Morbius (2022)
104 min|Action, Adventure, Horror|01 Apr 2022
5.1Rating: 5.1 / 10 from 155,316 usersMetascore: 35
Biochemist Michael Morbius tries to cure himself of a rare blood disease, but he inadvertently infects himself with a form of vampirism instead.

Morbius merupakan film ketiga dari Sony’s Spider-Man Universe (SSU) yang diawali oleh Venom dan baru lalu Venom: Let There Be Carnage. Morbius digarap oleh sineas asal Swedia Daniel Espinoza dengan bintang-bintang antara lain, Jared Leto, Matt Smith, Adria Arjona, serta Tyrese Gibson. Film berbujet USD 75 juta ini yang seharusnya dirilis pertengahan lalu ini (alasan pandemi) akhirnya dirilis menjelang musim panas tahun ini. Dengan tren SSU yang bagus melalui dua film sebelumnya (setidaknya secara komersial), apakah Morbius mampu melewati keduanya secara kualitas?

Michael Morbius (Leto) sejak kecil telah menderita penyakit kelainan darah yang membuatnya harus rutin transfusi darah. Ambisi untuk menyembuhkan dirinya membawanya menjadi seorang dokter ternama dengan dukungan keuangan dari sahabatnya, Matt (Smith) yang juga memiliki penyakit yang sama. Melalui eksperimennya dengan kelalawar peminum darah, Morbius akhirnya menemukan solusi penyakitnya, hanya saja, hasilnya tidak yang seperti ia harapkan. Ia menjadi seorang monster pembunuh dan peminum darah dengan kekuatan super.

Menonton Morbius seakan menonton beberapa film superhero yang sudah familiar. Ada nuansa Batman, Blade, hingga Captain America di kisahnya. Mirip seperti plot Venom, alur kisahnya kurang memberi background karakter yang cukup untuk tokoh utamanya. Hasilnya, adalah tempo plot yang bergerak begitu cepat untuk langsung bisa mengisinya dengan segmen aksi-aksi. Sayang sekali, sosok Morbius sebenarnya bisa dieksplorasi lebih dalam untuk memperkuat relasinya dengan sosok Matt dan rekan lab-nya, Martine Bancroft (Arjona). Bahkan sosok bintang sekelas Tyrese Gibson pun serasa lewat begitu saja. Separuh filmnya hanya didominasi dengan banyak aksi yang memaksa (dan sering kali tak logis) dengan efek visual yang kurang lebih sama dengan pencapaian Venom dan sekuelnya. Tak kurang tak lebih. Jika kamu suka Venom, kamu pasti akan suka Morbius.

Walau sedikit lebih baik dari Venom, Morbius tidak banyak menawarkan teritori baru pada genre maupun Spider-Man Universe milik Sony, namun bakal memberi warna baru untuk pengembangan semesta sinematiknya ke depan. Fansnya bisa jadi bakal puas dengan kejutan-kejutan di ending-nya. Kita sama-sama tahu, hubungan SSU dan Marvel Cinematic Universe (MCU) kini makin dekat setelah Spider-Man: No Way Home. Jika ternyata Morbius sukses secara komersial, seperti seri Venom, rasanya bakal makin menjauhkan SSU dengan MCU. Kisah SSU bisa berjalan mandiri tanpa MCU dengan kartu as sosok Spider-Man yang masih menjadi milik Sony. Saya sama sekali tidak menyukai tarik-ulur studio macam ini, namun harus diakui, cross-over ini bakal menjadi tantangan bagi para pembuatnya untuk mengantisipasi banyak kemungkinan di masa datang. Menarik, melihat bagaimana satu sosok superhero bisa mengubah wajah industri film ke depannya. Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah medium film.

Baca Juga  X-Men: Apocalypse

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaMelihat Masa Depan Perfilman Bangsa di Kongres Besar BPI
Artikel BerikutnyaThe Bubble
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.