Banyak cara dapat dilakukan agar mampu bertahan hidup di sebuah pulau kosong dan terpencil. Tapi bagaimana jika melakukan hal tersebut bersama sekelompok kriminal amatiran? Kapal Goyang Kapten merupakan film pertama yang diproduksi oleh Megapilar Pictures. Film ini diarahkan oleh Raymond Handaya yang telah cukup dikenal malang-melintang di industri perfilman sebagai produser. Naskah filmnya ditulis oleh dua orang standup komedian, Muhadkly Acho dan Andi Awwe Wijaya. Sejumlah kasting yang bermain dalam film bergenre komedi drama ini, meliputi Yuki Kato, Asri Welas, Roy Marten, Mathias Muchus; serta sederet standup komedian, Ge Pamungkas, Babe Cabita, dan Mamat Alkatiri.

Alkisah sekelompok turis terdiri dari 9 orang (Tiara, keluarga Burhan, pasangan suami-istri yang tengah berbulan madu, serta tiga orang mahasiswa) serta sang kapten kapal (Gomgom), dibajak oleh tiga orang amatiran (Daniel, Cakka, dan Bertus) di perairan Maluku. Sayangnya, pembajakan tersebut harus terusik, karena mereka semua malah terdampar di sebuah pulau kosong dan terpencil. Musibah ini terpaksa mempertemukan mereka dengan masalah-masalah baru karena minimnya pengetahuan bertahan hidup di alam liar. Sementara Tiara terus menyusun siasat-siasat untuk kabur dari ketiga pembajak tersebut.

Kapal Goyang Kapten mengalihkan perhatian dari peran genre komedi yang biasanya dimanfaatkan hanya sebagai sampingan atau jeda untuk memecah ketegangan, menjadi genre utama yang berdiri utuh. Sisi drama harus cukup puas menempati bangku cadangan dalam film ini. Mayoritas bentuk implementasi dari unsur drama justru dimanfaatkan untuk memperpanjang alur cerita. Tidak lupa, sang sineas pun menyematkan kisah roman sebagai bumbu penyegar. Tak lain supaya wajah film ini dapat lebih terasa segar, tidak hanya melulu berisi candaan semata. Dari segi alur penceritaan, Kapal Goyang Kapten berkisah secara maju-mundur pada awalnya. Hanya sebatas agar penonton mengetahui latar belakang dari sejumlah peristiwa yang terjadi di kemudian waktu.

Kendati terbilang gemilang, Kapal Goyang Kapten tak lepas dari kelemahannya. Salah satunya tensi kedalaman drama yang kurang terasa personal bagi sejumlah karakternya (Daniel, Tiara, Cakka, dan Pak Sentot). Yang terasa cukup kuat di bawah sisi komedi, hanyalah segmen romannya. Itu pun baru ada menjelang segmen akhir filmnya. Sisi komedi dalam film ini memiliki kekuatan yang demikian besar, berkat dukungan dari materi-materi jokes yang solid dan kerja sama dengan para kastingnya. Hal ini, turut dipengaruhi oleh latar belakang sebagian besar kastingnya sebagai komedian, maupun bintang kawakan komedi. Dua penulisnya yang juga komedian standup juga memberi kontribusi besar pada sisi humor naskahnya.

Baca Juga  Interchange

Gambar-gambar dalam Kapal Goyang Kapten pun didukung pula oleh pengambilan yang apik. Montage dalam film ini cukup memuaskan dalam membangun sudut-sudut keindahan dari kepulauan serta perairan setempat. Sayangnya, tak banyak bentuk ciri khas yang cukup menjelaskan setting lokasi yang digunakan (Kepulauan Maluku). Film ini senantiasa sekadar mengarahkan penonton awam agar semata-mata mengikuti sisi komedinya, tanpa merasa perlu menjelaskan dengan baik setting lokasinya.

Walau apa yang telah dicapai oleh film ini terhadap eksplorasi alam dari lokasi yang digunakan sudah bisa dikatakan cukup baik. Namun, Kapal Goyang Kapten semestinya bisa mengeksplor daya tarik dari aspek tersebut lebih dalam, dengan memecah shot-shot-nya menjadi lebih variatif. Fakta ini tidak lepas dari bagaimana pengemasan sebuah film komedi itu sendiri. Dengan banyak unsur serba tiba-tibanya yang muncul begitu saja. Kapal Goyang Kapten sebenarnya masih mampu bereksplorasi lebih jauh, alih-alih telah merasa cukup puas dengan pencapaian materi-materi komedi dan kerja sama yang solid antar kastingnya.

Kapal Goyang Kapten pun menutup ceritanya secara biasa, sewajarnya sebuah kisah yang tidak ingin mengecewakan penontonnya. Hanya saja, opsi ending yang diambil oleh para tokohnya tidak banyak diarahkan oleh sang sineas. Penonton harus meraba-raba pilihan apa yang akan diambil oleh para tokohnya. Walhasil, tindakan ini berdampak pada akhir cerita yang tidak jelas akan ditutup di mana. Sang sineas sendiri seperti kebingungan untuk menyusun akhir dari cerita film ini. Dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan untuk menyertakan plot twist, kejutan, serta masih ada serangkaian materi komedi yang belum tersampaikan dan berpotensi untuk “kembali” menguras derai tawa dari penonton.

Miftachul Arifin

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.