Di tengah awal krisis korona, film Mr. Zoo: The Missing VIP dirilis di negara asalnya, Korea Selatan (22 Januari lalu). Film aksi komedi garapan Kim Tae-Yun ini nyatanya sukses komersial. Film ini dibintangi Lee Sung-min, Kim Seo-hyeong, serta Bae Jeong-nam. Jika kalian tak asing dengan sosok Dr. Dolittle, kisah film ini memang memiliki kemiripan tokoh utama yang juga bisa berbicara dengan binatang. Seberapa mirip kisahnya?

Alkisah Tae-ju adalah member dari agen keamanan pemerintah yang baru saja naik pangkat. Tae-ju adalah seorang sosok yang tak suka dengan binatang apa pun karena ia mengangapnya menjijikkan. Suatu ketika, divisinya mendapat tugas berat untuk melindungi seekor panda bernama Ming-Ming yang menjadi simbol kedamaian hubungan antara Korea dan Cina. Satu kelompok teroris berhasil menculik sang panda dan dalam aksi pengejaran Tae-ju mengalami kecelakaan hingga kepalanya terbentur ke jalan. Setelahnya, Tae-ju mengalami hal aneh yakni ia mampu berbicara dengan binatang. Walau dianggap tidak waras, berbekal kemampuan barunya bersama seekor anjing polisi bernama Ali, Tae-ju pun melacak jejak sang panda.

Walau tokohnya memang mirip Dr. Dolittle (yang kebetulan rilisnya nyaris bersamaan), namun kisah film ini sangat berbeda dan segar. Kalau boleh saya bilang, film ini jauh lebih menghibur daripada film yang dibintangi Robert Downey Jr. baru lalu. Plot investigasi kriminal dan sisi komedi, juga fantasi, dikombinasi dengan baik dengan tokoh-tokoh binatang yang amat mencuri perhatian penonton. Ali dan Ming-Ming, bersama sekilas sosok binatang lainnya menjadi pemicu utama sisi komedinya, di luar tentu aksi konyol Tae-ju yang diperankan sangat baik oleh sang bintang.  Beberapa kali polah dan banyolan mereka memang sungguh memancing gelak tawa. Kapan lagi kita bisa mendengar seekor harimau menyanyi satu lagu pop Korea? Dialog memang tidak dimaksudkan bercanda, namun aksi polah mereka yang mengundang tawa penonton.

Baca Juga  Ugetsu, “This is not just entertainment, these kinds of stories are real" – Brillante Mendoza

Dari sisi cerita, satu hal paling mengganjal adalah lubang plotnya yang sangat menggangu di banyak momen. Banyak hal tak dijelaskan untuk memaksakan sebuah adegan atau banyolan. Iya memang, ini film komedi, apa saja bisa terjadi, tapi lubang plot bisa ditambal agar lebih elegan dan tidak diumbar semudah ini. Namun, kelemahan ini sedikit tertutup oleh momen dramatik di beberapa adegannya. Satu momen sesaat ketika sang anjing diselamatkan oleh Tae-ju, disajikan manis dan menyentuh memperlihatkan kehangatan hubungan antara sang anjing dan majikannya. Tentu bukan hal mudah dalam produksinya membuat adegan semacam ini (dialog antara anjing dan manusia).

Ide Mr. Zoo: The Missing VIP memang tak baru, namun kisahnya menghibur dan hangat sekalipun terdapat kejanggalan cerita di sana-sini. Setidaknya, di film ini sosok sang anjing diperankan anjing sungguhan, bukan CGI seperti dalam The Call of the Wild baru lalu. Walau Ming-Ming tampak memang sebuah “boneka” tapi tak apalah, masih bisa dimaafkan. Kesulitan pengambilan gambar dengan binatang seringkali juga diakali dengan penggunaan shot dekat dan transisi editing, yang menjadi terkesan “murah” memang, tapi jelas lagi-lagi bisa dimaklumi, alih-alih menggunakan CGI dan malah terlihat artifial.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Closet
Artikel BerikutnyaSpenser Confidential
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.