Love Wedding Repeat (2020)
100 min|Comedy, Romance|10 Apr 2020
5.6Rating: 5.6 / 10 from 21,945 usersMetascore: 41
While trying to make his sister's wedding day go smoothly, Jack finds himself juggling an angry ex-girlfriend, an uninvited guest with a secret, a misplaced sleep sedative, and the girl who got away in alternate versions of the sa...

Setelah seri Happy Death Day, formula loop plot (plot berulang) jarang lagi digunakan dalam film populer. Kini, Love Wedding Repeat mencoba menggunakan formula ini dengan cara yang sedikit berbeda. Film ini diarahkan oleh sineas debutan asal Inggris Dean Craig, yang sebelumnya banyak menulis serial televisi. Love Wedding Repeat dibintangi beberapa pemain Inggris, seperti Sam Claffin, Eleanor Tomlinson, Joel Fry, serta beberapa bintang ternama, seperti Olivia Munn dan Freida Pinto.

Alur kisahnya mengambil satu momen saja, yakni pernikahan Hayley (Tomlinson) di Roma yang didampingi kakaknya, Jack (Claffin), sang pendamping Bryan (Fry), serta dihadiri mantan Jack, Amanda (Pinto), serta gadis taksiran Jack, Dina (Munn). Kehadiran Amanda dan Dina yang diundang sang adik membuat situasi tak diduga oleh Jack, belum lagi kehadiran tamu tak diundang, Marc yang mencintai Hayley sejak kecil, membuat segala situasi pernikahan menjadi kacau.

Oke, kita bicara formula loop plot-nya terlebih dulu. Formula ini dipopulerkan oleh film komedi romantis Groundhog Day yang selanjutnya diikuti beberapa film yang menggunakan formula sama dengan motif yang beragam. Formula ini lazimnya digunakan dalam cerita untuk motif/alasan yang kuat, misal adanya campur tangan “Tuhan” (Groundhog Day), teknologi canggih (Happy Death Day 2), atau bisa saja kemampuan untuk memutar waktu seperti yang dilakukan Doctor Strange atau alien induk dalam Edge of Tomorrow.

Dalam Love Wedding Repeat, motifnya boleh dikatakan adalah penulis naskahnya sendiri. Tujuannya ingin menyampaikan pesan tentang bagaimana satu kesempatan kecil bisa merubah segalanya. Semua karakternya boleh dibilang hanya bertindak sebagai pion. Narator (Voice of God) mendampingi sepanjang cerita, khususnya dalam satu momen, “siapa sosok yang meminum obat tidur di meja makan”. Jadi, kisah film ini hanyalah variasi alternatif cerita berdasarkan momen tersebut. Ada 8 orang di meja tersebut jadi ada 8 alternatif cerita. Uniknya, film ini hanya menyajikan 2 alternatif cerita utuh, yakni yang terburuk dan terbaik. Enam sisanya, menggunakan montage yang disajikan mengesankan. Untuk penggunaan formula loop plot, tentunya ini adalah sebuah pencapaian yang segar.

Baca Juga  The Map of Tiny Perfect Things

Satu hal paling mengganjal adalah kisahnya yang kadang aksinya berlebihan dan sangat memaksa. Bukankah wajar jika dalam komedi, aksinya berlebihan atau logika sedikit longgar? Ya benar, namun dalam film ini seringkali aksi dan polah karakternya sama sekali di luar nalar. Satu poin besar yang menjadi masalah adalah penggunaan obat tidur. Ini amat absurd! Jack dan Hayley tinggal meminta sekuriti mengusir orang tersebut jelas selesai sudah. Apa yang mau diharapkan dengan memberi obat tidur di situasi pesta formal macam itu? Ini bukan pesta anak muda, bung. Semua pergerakan alternatif cerita, berawal dari momen ini. Tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk melakukan ini?   

Love Wedding Repeat boleh dibilang segar formula loop plot-nya, hanya saja dikecewakan naskah yang lemah serta sisi komedi yang kadang berlebihan. Jika mau dibandingkan film lain yang menggunakan formula loop plot, rasanya film ini adalah salah satu yang terburuk. Pesan yang besar, namun jika tak didukung oleh eksekusi ide dan konsep yang bagus pula maka semua tak akan maksimal. Hanya satu blunder kecil, melemahkan filmnya. Menggelikan, melihat bagaimana pembuat film mengabaikan pesan filmnya sendiri. Terlepas dari formula dan kelemahan di atas, Love Wedding Repeat adalah film komedi romantis yang menghibur dengan tokoh-tokohnya yang unik. Ideal untuk tontonan di masa-masa seperti sekarang.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Last Full Measures
Artikel BerikutnyaTigertail
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.