Tema penculikan sudah terlalu jamak dalam medium film. Kini dengan bermodal bintang laga Gerard Butler, apa lagi yang ingin ditawarkan? Last Seen Alive adalah film aksi thriller arahan sineas yang belum banyak dikenal, Brian Goodman. Film rilisan platform Amazon Prime ini juga dibintangi Jaimie Alexander, Marc Frydman, dan Alan Siegel.

Will (Butler) dan Lisa (Alexander) diambang perpisahan hubungan perkawinan mereka. Lisa meminta waktu untuk menenangkan pikiran di rumah orang tuanya di wilayah kota pinggiran. Sesaat sebelum sampai di tujuan, Will harus mengisi bensin mobilnya. Lisa yang keluar hanya untuk membeli air minum di minimarket, setelahnya tidak lagi terlihat. Will mulai cemas ketika ia tidak menemukan istrinya. Ia pun menghubungi polisi yang ia anggap telat untuk merespon. Ketika ia mendapat satu petunjuk kecil tentang istrinya, Will pun segera bertindak dengan caranya sendiri.

Plot seperti di atas sudah digunakan dalam puluhan film, termasuk diantaranya seri Taken, Ransom (1996), Breakdown (1997), hingga film Korea Unstoppable. Breakdown yang dibintangi bintang laga Kurt Russel bisa jadi adalah yang paling mendekati alur plotnya dengan pencapaian tergolong lumayan. Berjarak 25 tahun, namun dua film ini terhitung jauh jika dibandingkan secara kualitas. Ibarat Last Seen Alive bak film independen dengan kualitas teknis yang seadanya. Dalam Last Seen Alive pun, tercatat banyak kejanggalan plot yang terlalu mudah untuk diungkap. Jika ini memang satu plot penculikan yang terencana rapi, mengapa sang penculik begitu bodoh melakukan aksinya di tempat keramaian? Satu lagi, jika komplotan penculik sudah mapan dengan “bisnis”nya, untuk apa mencari masalah baru yang beresiko dengan bisnis mereka?

Buruk bukan tak ada kelebihan. Sosok sang aktor laga Gerard Butler (dari sedikit aktor laga generasinya yang kini masih eksis) sedikit mengangkat performa filmnya karena penampilannya yang ekspresif (seperti biasanya). Akting Butler pun nyaris serupa dengan penampilannya di film bencana Greenland (2020) melalui ekspresinya yang khas. Butler di sini memang terlihat lebih manusiawi ketimbang Liam Neeson yang dingin dan tenang dalam seri Taken. Satu lagi pembeda adalah latar subplot hubungan pernikahan Will dan Lisa yang menjadi “isu pengabur” dari plot utamanya yang terlihat meyakinkan.

Baca Juga  Storks

Last Seen Alive adalah bukan lagi hal baru untuk teritorial genrenya, hanya penampilan sang bintang sedikit menjadi pembeda. Gerald Butler bisa jadi memang belum terlalu tua untuk genre aksi, layaknya Liam Neeson, namun ia mesti lebih harus berhati-hati memilih naskah. Film ini jelas bukan yang terburuk dan terbaik di subgenrenya. Jika ingin menonton film dengan sensasi sama dengan kualitas yang lebih baik, coba tonton Breakdown atau Unstoppable.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaInterceptor
Artikel BerikutnyaNgeri-Ngeri Sedap
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.