Jumanji: The Next Level (2019)
114 min|Action, Adventure, Comedy, Fantasy|13 Dec 2019
Rating: Metascore: N/A
The gang is back but the game has changed. As they return to Jumanji to rescue one of their own, they discover that nothing is as they expect. The players will have to brave parts unknown ...

Jumanji: The Next Level adalah sekuel dari Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) yang sukses besar di pasaran dengan nyaris mendekati USD 1 miliar. Tak mau melewatkan momen, film ketiga dari seri Jumanji ini masih digarap sutradara yang sama, Jake Kasdan dengan bintang-bintang reguler sebelumnya, yakni Dwayne Johnson, Karen Gillan, jake Black, Kevin Hart, serta Nick Jonas. Kali ini didukung pula 2 aktor gaek, Danny DeVito dan Danny Glover. Dengan menggunakan formula yang sama, sekuelnya ini, rasa-rasanya bakal kembali sukses di pasaran.

Beberapa tahun setelah peristiwa sebelumnya, Spencer kini mengalami krisis kepercayaan diri ketika tiga rekannya menikmati hidup mereka sementara ia kuliah di New York dengan hidup pas-pasan. Saat liburan dan kembali ke rumahnya, Spencer melakukan hal yang amat konyol dengan kembali masuk ke permainan Jumanji. Tiga rekannya, Martha, Spencer, dan Bethany mencoba masuk untuk menolong Spencer, namun kali ini segalanya tidak sesuai rencana ketika kakek Spencer, Eddie dan rekannya, Milo justru secara tak sengaja masuk ke dunia Jumanji.

Dengan formula kisah yang sama seperti sebelumnya, dijamin film ini bakal menghibur penonton. Konsep avatar (pemain game) yang kini diubah sosok karakter pemainnya menjadikan sekuelnya terasa lebih segar sekalipun masih merasuki sosok-sosok yang sama (Bravestone, Ruby, Prof. Sheldon, dan Finbar). Karakter avatar ini seolah seperti berubah “jiwa”-nya karena dimainkan pemain yang berbeda. Walau bukan pekerjaan sulit bagi para pemainnya (Johnson, Hart, Black, dan Gillan), namun perpindahan gaya bicara dan gesture-nya sungguh sangat menyenangkan untuk dilihat. Sosok “The Rock” kembali seolah bukan sosok Dwayne Johnson yang biasa kita lihat di film-filmnya. Ini satu hal mengapa film ini begitu menghibur dan tidak membosankan, sekalipun hanya adegan dialog antar mereka.

Baca Juga  How to Train Your Dragon: The Hidden World

Bicara aksi, dari trailer-nya sudah terlihat aksi-aksinya yang heboh dan berlebihan. Jujur saja, saya sudah meremehkan banyak adegan aksinya sejak awal. Belum lagi terlalu banyak efek visual dan lainnya. Namun, ternyata saya salah besar. Adegan di padang pasir dengan burung unta dan di jembatan bersama ribuan monyet ternyata bisa sangat menghibur. Memang bukan aksinya semata, namun lagi-lagi adalah polah para karakternya dan sisi humornya yang membuat adegan ini begitu menghibur. Coba saja cermati satu adegan kecil ketika mereka melompat jurang dengan mobil (jamak dalam genre aksi dan Johnson pun rasanya sudah melakukan ini ratusan kali dalam filmnya), konyol memang, namun formula avatar memang ampuh untuk menyegarkan sisi humor dan aksinya. Adegan aksi sederhana ini bisa terasa sangat berbeda. Hal ini terasa sekali sejak awal hingga pertengahan filmnya.

Satu hal kecil yang membuat menonton film ini terasa melelahkan adalah tempo plotnya yang melambat pada pertengahan durasi. Semuanya menjadi terasa serba formal untuk segera menuntaskan cerita yang memang sejak awal bisa kita tebak arahnya. Hal ini semakin terlihat di babak klimaks. Sekalipun aksi begitu hebat tetap saja tak bisa menghilangkan rasa kantuk. Saya tak lagi merasakan adanya misteri, ketegangan, dan ancaman. Nol. Semua pasti akan baik-baik saja. Hanya sedikit kejutan di-ending film, yang tentu untuk merespon sekuelnya jika film ini sukses komersial.

Seperti sebelumnya, Jumanji: The Next Level adalah sekuel yang sangat menghibur melalui kombinasi aksi dan humor, serta polah para karakternya, terkecuali babak klimaksnya yang terasa hanya sebagai formalitas. Andai film ini mampu menjaga intensitas ketegangan sejak awal, tentu hasilnya akan berbeda. Sekuelnya kelak, rasanya merujuk konsep cerita seri pertama Jumanji. Sepertinya bakal menyenangkan. Dengan formulanya, dua seri Jumanji ini setidaknya telah mencoba sesuatu yang berbeda dibandingkan film-film box-office lazimnya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel Sebelumnya21 Bridges
Artikel BerikutnyaDarah Daging
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.