Duo aktor dan aktris yang telah beberapa kali tampil di layar lebar maupun digital bekerja sama untuk menciptakan satu karya, Kukira Kau Rumah. Diproduseri oleh Prilly Latuconsina dengan Umay Shahab sebagai sutradara dan salah satu penulisnya. Mereka pun dibantu oleh Monty Tiwa dalam meracik skenario film ini, bersama seorang penulis baru, Imam Salimy. Film drama roman psikologis dan keluarga berbumbu musik ini diisi pula lagunya oleh Amigdala dengan karya berjudul sama. Melalui produksi MD Pictures dan Sinemaku Pictures, para pemeran dalam film ini antara lain Prilly Latuconsina, Shenina Cinnamon, Raim Laode, Jourdy Pranata, Unique Priscilla, dan Kiki Narendra. Melihat nama-nama yang terlibat dan kepopuleran lagunya, sejauh mana film debut kedua sineas tersebut menunjukkan kualitasnya?

Niskala atau Kala (Prilly), Dinda (Shenina), dan Oktavianus (Raim Laode) adalah sahabat sejak kecil. Dinda dan Okta bahkan sampai dipercaya oleh ayah (Kiki Narendra) dan ibu (Unique Priscilla) Kala agar menjaga baik-baik putri mereka itu. Kala sendiri merupakan sosok mahasiswi dengan segudang ketidakstabilan emosi. Kemarahannya kerap meluap-luap dalam banyak kondisi, begitu pula semangat dan kegembiraannya. Lalu Dinda dan Okta harus senantiasa menjaga sahabat mereka itu setiap kali ia berinteraksi dengan orang lain, termasuk di ruang perkuliahan. Situasi semacam ini lantas terus berlangsung, sampai Kala mulai berhubungan dengan senior di kampusnya, Pram (Jourdy). Semenjak itu, perubahan demi perubahan pun mulai terjadi pada Niskala.

Isunya sendiri penting terutama bagi siapapun yang memiliki teman dekat seorang berkelainan psikologis. Kukira Kau Rumah dapat memberitahumu bagaimana harus menyikapi orang tersebut, cara men-treatment, dan bagaimana memosisikan diri ketika berada di sampingnya serta terhadap setiap perilakunya. Tampaknya dari sang produser, Prilly, dan Umay sebagai sutradaranya memiliki perhatian yang sejalan dalam melihat isu ini. Peletakan diri Prilly sendiri sebagai sang tokoh utama yang membawakan peran seorang berkelainan psikologis adalah salah satu buktinya. Penempatan tokoh-tokoh orang tua Niskala yang overprotektif juga senada dengan kondisi nyata di luar layar. Meski ada pula yang bersikap sebaliknya dan mengabaikan anak mereka sendiri.

Perihal akting dari para pemeran Kukika Kau Rumah, sekali lagi Prilly telah membuktikan kepiawaiannya. Kita bahkan takkan jarang ikut larut berempati terhadap kondisinya. Sejak kemunculan pertamanya di segmen-segmen awal, kita sudah langsung bisa menebak bahwa ada yang tidak beres dengan karakteristiknya. Ada yang janggal dan berbeda dari cara-caranya berperilaku. Penata rias dalam film ini punya andil besar bagaimanapun juga, untuk memperlihatkan itu. Dan seiring berlalunya waktu hingga konflik-konflik kian meninggi, terbukalah fakta kondisi sesungguhnya sang tokoh utama.

Ada pula sosok-sosok seperti Dinda dan Okta, lalu Pram, serta kedua orang tua Niskala. Selain memang karena olah peran masing-masing, Umay pun memberi perhatian yang besar dalam mengarahkan mereka. Terutama Dinda, yang tak lama lalu populer membawakan perannya dalam Penyalin Cahaya.

Kukira Kau Rumah tampaknya akan menjadi film yang berjalanan beriringan dengan lagu karya Amigdala yang berjudul sama. Lagunya sendiri telah terlebih dulu ada sejak Oktober 2017. Dan setelah film ini rilis, dapat dipastikan lagunya akan semakin populer lagi. Hal yang dialami pula oleh Bebas.

Meski demikian, Kukira Kau Rumah nyatanya tak sekadar menjadi film dengan lagu populer belaka. Bagus, film ini tak berakhir seperti Generasi 90-an: Melankolia dengan lagu Sephia-nya. Para sineas Kukira Kau Rumah paham betul peletakan yang tepat bagi lagu tersebut untuk mengoptimalkan kebutuhan dramatik cerita. Dan mengisi bagian-bagian lain dalam cerita dengan ide-ide mereka. Dalam kasus film ini, kelainan psikologis dan lingkungan di sekitarnyalah yang menjadi ide tersebut. Kendati boleh jadi memunculkan anggapan, bahwa segala sesuatu yang dibangun sejak dari awal hanyalah semacam set up demi memunculkan lagu tersebut.

Baca Juga  A Man Called Ahok

Beralih pada pembicaraan ihwal sinematik (selain perkara akting dan lagu), tak banyak yang kekuatannya cukup besar untuk bisa mencuri perhatian. Bagaimana lagi, dominasi Prilly dan lagu dari Amigdala ternyata terlalu besar untuk bisa diimbangi oleh aspek-aspek filmis lain. Hanya pergerakan kamera yang kerap kali tidak stabil, pengolahan warna, dan perubahan cahaya di beberapa titik peristiwa yang bisa dibilang cukup kentara untuk diidentifikasi. Sisanya benar-benar tertutup oleh olah peran para pemain, serta lagu-lagu lain di samping Kukira Kau Rumah.

Kerja sama Prilly dengan Umay serta keterlibatan Monty Tiwa nyatanya berbuah manis lewat film mereka ini. Baik film secara keseluruhan, pengarahan yang dilakukan Umay, maupun penceritaan yang dibantu dalam penulisannya oleh Monty Tiwa. Walau masih ada beberapa bagian dalam naskah yang menunjukkan celah. Salah satu yang tampaknya sukar dihindari oleh penulis film ini adalah mengantisipasi tebakan-tebakan dari penonton. Beberapa bagian tersebut masih dapat terbaca akan disambung oleh adegan apa selanjutnya. Ada pula kemungkinan-kemungkinan reaksi dari tokoh-tokoh terdekat yang juga terbaca.

Kukira Kau Rumah menjadi salah satu film dengan isu yang penting dalam beberapa bulan belakangan. Namun bukan hanya semata-mata bersandar pada isu tersebut, sang sineas pun sebisa mungkin memaksimalkan aspek-aspek lain. Paling tidak, baik Prilly, Umay, maupun Mony Tiwa tidak pasrah pada naskah yang seadanya dan mengandalkan sinematik belaka. Mereka godog penceritaan Kukira Kau Rumah dengan kerja sama yang baik. Isu dan akting memang patut diakui menjadi pilar terkuat dari film ini. Tanpa nilai penting dari isu dan totalitas pemeran tokoh utama, sangat mungkin bagi Kukira Kau Rumah sekadar menjadi film yang mengangkat sebuah lagu terkenal belaka.

PENILAIAN KAMI
Overall
85 %
Artikel SebelumnyaThe Tinder Swindler
Artikel BerikutnyaHome Team
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.