Apa yang akan dilakukan oleh sepasang suami-istri berpemikiran ibu kota bila dipertemukan dengan persoalan keluarga lain dalam perjalanan mudik, padahal keduanya sendiri sedang ‘bermasalah’? Adriyanto Dewo mengarahkan pertanyaan ini dalam film berjudul Mudik, dengan menulis sendiri skenarionya. Film produksi LifeLike Pictures ini diperankan oleh Asmara Abigail, Putri Ayudya, Ibnu Jamil, dan Yoga Pratama. Tak banyak film arahannya yang cukup lekat di ingatan publik, selain Tabula Rasa. Itu pun dengan peran hanya sebagai sutradara, tidak merangkap sebagai penulis juga sebagaimana film ini. Namun, apakah itu memengaruhi kualitas garapannya kali ini?

Sepasang suami-istri baru, berlatar belakang ibu kota harus menempuh perjalanan mudik, sementara keduanya sedang saling ‘bermasalah’. Aida (Putri Ayudya) mengalami kondisi tertentu terkait perannya, sementara Firman (Ibnu Jamil) justru merahasiakan sesuatu dari istrinya sendiri. Dalam relasi yang jelas tidak harmonis ini, mereka bertemu dengan Santi (Asmara Abigail), sebuah persoalan baru yang besar terkait nyawa seseorang. Bahkan perkara-perkara kecil juga tak luput menyertainya. Walaupun takdir pertemuan Aida dan Santi mengorbankan seseorang, tapi ada secercah harapan yang terbawa oleh mereka untuk melanjutkan perjalanan. Namun, benarkah harapan ini memang akhir dari segalanya –termasuk masalah Aida dan Firman?

Sebagaimana ciri khas film-film lebaran, Mudik punya cara bercerita yang ringan serta family friendly. Genre road-movie-nya pun menjadi pilihan yang cukup baik untuk mengajak penonton melalui masa mudik hingga hari-hari libur lebaran. Yang patut diapresiasi kemudian, film ini tak melupakan detail-detail kecil sekalipun adegannya cuma berisi perpindahan tokoh dari satu tempat ke tempat lain. Bagaimanapun, memang semestinya demikian, karena kembali lagi pada genre road-movie, perpindahan tempat juga mengandung detail yang tak boleh dilewatkan.

Mengenai sisi akting para tokoh yang terlibat, Asmara Abigail memang rasanya lebih pas untuk memerankan sosok perempuan desa dengan penampilan seadanya, atau wanita dewasa tanpa riasan ‘ibu kota’. Ini pernah ia lakukan saat mengisi peran dalam Perempuan Tanah Jahanam. Di samping itu, tokoh-tokoh lain pun tak bisa diabaikan begitu saja. Kendati tak begitu mencolok. Lagipula, film ini menitikberatkan definisi ‘perjalanan’ di sepanjang alurnya, baik dalam hubungan antara Aida dan Firman, perjalanan mudik secara harafiah, maupun mendapat pemahaman baru dari tokoh lain.

Baca Juga  Mangkujiwo

Jujur saja, ada satu sindiran kecil tak terlupakan yang terselip dalam bentuk hubungan dengan instansi kepolisian. Interaksi tentang ‘bantu membantu’ yang sarat sindiran dan sungguh menggelitik. Antara memengaruhi keseluruhan cerita secara umum dan langsung serta tidak, tapi tetap menarik untuk dimasukkan.

Pada akhirnya, penutup Mudik mencoba bersepaham dengan kondisi masa kini, sikap apa yang akan diambil dan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pasangan-pasangan modern. Lebih-lebih latar belakang tokoh utama film ini memanglah masyarakat ibu kota. Topik yang terkesan mempertanyakan ide klise di kalimat teratas takkan jadi perkara penting lagi kemudian, karena toh isi filmnya tak mengecewakan.

Pesan yang begitu lekat semacam ini baru akan benar-benar terasa saat momentum menjelang klimaks cerita mulai dibuka. Keberadaan simbol dan tanda yang dihadirkan dari sejumlah aspek sinematik pun terasa lebih kental menjelang film selesai. Seperti mengubah bentuk dan dimensi bingkai, masuknya Aida ke tengah barisan warga menuju tempat Sholat Ied, serta lokasi yang digunakan untuk mengakhiri cerita. Memang agaknya aneh untuk melakukan hal yang sama pada realitas aslinya, tapi bukan tidak mungkin selama pemilihannya memang ditujukan untuk menyampaikan maksud atau pesan terakhir dari Mudik.

Mudik tentu saja sarat sindirian terhadap hal-hal yang memang dekat dengan topik serupa judulnya. Bagaimana peristiwa kecelakaan ada, permainan urusan ‘damai’, serta kerja para polisi. Lalu memasukkan masalah keluarga pun menambah variasi konfliknya. Sebab seperti yang diketahui bersama, persoalan keluarga saat momen mudik lebaran pasti berbeda antara satu rumah dengan rumah di sebelahnya.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaGhosts of War
Artikel BerikutnyaMulan
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

2 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.