Insight (2021)
80 min|Crime, Sci-Fi, Thriller|12 Mar 2021
4.5Rating: 4.5 / 10 from 778 usersMetascore: N/A
Jian, a martial artist who possesses clairvoyance, investigates the death of his brother with the help of LA Detective Abby. Together, they seek justice while fighting against a high-tech criminal.

Para penikmat film tentu masih ingat nama Livi Zheng yang tren beberapa tahun lalu. Namanya begitu heboh karena ketika itu sensasi yang digemborkan adalah film arahannya Brush with Danger (2014), “masuk seleksi” Academy Awards. Di salah satu stasiun televisi, sineas kelahiran Jawa Timur ini pun “dihakimi” para pelaku dan pengamat industri film kita. Saya tertawa geli melihatnya, apakah semua orang yang ada di sana sudah melihat filmnya? Mestinya sudah. Siapa pun penikmat film sejati, tahu persis, ada di level mana filmnya. Untuk apa membuang energi untuk ini, biarkan saja karya sang sineas yang berbicara. Bicara pantas atau tidak, sang sineas untuk dibenci dan dipuja, kita tilik saja film terbarunya, Insight. Mudahnya begini, pencapaian film ini kurang lebih sama dengan film sebelumnya.

Insight kembali diarahkan oleh Livi bersama adiknya, Ken Zheng. Sang kakak masih berada di kursi sutradara dan produser, sementara sang adik menjadi penulis naskah dan bermain dalam filmnya. Bedanya, kini film ini dibintangi beberapa nama yang (pernah) familiar di dunia film, antara lain Tony Todd, John Savage, Sean Patrick Flannery, Keith David, dan Medeline Zima. Film aksi ini dirilis oleh beberapa platform beberapa hari yang lalu, salah satunya Prime video.

Saya tak mau berlama-lama menulis ringkasan cerita film ini karena memang tak perlu. Cukup hanya beberapa adegan di awal saja sudah mewakili keseluruhan filmnya. Cuma durasi 10 menit saja, kamu dapat dengan mudah menemukan puluhan lubang plot dalam naskahnya. Bayangkan satu film penuh, berapa banyak lubang plot yang bisa terhitung? Penulis naskah tampak kurang jeli dalam menulis detil naskahnya sehingga banyak hal yang tidak nalar tersaji begitu saja.

Baca Juga  Emancipation

Beberapa adegan dan shot yang tak perlu juga sering kali muncul dan ini juga sangat terkait dengan aspek editing. Satu contoh kecil saja, untuk mengolah adegan kilas balik, apa harus mengulang shot atau adegan yang sama berulang kali? Pembuat film tampak sekali seperti masih pada level amatir dalam mengolah banyak adegannya. Para pemain yang sebenarnya punya talenta karena pengalaman mereka menjadi terbuang percuma. Lalu adegan aksinya? Duh, tak perlu komentar deh.

Teknis amatir dan cacat naskah di segala lini, Insight adalah satu contoh film B-Movies buruk dengan memajang nama-nama familiar yang kini telah terlupakan. Satu hal janggal yang sepertinya baru kali ini saya lihat pada film mainstream produksi Hollywood ada pada ending credit-nya. Baru kali ini saya melihat pada credit, nama satu kru penting ditulis hingga beberapa kali. Misal, untuk menulis nama sutradara mengapa tidak ditulis sekaligus jika memang ada dua orang. Yang lucunya lagi, nama editor bahkan harus ditulis 3 kali. Oke, memang tidak ada aturan baku soal penulisan ini, hanya tidak biasa saja. Namun, satu kesalahan memalukan adalah typo atau salah tulis jabatan seorang kru. Satu hal ini saja sudah menunjukkan jika pembuat film terkesan tidak serius. Insight adalah satu contoh film buruk yang ideal yang bisa dijadikan studi kasus betapa buruk naskah, dialog, editing, serta pengadeganan disajikan dalam sebuah medium film.

Stay safe and Healthy.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaCome True
Artikel BerikutnyaThe Block Island Sound
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.