Mulan

0
79
Mulan (2020)
115 min|Action, Adventure, Drama, Family|04 Sep 2020
5.6Rating: 5.6 / 10 from 27,589 usersMetascore: 68
A young Chinese maiden disguises herself as a male warrior in order to save her father.

Tak terasa hingga bulan September, sejak Februari awal tahun ini, penonton film tak lagi bisa pergi ke bioskop karena pandemi yang tak kunjung berlalu. Industri film adalah salah satu yang terkena dampaknya paling hebat. Platform online menjadi sarana paling laris untuk menonton hingga berimbas pada film-film besar yang seharusnya tayang di bioskop. Seperti tak bisa menahan, Disney pun akhirnya merilis Mulan yang seharusnya tayang Maret lalu, melalui platform online-nya, Disney +.

Mulan diarahkan oleh Niki Caro yang kita kenal dengan film masterpiece-nya, The Whale Rider (2002). Dengan berbekal bujet US$ 200 juta, film ini dibintangi oleh bintang-bintang mandarin legendaris, macam Donnie Yen, Gong Li, hingga Jet Li, serta didukung aktris muda top Liu Yifei, Jason Scott Lee, hingga Tzi Ma. Seperti halnya Jungle Book, Beauty and the Beast, The Lion King, hingga Alladin, Mulan (2020) diadaptasi dari film animasi laris, Mulan (1998). Akankah film ini bakal selaris film-film remake animasi lainnya? Rasanya mustahil di tengah situasi seperti ini.

Kisahnya pun kurang lebih sama seperti film animasinya dengan hanya sedikit penambahan dan pengurangan di sana-sini sebagai tuntutan transisi versi live-action-nya. Apakah lebih baik? Jauh dari aslinya. Seperti halnya The Lion King dan Alladin, film ini kehilangan nuansa magis kisah aslinya. Polah sosok naga kecil Mu-shu, si jangkrik, dan sosok kuda di film animasinya, mampu menjadi penyeimbang kisah dramanya yang serius. Minus sisi humor, versi live-action-nya kini menjadi tak ubahnya film drama aksi yang tak mampu menggugah.

Baca Juga  The Equalizer 2

Kisahnya pun, dalam beberapa adegan terasa seperti melompat dan tak lengkap. Entah karena secara tak sadar mengalami komparasi dengan kisah aslinya, yang jelas film ini kehilangan “chi”dan soul-nya. Satu contoh saja, adegan ketika sang ayah harus menerima panggilan militer dan berjalan tanpa tongkat untuk mengambil titah kaisar. Sisi dramatik yang diharapkan tak muncul dan ini banyak terjadi di adegan lainnya. Adegan aksi klimaksnya pun terasa sepi dan tak megah.

Namun, harus diakui sisi sinematografi serta production value-nya memang menampakkan bujet filmnya yang amat besar. Lalu bagaimana aksi perkelahiannya? Jika kamu pengagum Jet Li atau Donnie Yen, jangan berharap aksi perkelahian yang cepat, dinamis, dan “real” seperti di film-film mereka. Teknik slow-motion banyak dominan digunakan dan kadang terlihat para pemain mudanya masih terlalu kaku gerakannya. Bagi saya ini amat mengecewakan karena apa yang saya harapkan adalah film ini memiliki kelebihan di sisi koreografi aksinya. Walaupun, satu adegan pengejaran dengan kuda melalui aksi panahnya mampu ditampilkan mengagumkan.

Mulan, seperti halnya The Lion King dan Alladin, kehilangan daya magis film animasinya dengan hanya menawarkan setting dan sinematografi menawan. Untuk bujet sebesar ini, Mulan jelas sangat mengecewakan. Saya juga berharap sekali, film ini menggunakan bahasa aslinya. Walaupun film ini boleh dibilang menjadi tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya, sebuah film mega bujet Hollywood, dibintangi seluruhnya oleh para pemain Asia. Tentu ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita. Kita tunggu saja, apakah pencapaian Little Mermaid akan lebih baik dari ini?

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaMudik
Artikel BerikutnyaKekuatan Perempuan dalam Mulan
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.