Janin (2019) adalah film horor produksi PAW Pictures yang disutradarai Ook Budiyanto dan dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris yang ternama, seperti Jill Gladys, Reuben Elishama Hadju, Meriam Bellina, dan juga Babe Cabita. Film ini merupakan debut sutradara Ook Budiyanto, dan dibantu oleh penulis naskah Evelyn Afflina, yang sebelumnya juga telah menulis naskah beberapa film horor, seperti  Surat Dari Kematian (2020), Keluarga Tak Kasat Mata (2017), serta Roh Fasik (2019).

Janin bercerita tentang sepasang suami Istri, Randu (Reuben Elishama Hadju) dan Dinar (Jill Gladys) yang tengah diliputi kebahagiaan karena sang Istri, Dinar tengah mengandung calon anak pertama mereka. Kemudian datanglah tetangga baru mereka, Ibu Sukma (Meriam Bellina) yang menunjukkan sikap aneh ketika berinteraksi dengan Dinar. Dari hari ke hari, Dinar mulai mengalami gangguan hal-hal aneh di rumahnya yang seiring berjalannya waktu semakin mengkhawatirkan dan membahayakan keselamatan Dinar dan janinnya.

Meski naskahnya, ditulis Evelyn Afflina yang juga merupakan penulis Surat Dari Kematian (2020), kami tak menemukan adanya persamaan jika dilihat dari kualitas cerita. Surat Dari Kematian terstruktur dan variasi ceritanya menarik sementara Janin tidak maksimal dalam mengembangkan cerita. Padahal akar cerita dalam film ini bisa berpotensi untuk dikembangkan menjadi satu cerita menarik dan berbeda. Pada beberapa bagian, dialog yang digunakan terasa kurang natural. Contohnya adalah interaksi antara Dinar dengan beberapa tokoh, seperti Susan dan Ibu Sukma. Dialog yang dihadirkan, sama sekali tak membentuk chemistry antar tokoh dan terasa kaku.

Pengenalan karakter telah dibawakan dengan baik, meski cara mengenalkan karakternya terlampau lama tetapi akting yang baik dari para pemerannya membuat hal ini tak menjadi masalah. Akting bagus ditunjukkan Sukma yang diperankan oleh Meriam Bellina. Ia berhasil menjalankan fungsi karakternya bagi cerita yang ada. Kehadirannya mampu menghadirkan tanda tanya serta kecurigaan dan membuat penonton terus berspekulasi selama kisahnya  berlangsung. Sementara justru sosok hantu yang terdapat dalam kisahnya tak cukup memberikan nuansa horor dikarenakan akting, adegan, dan juga make up yang kurang memadai.

Baca Juga  Ekskul dan Ilustrasi Musik Gladiator

Aspek suara yang menghentak masih menjadi senjata utama filmnya dalam menakuti penonton. Namun, banyak terdapat jumpscare muncul tanpa alasan yang jelas. Penggunaannya yang berlebihan juga membuat jumpscare malah justru mengganggu. Gambar dan warna sebenarnya sudah baik meski tidak cukup mampu untuk mendukung unsur audio dalam menciptakan nuansa horormya. Beberapa kali juga efek visual yang digunakan masih terasa kurang. walau tak terlalu menjadi masalah.

Secara keseluruhan, cerita dalam film ini sebenarnya menarik akan tetapi dikarenakan pengembangan cerita yang kurang membuat kisahnya tidak maksimal. Nuansa horor justru banyak terbentuk oleh unsur suara akan tetapi tidak didukung oleh unsur lain, seperti tone gambar dan tata cahaya. Sosok hantu yang seharusnya menjadi instrumen utama dalam menciptakan nuansa horor juga tidak cukup kuat disajikan.

Kevin Sulistyo dan Afrizal Kurniawan

Mahasiswa Magang

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel Sebelumnya1917
Artikel BerikutnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Journey to the Darkness
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.