Bagaimana caranya seorang manusia bahagia, kalau sedih saja tidak tahu rasanya seperti apa? Lebih-kurang demikianlah potongan dialog tentang persoalan yang ingin diutarakan oleh Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, sebagai film pertama Visinema Pictures bersama Blibli, IDN Media, dan XRM Media untuk membuka tahun 2020. Melalui film ini, Angga Dwimas Sasongko kembali menempati posisi sutradara, setelah hanya duduk mengisi bangku produser dalam sederet film produksi perusahaannya yang diarahkan oleh para sutradara debutan. Bersama Jenny Jusuf, Mohammad Irfan Ramly, dan Melarissa Sjarief sebagai penulis naskah, film bergenre drama keluarga ini dibintangi oleh Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha, Rachel Amanda, Donny Damara, Susan Bachtiar, Ardhito Pramono, dan Agla Artalidia. Sebagai film cerita yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama, apakah Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini versi film akan memiliki daya tawar (dalam bentuk apapun) yang cukup signifikan, selain perkara perbedaan medium?

Setiap orang mendambakan kehidupan dalam berkeluarga berjalan baik-baik saja, menyenangkan, dan selalu diliputi kebahagiaan. Setidaknya inilah keinginan dan harapan dari Awan (Rachel Amanda); kedua kakak, Aurora (Sheila Dara Aisha) dan Angkasa (Rio Dewanto), serta Ayah (Donny Damara) dan Ibunya (Susan Bachtiar). Seiring berjalannya waktu, rahasia besar yang terus-menerus disimpan oleh sang ayah justru menjadi bom waktu dan momok bagi pondasi kebahagiaan yang telah dibangun belasan tahun. Ancaman ini pun memengaruhi relasi mereka dengan orang lain. Dua di antaranya, relasi pascapertemuan Awan dengan Kale (Ardhito Pramono), dan arah hubungan Angkasa dengan Lika (Agla Artalidia) yang telah berpacaran selama 4 tahun. Tidak ada jalan lain bagi keluarga ini selain saling jujur dan terbuka. Walau menuju ke sana bukanlah tanpa konflik dan mudah.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini benar-benar pecah berarakan. Film ini dikemas dalam konsep alur maju-mundur dengan tiga masa, yakni kelahiran, tumbuh-kembang, dan dewasa. Kendati mengolah-alihkan cerita dari satu masa ke masa sebelum atau sesudahnya, pergantian tersebut tetap terasa saling berkesinambunngan. Alur yang maju-mundur ini pun menjadi alasan kuat Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini sangat kental dengan “dinamika yang dinamis”. Dinamika persoalan dalam sebuah keluarga –yang dari muka—tampaknya baik-baik saja, tapi menyimpan sejuta beban dan perasaan. Penonton dibuat hanyut untuk mengikuti satu persoalan ke persoalan lain, satu konflik ke konflik lain, satu beban ke beban lain, dan harus bersabar mendapat jawaban yang hadir satu persatu, baik dalam beberapa segmen kemudian maupun telah usai tersampaikan di segmen sebelumnya.

Pengolahan sinematografi yang kemudian diimplementasikan untuk mendukung emosi, motivasi, dan mood film ini, betul-betul sepadan dan mampu saling bekerja sama. Melalui aspek ini, shot-shot dinamis diterapkan pada segmen dinamika konflik yang masih belum usai, baik dalam keluarga Awan maupun relasi masing-masing dari mereka dengan tokoh-tokoh lain.

Baca Juga  Relationshit

Mengenai para ‘bintang tetap’ yang terus mengisi daftar film-film Visinema Pictures (terutama arahan Angga), tak ada alasan untuk memperbincangkannya karena pencapaian akting mereka sebagai tokoh drama sudah memuaskan. Walau akting tersebut tampak seperti kurang maksimal karena warna emosi yang belum terlihat atau terasa di awal film. Namun, ini dipatahkan dalam segmen-segmen berikutnya.

Pencapaian skenario adaptasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini sangat terasa berbeda dan memberikan tawaran baru dengan plot yang terdiri atas 3 macam, plot kelahiran, pertumbuhan, dan dewasa. Bila dilihat secara garis besar, keseluruhan alur film ini tidaklah maju-mundur. Jika plot-plot tersebut diuraikan sendiri-sendiri, justru akan terlihat hanya ada alur maju. Alur ini menjadi terlihat maju-mundur, saat ketiga plotnya dilihat sebagai satu garis lurus. Penyusunan ini sudah tampak sangat jelas disebabkan kombinasi tiga aspek, yakni sumber cerita (novel yang diadaptasi), skenario hasil adaptasi, dan konsep editing. Kematangan ketiga poin ini menyebabkan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini sudah memiliki dampak dan kekuatan yang signifikan, walau tanpa mengikutsertakan aspek sinematografi dan kualitas akting para bintangnya. Dan ketika kedua aspek yang disebut terakhir itu masuk, film ini menjadi lengkap dan lebih solid.

Novel sumber adaptasi film ini sebetulnya bukanlah merupakan karya populer seperti novel-novel karya Tere Liye, Ika Natassa, maupun Tetralogi Pulau Buru. Orang-orang yang berada di balik layar Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tahu betul soal ini, dan mereka pun mengatasinya dengan strategi-strategi pemasaran tertentu. Ulasan ini tidak akan membicarakan bagaimana strategi pemasaran tersebut dalam ranah distribusi, melainkan mengenai isu yang diangkat. Satu hal yang sangat bisa digarisbawahi terkait isu dalam film ini, bisa dipastikan memiliki relasi atau keterkaitan dengan siapapun di lingkungan keluarga mana pun. Terlebih, dalam lingkungan keluarga modern yang sangat menjunjung norma-norma baku. Jikapun satu-dua perkara dalam film ternyata tidak dialami maupun dirasakan oleh beberapa orang atau keluarga, pasti selalu ada hal-hal lain yang menggantikannya. Singkatnya, film ini meng-cover beragam persoalan relasi inter-keluarga dan turunannya.

Seperti gembar-gembor dari sang sutradara pula mengenai keseriusannya menggarap Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, film ini memang terbukti memiliki kedalaman emosi yang terasa begitu dekat dan erat dengan perkara “keluarga”. Ini memang tidak dapat dipungkiri, mengingat ciri khas Angga Dwimas Sasongko dengan film bertema keluarga. Namun, sebagaimana penyakit sebagian film-film –yang tadinya—dibuat solo atau selesai dalam satu kali cerita, tapi mampu meraup keuntungan berlipat-lipat karena sukses pasar (sebut saja Dilan 1990, Filosofi Kopi, Ayat-Ayat Cinta), semoga Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tak memiliki sekuel, karena belum tentu bernasib sama atau lebih baik dari saudara satu perusahaannya, Love for Sale 2.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaBombshell
Artikel BerikutnyaUnder Water
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.