Metal Lords adalah film drama remaja arahan Peter Sollet. Uniknya, naskahnya diadaptasi lepas dari kisah nyata sang penulis D.B Weiss yang kita tahu juga menulis serial populer Game of Thrones. Film ini dibintangi Jaeden Martell, Andrian Greensmith, dan Isis Hainsworth. Film ini dirilis platform Netflix minggu lalu. Film remaja bertema musik terhitung jarang, terlebih untuk musik bergenre “heavy metal” mungkin ini adalah yang pertama sejak School of Rock (2003) dua dekade silam.

Kevin (Martell) bersahabat dengan Hunter (Greensmith) yang mengenalkannya pada dunia musik metal dan mereka memiliki band, Skullfucker. Berambisi untuk mengikuti Battle of the Band, mereka mencari solusi untuk merekrut pemain bas. Sementara Kevin tertarik pada gadis aneh di sekolahnya, Emily (Hainsworth), si pemain cello. Kevin memikirkan untuk merekrut Emily, namun ditolak mentah-mentah oleh Hunter. Dalam perkembangan, Hunter yang selalu membuat ulah berbuah keretakan hubungannya dengan Kevin. Persahabatan mereka pun di uji hingga ke level terendah.

Bagi penikmat musik metal bisa jadi ini bukan tontonan yang ideal. Kisahnya justru ingin mengajak penonton muda milineal untuk menyukai musik metal dengan segala filosofi dan pengetahuan dasarnya. Apakah berhasil? Ya. Metal Lords adalah sebuah tontonan yang asyik dan menghibur. Bagi penyuka musik Metallica dan Guns N’ Roses seperti saya, film ini mampu melepas kerinduan akan film-film bertema ini. Di luar dugaan, berjalannya plot justru banyak kejutan cerita dan sisi estetik yang mengesankan.

Dari sisi cerita, tidak hanya menampilkan tokoh-tokoh utamanya yang unik dan aneh, namun memiliki kedalaman kisah yang cukup untuk menyisipkan nilai edukasi untuk remaja. Ini tentu tidak bisa dicapai tanpa naskah solid dan para kastingnya yang bermain mengesankan. Segala masalah dan konflik masing-masing karakternya, berakhir penuh gemuruh di segmen klimaksnya. Semua terbayar sudah di sini.

Baca Juga  Men in Black 3

Martell, bermain sebagai Kevin adalah sosok normal yang menjadi pijakan penonton, tidak hanya kisahnya namun juga pembelajaran musik metal. Lalu Hunter adalah sosok eksentrik yang roh hidupnya adalah “metal”, egosentrik, dan mau melakukan apa pun tanpa kompromi demi musik metal, yang dimainkan menggemaskan oleh Greensmith. Sementara sosok Emily diperankan begitu ekspresif oleh Hainsworth yang mampu membuat kejutan cerita di klimaks. Di luar kastingnya, selain aspek musiknya yang dominan, satu segmen montage yang terbilang istimewa ditampilkan menyajikan perjalanan ketiganya untuk berlatih menuju battle of the band.

Metal Lords adalah kombinasi unik untuk genrenya melalui filosofi “metal-nya” dengan passion, humor, dunia remaja dengan segala hormonnya, persahabatan, dan di atas segalanya kecintaan terhadap musik. Musik metal yang identik dengan kekerasan, brutalitas, dan bahkan aliran sesat, mampu ditepis cerdas oleh Metal Lords. Ketika ego berbicara dan mau menangnya sendiri maka saat itu pula kamu akan jatuh, seperti dialog sang mentor pada Hunter. Metal adalah sebuah ekspresi kebebasan yang bertanggung jawab dan mau terbuka dengan hal baru. Kevin, Emily, dan khususnya Hunter, belajar ini semua melalui pengalaman pahit mereka.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaI Need You Baby
Artikel BerikutnyaA Business Proposal
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.