Love Wedding Repeat (2020)
100 min|Comedy, Romance|10 Apr 2020
5.6Rating: 5.6 / 10 from 22,524 usersMetascore: 41
While trying to make his sister's wedding day go smoothly, Jack finds himself juggling an angry ex-girlfriend, an uninvited guest with a secret, a misplaced sleep sedative, and the girl who got away in alternate versions of the sa...

Setelah seri Happy Death Day, formula loop plot (plot berulang) jarang lagi digunakan dalam film populer. Kini, Love Wedding Repeat mencoba menggunakan formula ini dengan cara yang sedikit berbeda. Film ini diarahkan oleh sineas debutan asal Inggris Dean Craig, yang sebelumnya banyak menulis serial televisi. Love Wedding Repeat dibintangi beberapa pemain Inggris, seperti Sam Claffin, Eleanor Tomlinson, Joel Fry, serta beberapa bintang ternama, seperti Olivia Munn dan Freida Pinto.

Alur kisahnya mengambil satu momen saja, yakni pernikahan Hayley (Tomlinson) di Roma yang didampingi kakaknya, Jack (Claffin), sang pendamping Bryan (Fry), serta dihadiri mantan Jack, Amanda (Pinto), serta gadis taksiran Jack, Dina (Munn). Kehadiran Amanda dan Dina yang diundang sang adik membuat situasi tak diduga oleh Jack, belum lagi kehadiran tamu tak diundang, Marc yang mencintai Hayley sejak kecil, membuat segala situasi pernikahan menjadi kacau.

Oke, kita bicara formula loop plot-nya terlebih dulu. Formula ini dipopulerkan oleh film komedi romantis Groundhog Day yang selanjutnya diikuti beberapa film yang menggunakan formula sama dengan motif yang beragam. Formula ini lazimnya digunakan dalam cerita untuk motif/alasan yang kuat, misal adanya campur tangan “Tuhan” (Groundhog Day), teknologi canggih (Happy Death Day 2), atau bisa saja kemampuan untuk memutar waktu seperti yang dilakukan Doctor Strange atau alien induk dalam Edge of Tomorrow.

Dalam Love Wedding Repeat, motifnya boleh dikatakan adalah penulis naskahnya sendiri. Tujuannya ingin menyampaikan pesan tentang bagaimana satu kesempatan kecil bisa merubah segalanya. Semua karakternya boleh dibilang hanya bertindak sebagai pion. Narator (Voice of God) mendampingi sepanjang cerita, khususnya dalam satu momen, “siapa sosok yang meminum obat tidur di meja makan”. Jadi, kisah film ini hanyalah variasi alternatif cerita berdasarkan momen tersebut. Ada 8 orang di meja tersebut jadi ada 8 alternatif cerita. Uniknya, film ini hanya menyajikan 2 alternatif cerita utuh, yakni yang terburuk dan terbaik. Enam sisanya, menggunakan montage yang disajikan mengesankan. Untuk penggunaan formula loop plot, tentunya ini adalah sebuah pencapaian yang segar.

Baca Juga  Lilo & Stitch | REVIEW

Satu hal paling mengganjal adalah kisahnya yang kadang aksinya berlebihan dan sangat memaksa. Bukankah wajar jika dalam komedi, aksinya berlebihan atau logika sedikit longgar? Ya benar, namun dalam film ini seringkali aksi dan polah karakternya sama sekali di luar nalar. Satu poin besar yang menjadi masalah adalah penggunaan obat tidur. Ini amat absurd! Jack dan Hayley tinggal meminta sekuriti mengusir orang tersebut jelas selesai sudah. Apa yang mau diharapkan dengan memberi obat tidur di situasi pesta formal macam itu? Ini bukan pesta anak muda, bung. Semua pergerakan alternatif cerita, berawal dari momen ini. Tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk melakukan ini?   

Love Wedding Repeat boleh dibilang segar formula loop plot-nya, hanya saja dikecewakan naskah yang lemah serta sisi komedi yang kadang berlebihan. Jika mau dibandingkan film lain yang menggunakan formula loop plot, rasanya film ini adalah salah satu yang terburuk. Pesan yang besar, namun jika tak didukung oleh eksekusi ide dan konsep yang bagus pula maka semua tak akan maksimal. Hanya satu blunder kecil, melemahkan filmnya. Menggelikan, melihat bagaimana pembuat film mengabaikan pesan filmnya sendiri. Terlepas dari formula dan kelemahan di atas, Love Wedding Repeat adalah film komedi romantis yang menghibur dengan tokoh-tokohnya yang unik. Ideal untuk tontonan di masa-masa seperti sekarang.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Last Full Measures
Artikel BerikutnyaTigertail
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses