Nightmare Alley (2021)
150 min|Crime, Drama, Thriller|17 Dec 2021
7.0Rating: 7.0 / 10 from 176,503 usersMetascore: 70
A grifter working his way up from low-ranking carnival worker to lauded psychic medium matches wits with a psychologist bent on exposing him.

Nightmare Alley adalah film garapan sineas kawakan Guillermo del Toro yang kita kenal dengan sentuhan khasnya. Naskah filmnya diadaptasi dari novel berjudul sama karya William Gresham. Film ini juga pernah dibuat filmnya pada tahun 1947 yang dibintangi Tyrone Power. Dari sisi kasting, sederetan nama besar menghiasi filmnya, antara lain Bradley Cooper, Ronnie Mara, Cate Blanchett, Toni Collette, Willem Dafoe, David Strathairn, hingga Ron Perlman. Apakah sang sineas kini kembali menggunakan sentuhan uniknya seperti film-film sebelumnya?

Keluar dari kotanya, Stan (Cooper) bekerja di sebuah sirkus keliling. Ia menjadi anak buah Clem (Dafoe) yang dalam pertunjukannya menampilkan “manusia aneh”, serta Madam Zeena (Collette) seorang cenayang dan sang suami, Pete (Strathairn) yang mantan pesulap. Dari mereka berdua, Stan belajar trik-trik untuk menipu penonton. Stan juga tertarik dengan si cantik Molly (Mara) yang bekerja sebagai asisten salah satu pertunjukan. Bersama Molly, Stan berniat untuk membuat pertunjukan mereka sendiri di luar sana, dan momen itu pun akhirnya menyambangi mereka.

Untuk Del Toro, bisa jadi ini adalah film pertamanya yang tidak berhubungan dengan unsur fantasi atau horor. Namun, dari sisi artistiknya semua adalah miliknya. Sang sineas dengan jitu memilih naskahnya yang memang bisa ia eksplorasi sedemikian rupa dengan sesuatu yang merupakan keahlian terbaiknya. Hasilnya, dari semua karyanya, rasanya ini adalah film “masterpiece”-nya. Sempurna dari sisi artistik, pun demikian naskahnya, sekalipun tak orisinal (adaptasi dan remake). Dengan pendekatan estetik filmnoir, Del Toro dengan brilian menyajikan satu minibiografi dengan dukungan kuat setting, sinematografi, musik, serta tentu saja penampilan para bintangnya. Cooper dan Blanchett, tercatat adalah dua pemain yang amat dominan dan bermain luar biasa.

Baca Juga  Orion and the Dark

Berjalan dengan tempo yang lambat, film ini bakal menjadi ujian berat bagi penonton untuk tidak jatuh terlelap ke alam mimpi. Di awal segmen (karnaval) nyaris tak ada konflik yang berarti, terasa datar, sekalipun ini bakal menjadi eksposisi penting bagi poin tujuan kisahnya kelak. Kisahnya mulai berjalan intens sejak segmen kedua yang menyajikan sebuah thriller psikologis yang merupakan kombinasi sisi “supernatural”, trauma, serta ambisi mendalam. Berlawanan dengan konsep noir yang serba abu-abu, Alley mengalir gamblang dengan batasan hitam dan putih yang tegas. Kita tahu persis, benar dan salah, dan bahkan kisahnya sudah diramalkan sendiri oleh plotnya. Rupanya, ini semua untuk mengarahkan ke ending-nya yang bagi saya merupakan salah satu ter-powerful dalam medium film.

Jika kamu tahan menonton Nightmare Alley selama 150 menit hingga detik akhir, kamu akan menjumpai medium film dalam performa terbaik di semua aspeknya. Untuk sang sineas, melalui Nightmare, ia akhirnya menyamai prestasi Tim Burton dengan Ed Wood-nya (biopic), yang kebetulan pula keduanya memiliki sentuhan artistik yang mirip. mat menyenangkan, menonton bagaimana sineas-sineas berkelas ini membelokkan kisah melalui sesuatu hal yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya, tanpa menghilangkan sentuhan emas mereka. Bagi penikmat film sejati, Nightmare Alley adalah satu tontonan wajib yang bagi saya sensasinya seolah menonton film klasik masterpiece.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaThe Silent Sea
Artikel BerikutnyaCopshop
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses