Last Night in Soho (2021)
116 min|Drama, Horror, Mystery|29 Oct 2021
7.3Rating: 7.3 / 10 from 1,275 usersMetascore: 67
An aspiring fashion designer is mysteriously able to enter the 1960s where she encounters a dazzling wannabe singer. But the glamour is not all it appears to be and the dreams of the past start to crack and splinter into something da

Last Night in Soho adalah film misteri horor produksi Inggris garapan sineas kawakan Edgar Wright. Edgar adalah orang dibalik film-film komedi aksi bergaya unik, macam Shaun of the Dead, Hot Fuzz, hingga Baby Driver. Film ini dibintangi Anya Taylor-Joy, Thomasin Hartcourt McKenzie, Matt Smith, Terence Stamp, serta Diana Rigg. Film ini premiere pertama kali di 78th Venice International Film Festival dan kini telah dirilis publik. Dengan genre yang berbeda kali ini, mampukah film ini sejajar dengan karya-karya terbaik sang sineas?

Ellie (McKenzie) adalah seorang gadis muda desa yang bermimpi menjadi seorang penata kostum. Untuk meraih mimpinya ia akhirnya mengambil studi di sekolah desain di kota London. Tabrakan budaya pun tak terhindarkan, Ellie yang tak akrab dengan gaya anak muda kota akhirnya memilih tinggal sendiri di satu apartemen tua di tengah kota. Ternyata, Ellie memiliki kemampuan metafisik, dan ia pun terkoneksi dengan roh yang pernah tinggal di rumah tersebut. Ellie pun dibawa ke masa lalu yang membuatnya terhanyut di antara studinya. Tak disadarinya pula, petualangannya ini membawa ke satu kejadian tragis yang pernah terjadi di sana.

Gaya sang sineas memang sudah menjadi favorit sejak Shaun of the Dead dan Hot Fuzz. Gayanya semakin mengental dalam Baby Driver melalui editing cepatnya, montage, sinematografi dinamis hingga penggunaan musik dan lagu. Dalam Soho, Edgar masih menyajikan editing dan sinematografi yang dinamis dengan dominasi lagu dan musik nyaris sepanjang film. Satu hal yang berbeda dengan sebelumnya adalah sisi artistik, yakni dengan dominasi setting masa lalu “dunia malam” Kota London yang disajikan amat mengesankan melalui sentuhan filmnoir. Satu contoh sempurna gaya sang sineas plus tata artistiknya, tersaji dalam kilas-balik pertama Ellie berperan sebagai Sandie. Perpaduan menawan sisi mise_en_scene, sinematografi, editing, serta trik cermin, hingga musik dan lagunya menjadikan ini adalah segmen terbaik filmnya, bahkan salah satu yang terbaik di genrenya.

Baca Juga  7500

Pencapaian estetik yang menawan ini sayangnya tidak diimbangi dengan pengembangan cerita yang menggigit. Dengan premis yang begitu menjanjikan, sang sineas tak mampu mengolah tone naskahnya sehingga mampu menjaga ritme sisi misteri adegan demi adegan. Babak kedua, terasa sekali terlalu panjang, dengan beberapa statement yang mestinya bisa diungkap tanpa harus menyajikan hal yang tak penting, dan tak sulit untuk diantisipasi. Hal ini yang membuat beberapa momen terlihat melelahkan karena penonton yang jeli tentu tak akan tertipu dengan trik kecil yang disajikan. Terlalu naif jika Ellie menuduh seseorang seperti yang ia pikir tanpa argumen yang kuat. Twist pun tak lagi mengejutkan, terlebih jika kamu benar-benar jeli.

Dengan menonjolkan sisi mise_en_scene kuat, editing serta musik dengan sentuhan khas sang sineas, Last Night in Soho tidak mampu mengolah keunikan premis sehingga lebih menggigit serta arah cerita yang tak sulit diantisipasi. Beberapa logika cerita pun terasa mengganjal walau rasanya tak perlu diungkap di sini. Namun tak dipungkiri, selain gaya enerjik sang sineas yang masih menjadi andalannya, Soho juga tercatat mampu mengeksplorasi genre horor supernatural dengan pendekatan yang segar. Edgar Wright memang sineas bertalenta tinggi yang menanti momen untuk menjadi salah satu sineas terbaik yang pernah ada, walau Soho masih bukan jawabnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaLamb
Artikel BerikutnyaFinch
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.