dihentikan. Dari pernyataan ini saja sudah terasa janggal, bukankah kelompok kedua terlihat lebih bijak? Apakah kelompok pertama tidak pernah berpikir mengapa mereka hingga ribuan kali harus bereinkarnasi terus menerus tanpa henti? Tidak perlu penjelasan konsep religi, namun bagi yang sudah menonton Little Buddha yang diperankan Keanu Reeves pasti sudah mengerti. Sang avatar jika masuk dalam konsep film Infinite adalah seorang antagonis. Oke, memang sah-sah saja menggunakan konsep yang berbeda.

Plot film ini justru bermasalah dengan logika kisahnya, yakni penuh lubang plot. Eksposisi yang terlampau cepat adalah penyebab ini semua. Kisahnya bergerak demikian laju berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan dari satu kilas-balik ke kilas balik lain di masa yang berbeda. Kita tidak tahu persis, kemampuan mereka sebenarnya apa? Kebodohan mungkin salah satunya. Jika sejak awal mereka sudah tahu betul posisi di mana musuh mereka, mengapa tidak sejak awal mereka ke sana? Aksi-aksinya pun nyaris sama tanpa nalarnya. Naskahnya tidak mampu membangun kontinuitas cerita yang cukup untuk bisa dibaca secara koheren.

Bermain dengan konsep reinkarnasi memang menjanjikan, namun Infinite mengolah plotnya absurd tanpa nalar, ditambah lagi membuang talenta para kasting besar dan sineasnya. Bagi sineas sekelas Fuqua yang menggarap film-film berkualitas macam Training Day hingga seri Equalizer, Infinite bisa jadi adalah karya terburuknya. Ranah fiksi ilmiah dan fantasi mungkin bukan genrenya. Bagi sang bintang masih ditunggu filmnya yang mampu mengeksplorasi maksimal kemampuan aktingnya. Walhberg punya potensi itu sejak dulu (The Departed, The Fighter), namun sayangnya ia banyak terjebak dalam film-film box-office.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaF9
Artikel BerikutnyaSkater Girl
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.