It Chapter Two (2019)
169 min|Drama, Fantasy, Horror|06 Sep 2019
6.8Rating: 6.8 / 10 from 106,507 usersMetascore: 58
Twenty-seven years after their first encounter with the terrifying Pennywise, the Losers Club have grown up and moved away, until a devastating phone call brings them back.

Rasanya tak ada siapa pun dulu yang menyangka, jika It bakal meraih sukses global sebesar US$ 700 juta dengan bujet hanya USD 35 juta saja. Bermodal bujet dua kali lipat, kini sekuelnya diproduksi dengan masih diarahkan oleh Andy Muschietti. Tak hanya itu, filmnya kini juga dibintangi aktor-aktris papan atas, sebut saja James McAvoy, Jessica Chastain, Bill Hader, serta kembali aktor Bill Skarsgard bermain sebagai sang badut Pennywise. Uniknya, semua pemain cilik di seri pertamanya kembali bemain dalam film ini sekalipun hanya muncul dalam segmen kilas balik. Lantas, apakah adaptasi novel populer Stephen King ini juga bisa sukses komersial dan kritik seri pertamanya?

Dua puluh tujuh tahun berselang, kota kecil Derry kembali diteror sang badut, Pennywise yang kembali memakan korban anak-anak. Anggota The Losers Club, Bill, Beverly, Ben, Richie, Stanley, Eddie, dan Mike, kini sudah beranjak dewasa dan diantaranya bahkan telah menjadi orang sukses. Kini, hanya Mike seorang yang masih tinggal di Derry. Mike memanggil mereka semua untuk sekali lagi menghadapi sang badut iblis yang kini kembali mengincar nyawa mereka.

Terlalu lama dan membosankan. Ini kesan pertama yang didapat dari plot filmnya. Formula plotnya nyaris mengulang seri pertamanya dengan adegan-adegan horor yang repetitif. Konflik, alur plot, segmen klimaks nyaris sama dengan seri pertama. Nyaris tak ada kejutan apa pun. Satu-satunya yang membuat film ini terasa menarik adalah segmen kilas-baliknya yang dominan disajikan sepanjang kisahnya. Dialog dan konflik orang dewasa tak lantas membuat film ini juga lebih menarik dari segmen masa lalu mereka. Kasting aktor-aktris papan atas nyatanya juga tak banyak membantu mengangkat filmnya.

Baca Juga  Crimson Peaks

Bujet yang lebih mapan tentu berujung pada sisi teknik yang lebih mapan pula, khususnya dari sisi setting. Namun, tak lantas membuat adegannya, khususnya segmen horornya bisa lebih baik. Persis seperti seri pertama yang bernuansa absurd (sureal), segmen horornya juga terasa repetitif. Melelahkan, karena trik horornya terasa usang dan mudah terbaca dengan banyak menggunakan efek CGI yang tentu sudah tak lagi menyeramkan untuk genrenya di masa sekarang. Kadang yang menarik justru adalah karena segmen horornya menyisipkan tribute film horor lainnya, misal saja Shinning.

It Chapter 2 menggunakan formula plot nyaris sama dengan seri pertamanya, namun kini terlalu panjang, membosankan, plus sentuhan horor yang tak menggigit dengan penggunaan CGI yang sudah lazim. Energi dan kehangatan seri pertamanya, kini telah hilang, dan ironisnya justru tertolong segmen kilas-baliknya. Mengutip satu adegan rada konyol dalam film ini, jika ada pilihan pintu untuk menonton chapter pertama dan chapter kedua, saya jelas akan memilih pintu pertama.

Silahkan klik It Chapter One untuk membaca ulasan seri pertamanya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaPerkara Moralitas dan lain-lain dalam Gundala (2019), Sebuah Telaah dengan Spoiler
Artikel BerikutnyaKapal Goyang Kapten
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.