Film horor ini terinspirasi dari film pendek berjudul sama karya Reza Pahlevi, mahasiswa Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta. Konon, film pendek ini telah mendapatkan banyak mendapatkan apresiasi di banyak ajang festival dan booming ditonton 17 juta orang di media Youtube. Film versi bioskopnya, disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Sang sineas sebelumnya, kita kenal dengan film-film drama dan romannya, seperti Heart Beat (2015), Super Didi (2016), dan Mars Met Venus Part Cew dan Cow (2017). Ini kali kedua sang sineas memproduksi film bhoror, yangsebelumnya ia memproduksi film horor berjudul Jaga Pocong (2018). Dalam filmnya ini, bermain aktris Titi Kamal, bersama aktris pendatang baru, seperti Tissa Biani, Adila Fitri, serta Bianca Hello. Turut bermain pula, aktris senior Jajang C. Noer. Animo dari masyarakat tampak tinggi, di salah satu bioskop di Jogja sewaktu saya menonton, seiisi bioskop terlihat penuh dan antusias. Bisa jadi karena faktor cerita yang diangkat dari filmmaker asal Jogja serta promo yang gencar.

Filmnya bercerita tentang sebuah asrama putri “Citra”. Di asrama ini, tinggal tiga siswi putri, yakni Nurul (Tissa Biani), Nisa (Adila Fitri), dan Putri (Bianca Hello). Mereka tak bisa pulang kampung halaman di masa libur lantaran nilai rata-rata mereka yang kurang. Sedangkan Putri, memang tak ingin pulang. Di salah satu kamar, Putri sering kesurupan dan membuat Nurul dan Nisa sangat panik karena mereka satu kamar. Tak hanya itu, mereka juga sering merasa ada sesosok makhluk yang menteror mereka ketika menjalankan ibadah sholat. Sampai-sampai mereka juluki hantu makmum. Ibu Asrama mereka yang galak, seolah tak mau tahu kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka. Suatu ketika, datanglah Rini (Titi Kamal) ke asrama tersebut, dan kejadian aneh pun semakin menjadi.

Film ini terbilang segar karena menawarkan sebuah tema baru, yakni tentang pengalaman spiritual dan mistis mengenai ibadah sholat. Sang sineas, pada dua film horor arahannya ini, tampak mencari sesuatu yang beda. Jaga Pocong pun dari sisi plotnya terbilang unik. Sudah banyak cerita, banyak orang mengakui adanya pengalaman mistis ketika mereka menjalankan sholat, seperti mendengar suara-suara yang mengikuti sewaktu melafalkan lantunan sholat. Namun sayangnya, kisah filmnya sendiri kurang menggambarkan fenomena ini. Seperti film horor kebanyakan, “mitos hantu makmum” hanya semata menjadi background (tempelan) dengan plot cerita masalah personal sosok hantunya semata sehingga  fenomena menjadi terkaburkan.

Baca Juga  Denias versus “Goliath”

Bicara pengemasan, sang sineas memang suka bermain dalam lokasi yang terbatas dan kali ini berlatar asrama putri. Adegan-adegan yang dibangun terbilang intens. Durasi waktu cerita terbilang cepat. Sejak kedatangan Rini, teror terasa makin intens. Terdapat beberapa adegan yang sama persis dengan film pendeknya, seperti ketika adegan Sholat Tahajud. Sama hal dengan film pendeknya, film ini mencoba menunjukkan kejutan bagi penonton melalui trik jump scare, yang faktanya memang mampu membuat seluruh penonton menjerit kaget. Efek suara juga mendukung dalam membangun unsur ketegangannya. Satu adegan terbilang berkualitas, terlihat ketika Rini memasuki salah kamar di asrama tersebut, dan mendapati kejutan di sana. Adegan ini nyaris sama dengan film pendeknya.

Namun, beberapa adegan aksi horornya tampak mengganggu karena respon yang telat. Seolah untuk mengulur ketegangan, namun justru terasa janggal. Contoh saja ketika adegan horor Nisa di kamar mandi, Nurul dan Putri tak bergegas datang padahal hanya ruang sebelahnya. Sosok Rini yang dimainkan Titi Kamal terasa kurang pas, mengingat Titi lebih sering berakting dalam film komedi dan berkarakter ceria. Latar belakang Rini yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata pun tak cukup terjelaskan sehingga agak janggal, sejak kapan ia bisa memiliki kemampuan demikian. Terlepas dari kekurangannya, film ini bisa menjadi model adaptasi film pendek ke panjang. Semoga ke depan, banyak film pendek berkualitas kita, bisa diangkat ke layar lebar.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Divine Fury
Artikel BerikutnyaBumi Manusia
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.