My Spy (2020)
99 min|Action, Comedy|26 Jun 2020
6.3Rating: 6.3 / 10 from 34,811 usersMetascore: 46
A hardened CIA operative finds himself at the mercy of a precocious 9-year-old girl, having been sent undercover to surveil her family.

Formula seorang agen, polisi, olahragawan hebat yang bersanding dengan bocah cilik jelas bukan barang baru di medium film. Uniknya bintang-bintang laga besar, macam Arnold Schwarzenneger, Dwayne Johnson, hingga Vin Diesel pernah melakukannya dan semua formulanya nyaris mirip. My Spy adalah film komedi aksi garapan Peter Segal yang dibintangi oleh aktor laga Dave Bautista, Chloe Coleman, Kristen Schaal dan Ken Jeong. So, apakah My Spy menawarkan sesuatu yang berbeda?

JJ (Bautista) adalah seorang agen CIA eks militer top di agensinya. Aksi heroiknya yang nekad dalam satu misi membuat semua musuhnya luluh lantak dan ia dipuja bak pahlawan. Namun, sang bos justru tidak terkesan karena JJ dianggap menghilangkan semua saksi mata yang mengarahkan kasus ini ke jaringan lebih besar. JJ pun “dihukum” mendapat tugas ringan untuk mengawasi ibu muda dan seorang putrinya yang alm. suaminya, punya hubungan dengan salah seorang berbahaya yang dicari CIA

Plotnya memang mirip Kindegarten Cop yang dibintangi Arnold, hanya saja kini yang membedakan adalah sosok sang gadis cilik. Sang bocah yang cerdas dimainkan bintang cilik Chloe Coleman yang bermain begitu mencuri perhatian penonton. Chemistry sang bocah dengan JJ terbilang hangat dengan sisipan humor di banyak adegannya. Satu yang membekas ketika JJ melatih Sophie untuk menjadi agen CIA yang dikemas dalam satu montage yang manis. Lalu bagaimana dengan Bautista sendiri? Ya, seperti biasanya, rasanya aktor ini tak bisa lepas dari peran-peran sejenis, apapun perannya terlihat sama, kecuali perannya sebagai Drax di film Marvel.

Baca Juga  Terminator Genisys

Ringan dan menghibur, My Spy ideal untuk target penontonnya, namun tak menawarkan sesuatu yang baru untuk genrenya.  Sebagai tontonan keluarga di saat senggang, film ini bisa menjadi pilihan yang tak ada resikonya. Jika kamu suka film ini, coba tonton Kindergarten Cop, The Pacifier, atau Game Plan yang sedikit lebih baik dari My Spy.

Stay Safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Rhythm Section
Artikel BerikutnyaTrolls World Tour
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.