Mortal Kombat (2021)
110 min|Action, Adventure, Fantasy|23 Apr 2021
6.0Rating: 6.0 / 10 from 190,908 usersMetascore: 44
MMA fighter Cole Young seeks out Earth's greatest champions in order to stand against the enemies of Outworld in a high stakes battle for the universe.

Mortal Kombat, dianggap reboot dari seri sebelumnya yang rilis beberapa dekade lalu, yakni Mortal Kombat (1995) dan Mortal Kombat: Annihilation (1997). Seperti kita tahu, seri ini diadaptasi dari game tarung populer Mortal Kombat yang dikenal dengan aksi-aksinya yang sadis dan brutal. Bagi pecinta film tanah air, satu daya tarik terbesar tentu jelas adanya aktor Joe Taslim yang bermain sebagai Sub Zero. Film arahan sineas debutan Simon McQuoid ini dibintangi pula oleh aktor-aktris internasional, seperti Tadanobu Asano, Hiroyuki Sanada, Lewis Tan, Jessica McNamee, Josh Lawson, hingga Chin Han. Apakah film reboot-nya kali ini lebih baik dari sebelumnya?

Berbeda dengan seri-seri sebelumnya, atau bahkan film animasi panjangnya, kisah film ini, uniknya tidak mengambil plot turnamen atau kompetisi tanding. Malah, plotnya kini pada beberapa bagian rada mirip dengan film animasi panjang Mortal Kombat Legends: Scorpion’s Revenge. Hanya saja, dibandingkan film animasinya ini, plotnya kacau balau.

Kisahnya secara sederhana hanya perseteruan antara dua kelompok, Rayden dan Shang Tsung. Shang Tsung ingin menguasai dunia fana sementara Rayden sebaliknya. Lantas di mana buruknya? Nyaris segalanya. Penokohan yang lemah banyak menjauhkan kita dari tokoh-tokohnya. Belum lagi, puluhan lubang plot yang tidak bisa ditolerir. Kewarasan kita sungguh diuji untuk sekadar hanya mengikuti kisahnya yang tak masuk akal. Kalau mau ditulis, bisa puluhan banyaknya. Banyak hal tidak dijelaskan yang tahu-tahu bisa terjadi begitu saja. Jika memang hanya Sub Zero seorang bisa membunuh semua juara di bumi (ber-teleport ke mana saja ia mau), kenapa tidak segera ia lakukan sejak awal? Semua kelokan plot hanya untuk memaksakan adegan pertarungan bisa terjadi secepatnya.

Baca Juga  Tron: Legacy

Lalu bagaimana segmen aksinya yang menjadi hidangan utama filmnya? Bagi saya, sama sekali tidak berkesan, sekali pun pencapaian CGI-nya jelas jauh lebih baik dari seri-seri sebelumnya. Latar kisah yang tidak memadai membuat semua pertarungan menjadi tak berjiwa karena tak ada ikatan kental dengan tokoh-tokohnya. Tak ada sense of thread yang benar-benar kokoh dibangun. Semua seperti main-main layaknya pertunjukan sirkus. Satu hal yang mengganjal adalah kasting. Selain Joe Taslim dan Hiroyuki Sanada, tidak ada pemain yang benar-benar punya karisma kuat. Sosok Kano memang penuh polah dengan selorohannya, namun jika dicermati dialog-dialognya pointless. Joke-nya pun garing. Macam joke tawaran “3 juta dollar” Sonya ke Kano, “tentu saja saya tak punya 3 juta dollar” ujar Sonya ke Cole. Are you kidding me? Belum lagi yang teramat parah adalah potongan sensor kasar yang sangat menggelikan pada beberapa adegan sadis. Jika banyak dipotong habis seperti ini, lantas untuk apa rating Dewasa (17 tahun)?

Dengan naskah, penokohan, dan kasting yang amat buruk, Mortal Kombat hanyalah sebuah pertunjukan sirkus belaka! What the hell? Ada apa dengan film-film blockbuster Hollywood belakangan ini? Sebagian besar memang bukan tergolong film bagus tapi tidak pernah seburuk ini secara beruntun. Mengapa naskah bisa begitu buruk dengan semata hanya mengandalkan sajian visual? Bisa jadi pandemi yang melelahkan memang memicu kita untuk mencari hiburan ringan. Tapi tentu sungguh menyedihkan jika trennya seperti ini. Kembali ke Mortal Kombat, jika mau tontonan dengan kisah yang jauh lebih baik, silahkan tonton Mortal Kombat Legends: Scorpion’s Revenge.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaEvery Breath You Take
Artikel BerikutnyaNobody
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.