Mengisahkan seorang calon jemaah haji yang menjadi korban penipuan sebuah agen travel, Jeihan Angga, lebih dikenal sebagai sutradara film pendek komedi, kini didapuk untuk mengarahkan film Mekah I’m Coming. Sebagaimana film dengan ciri khas yang begitu kental sesuai identitas pembuatnya, Jeihan pun mengisi posisi sebagai penulis skenario film yang diproduseri oleh Hanung Bramantyo ini. Film bergenre komedi drama produksi Dapur Film dan MD Pictures ini diperankan oleh Rizky Nazar, Michelle Ziudith, Ephy Sekuriti, Totos Rasiti, Dwi Sasono, Cici Tegal, serta masih sempat dibintangi oleh aktris senior Ria Irawan (sebelum meninggal pada Januari lalu). Sebagai karya layar lebar pertama yang diarahkan dan ditulis sendiri olehnya, bagaimana capaian debut sutradara baru ini dalam Mekah I’m Coming?

Hidup di lingkungan masyarakat pedesaan menjadi dilema tersendiri bagi Eddy (Rizky Nazar) untuk membuktikan kesungguhannya kepada Eni (Michelle Ziudith). Laki-laki ini telah dikenal luas di kalangan masyarakat desa sebagai sosok yang tidak bisa diandalkan, sering menyusahkan, dan tidak berkompeten. Lambat-laun, relasi antara dia dengan Eni pun mengantarkannya pada tuntutan orang-orang dari segala penjuru termasuk ibunya (Ria Irawan) dan Ayah Eni (Totos Rasiti). Eddy bertekad untuk menuruti seluruh kemauan mereka. Nahas, Eddy justru menjadi korban penipuan agen travel haji abal-abal, padahal ia telah mengorbankan banyak uangnya. Harga diri, kebanggaan, dan rasa percaya dirinya seketika jatuh. Ia bahkan malu pulang ke desa hingga menyebabkan serangkaian masalah baru bagi orang-orang terdekatnya di desa.

Perihal sisi komedi, Mekah I’m Coming masih kalah solid dengan Kapal Goyang Kapten. Walau dari sisi drama, naratif, dan teknis editing lebih baik. Mekah I’m Coming ‘menghujani’ penonton dengan pengalaman melihat pemotongan gambar tiba-tiba, nyaris di sepanjang film. Tampaknya, eksplorasi editing ditambah efek-efek suara yang menyertainya semacam telah menjadi formula tersendiri untuk menunjang kelucuan film komedi. Walhasil, ini pun jamak digunakan dalam hampir setiap film komedi beberapa tahun ke belakang ini, seperti Warkop DKI Reborn, #moveonaja, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Hit & Run.

Satu sisi, perlakuan istimewa terhadap aspek editing untuk memaksimalkan pencapaian film komedi tidak bisa begitu saja dikatakan keliru. Toh memang patut diakui kadangkala ini berhasil. Namun, tentunya cara ini bukanlah satu-satunya solusi, kendati telah jamak dilakukan oleh para sineas komedi. Di sisi lain, film komedi era sekarang akan sangat sulit bila hanya menggunakan satu formula pamungkas dan menjadikannya semacam kartu As atau andalan. Alih-alih memukau, tindakan ini justru akan menjerumuskan film ke dalam jurang “solusi instan”. Dapat diingat bersama, sederet film drama komedi lima tahun ke belakang karya Ernest Prakasa lebih cenderung memanfaatkan aspek lain dengan tujuan akhir yang sama, yakni meraih satu pengalaman lucu tanpa mengganggu aspek naratif pada sisi dramanya.

Baca Juga  Virgin, Film Remaja yang Bukan untuk Remaja

Bicara soal para pemeran dalam Mekah I’m Coming, sebagian besar memang merupakan tokoh-tokoh komedi, baik lawas maupun baru. Termasuk standup komedian, pelawak senior, dan para aktor komedi. Satu-dua di antara mereka merupakan rekan lama sang sutradara semenjak masih meniti karir mengarahkan film-film pendek sebagai tugas kampus. Melalui film layar lebar pertamanya ini, tampaknya Jeihan Angga ingin mengawali karir di ekosistem perfilman komersial sebagai sutradara film komedi, sebagaimana film-film pendeknya.

Namun, kendati terbilang genre komedi telah menjadi makanannya, Mekah I’m Coming masih tak jauh berbeda dengan film komedi biasa. Semata-mata menunjukkan aksi kocak dan tingkah lucu dengan dialog khas masyarakat lokal Jawa Tengah-an. Kalau saja tidak mendapat pertolongan dari peristiwa yang telah umum diketahui oleh khalayak awam yakni agen travel haji abal-abal, film ini boleh jadi hanyalah sekumpulan lawakan belaka. Meski demikian, Mekah I’m Coming bisa dikatakan menghibur. Namun, hanya sebatas itu. Satu hal lagi yang khas dalam sebuah film komedi adalah plesetan nama para tokohnya. Strategi ini pernah dilakukan dalam film Terlalu Tampan.

Mekah I’m Coming turut mengisi bangku dalam deretan film bergenre komedi kelas tengah. Sang sutradara sekaligus penulis dalam film ini masih perlu lebih banyak melakukan eksplorasi dan belajar dari para sineas komedi senior, meliputi standup komedian, penulis komedi, pelawak, hingga aktor komedi. Bisa dibilang, genre komedi sama seperti aksi. Keduanya sama-sama tidak bisa dibuat sekadar lucu atau berisi kontak fisik belaka, jika ingin mendapat apresiasi yang lebih dari sekadar tawa.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel Sebelumnya#TemanTapiMenikah2
Artikel BerikutnyaAku Tahu Kapan Kamu Mati
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.