Mariposa

0
1086

Saat sepasang laki-laki dan perempuan beda karakter bertemu di satu lingkungan sekolah, besar kemungkinan timbul relasi lebih dari sekadar pertemanan, dengan segala macam kesempatan untuk saling berdekatan. Adalah garis besar cerita adaptasi dari wattpad karya Luluk H.F. yang diarahkan oleh Fajar Bustomi dengan skenario yang ditulis oleh Alim Sudio dalam film Mariposa. Film drama roman remaja produksi Falcon Pictures dan StarVision Plus ini diperankan oleh Angga Yunanda, Adhisty Zara, Dannia Salsabila, Ersa Mayori, Syakir Daulay, Ariyo Wahab, dan Iszur Muchtar. Melihat genre drama roman yang telah jadi makanan sang sutradara selama ini dan catatan karya-karya dari sang penulis, apakah adaptasi ini akan berbeda dengan film-film sejenis (terlepas dari aspek cerita yang sudah pasti roman remaja picisan)?

Iqbal Guanna (Angga Yunanda) dituntut agar menjadi seorang manusia dengan otak paling sempurna dalam segala bidang oleh ayahnya (Ariyo Wahab). Tekanan ini pun memengaruhi caranya bergaul terhadap teman-teman perempuannya, termasuk Acha (Adhisty Zara), seorang perempuan yang sangat menyukainya. Segala bentuk cara Acha untuk mendapatkan perhatian dari Iqbal selalu berbuah pahit, sekalipun keduanya berada dalam satu tim olimpiade sains. Namun, meski respons pahit selalu didapat oleh Acha, ia tidak pernah menyerah. Bahkan masukan dan saran dari sahabatnya, Amanda (Dannia Salsabila) tak berdampak pada upaya Acha, hingga tiba satu-dua momen yang mengombang-ambingkan prinsip dan pendirian mereka semua.

Hal pertama yang paling kentara dari film ini adalah penggunaan dua warna yang kontras, saling mewakili sisi maskulin dan feminin, juga saling memisahkan diri satu sama lain. Dualisme warna ini bahkan saling menunjukkan keeksisannya secara bergiliran dengan cara masing-masing. Contoh pertama yakni pada judul film, lalu adegan di kolam renang, kemudian rumah, dan masih banyak lagi. Pengalaman menonton Mariposa dengan kontras warnanya mengingatkan pada Abracadabra, walau berbeda segmen. Kendati telah banyak contoh eksplorasi sinematik diaplikasikan dalam film ini, sebetulnya masih ada banyak momen yang bisa dimaksimalkan dari aspek sinematiknya. Terutama sinematografi dan editing, keduanya berpotensi mengimbangi kekuatan artistik (warna) sehingga mampu mengeksplorasi simbol-simbol lain dengan lebih baik.

Memang benar bahwa kisah Mariposa terbilang picisan atau pasaran, bahkan banyak titik ketidakmasukakalan. Namun, rasanya film ini masih bisa dianggap lebih baik dalam aspek sinematik di antara jajarannya, mengingat betapa gamblang penerapan warna kontras sebagai simbol-simbol tertentu yang mendominasi nyaris seluruh unsur di sepanjang film. Film-film sejenis dalam kelompok ini belum ada yang seberani ini. Banyak contoh terlalu fokus pada dialog dan momen atau adegan picisan sarat gombalan yang sangat bisa ditebak ke mana arahnya.

Baca Juga  Silam

Namun, meski aspek naratifnya sangat mudah ditebak ke mana arah dan berakhirnya, Mariposa masih punya daya saingnya sendiri melalui pemilihan para pemeran dengan kualitas yang sudah terbukti. Seperti pemeran Acha (Zara) yang mampu memisahkan dengan baik karakteristiknya di film ini dengan sosok Dara yang telah kadung dikenal luas oleh penonton Dua Garis Biru melekat kepadanya. Walhasil, penonton dapat menikmati perbedaan di antara dua sosok tersebut, bak dua orang yang memang saling berlainan.

Mariposa sendiri berarti kupu-kupu. Kendati merupakan adaptasi, tapi film ini memiliki kesamaan dengan film Jerman berjudul sama yang rilis pada tahun 2015. Selain judul, kesamaan di antara keduanya meliputi konsep warna, relasi laki-laki dan perempuan, dan tentu saja kaitannya dengan kupu-kupu. Bedanya, Mariposa 2015 lebih liar, eksploratif, dan imajinatif. Sementara Mariposa 2020 hanyalah roman remaja picisan dengan daya khayal tinggi khas cerita-cerita yang diadaptasi dari platform wattpad. Film-film sejenis dengan judul sama yang lebih mengekspos makhluk di balik “Mariposa” sendiri lebih banyak lagi.

Mariposa dengan dialog yang tidak ada habisnya, tidak memiliki daya tawar lain kecuali hanya pada aspek artistik dan kualitas akting salah seorang pemerannya. Padahal film adalah perkara visual juga, bukan cerita belaka. Isinya tidak hanya melulu kata-kata, tapi juga tanda-tanda. Kalau saja tidak ada kedua aspek tadi yang menolong, film ini nyaris bernasib sama seperti trilogi Dilan yang hanya menjual kata-kata. Walaupun upaya film ini memang patut diacungi jempol, karena lebih baik ketimbang film-film adaptasi novel wattpad lain. Kalau tanpa pertolongan dari kualitas akting para pemeran dan eksplorasi aspek sinematik, Mariposa pasti berujung sama seperti Dignitate, Senior, MeloDylan, Matt & Mou, atau After Met You.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaBloodshot
Artikel BerikutnyaPandemik Virus Corona, Industri Film Lumpuh.
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.