Moonfall (2022)
130 min|Action, Adventure, Sci-Fi|04 Feb 2022
5.1Rating: 5.1 / 10 from 100,605 usersMetascore: 41
A mysterious force knocks the moon from its orbit and sends it hurtling on a collision course toward earth.

Moonfall adalah film sci-fi bencana arahan sineas spesialis bencana, Roland Emmerich. Berbekal bujet 140 juta USD, film ini dibintangi Patrick Wilson, Halle Berry, Michael Pena, John Bradley, serta Donald Sutherland. Sang sineas, kita tahu telah seringkali memproduksi film-film bencana skala global, seperti Independence Day, Godzilla, The Day after Tomorrow, 2012, dan Moonfall boleh jadi adalah yang paling ambisius, setidaknya dari sisi cerita bukan estetik.

Seorang ilmuwan bernama Dr. Houseman (Bradley) menemukan anomali pada orbit bulan yang ia ramal bakal menabrak bumi. Astronot Brian Harper (Wilson) dulu juga pernah mengalami kecelakaan di luar orbit bumi yang berhubungan dengan fenomena tersebut. Petinggi NASA, Jocinda Fowler, menemukan fakta yang selama ini dirahasiakan bahwa terdapat satu benda misterius di bulan yang memicu bergesernya orbit bulan. Dengan segala cara, mereka mencoba mencegah malapetaka yang bakal terjadi pada bumi.

Kita tahu persis, selama ini medium film telah menyajikan banyak hal yang absurd dan mustahil terjadi. Kadang menghibur, kadang pula terasa konyol, ini tentu tergantung bagaimana kisahnya dikemas. The Day after Tomorrow misalnya, adalah satu contoh bagus untuk genrenya, sisi drama yang kuat, visualisasi aksi yang mengagumkan, serta pesan pemanasan global yang relevan hingga kini. Sementara Moonfall, adalah segalanya selain pencapaian The Day After Tomorrow. Jadi, selama ini bulan adalah semacam Death Star? Ooh c’mon. Dari mana mereka bisa mendapat ide gila semacam ini? Mungkin plotnya bisa bekerja sempurna untuk seri Transformers.

Bukan sisi konten absurd yang menjadi masalah tapi adalah naskahnya. Dari sisi drama, naskahnya tak mampu memberikan latar kuat bagi para tokohnya untuk sekadar kita sedikit bersimpati. Motif kisahnya pun tak jelas. Segalanya mengalir terlalu tergesa-gesa. Belum lagi lubang plot yang tak terhitung. Jika sejak awal, benda asing tersebut bisa menyerang pesawat angkasa bumi, mengapa mereka butuh bulan untuk “menyerang” bumi melalui penantian yang sangat lama? Gravitasi bulan mampu mengangkat batu dan benda yang berton-ton beratnya tetapi rupanya tidak untuk manusia. Huff.. Sejak awal, kita sudah tidak terlalu peduli dengan karakternya, lalu tentu alur kisahnya, yang lantas berujung pada ketidakpedulian pada filmnya.

Baca Juga  Angel Has Fallen

Seperti dijanjikan judulnya, Moonfall menawarkan premis amat absurd serta naskah yang lemah, hingga menjadikan salah satu film terburuk dalam sejarah genrenya. Aplikasi formula baku plot genrenya bukan pemicunya. Saya masih ingat dua tahun lalu menonton film bencana produksi Cina, The Wandering Earth. Kisahnya bisa jadi jauh lebih absurd dari Moonfall, namun film ini mampu mengemas kisahnya cukup baik serta memiliki ikatan yang cukup dengan tokoh-tokohnya. Satu lagi yang terpenting bagi saya adalah isu dan pesan. Genre bencana memiliki modal kuat untuk merespon banyak hal yang kini menjadi problem besar umat manusia. Bahkan film bencana satir, Don’t Look Up yang rilis baru lalu, menawarkan isu kemanusiaan yang begitu gamblang. Bisa jadi memang kita butuh bukti konkret hingga bulan yang menabrak ke bumi untuk bisa paham jika manusia mesti berdamai dengan bumi dan isinya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel Sebelumnya“One Billion Dollar Club” Movies, Tren Film Terlaris Masa Kini
Artikel BerikutnyaEnam Batang
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.