Nomadland (2020)
107 min|Drama|19 Feb 2021
7.3Rating: 7.3 / 10 from 184,618 usersMetascore: 91
A woman in her sixties, after losing everything in the Great Recession, embarks on a journey through the American West, living as a van-dwelling modern-day nomad.

Nomadland adalah film drama yang disutradarai, diproduseri, ditulis, serta diedit oleh Chloe Zhao. Kisah filmnya diadaptasi dari buku (noncerita) berjudul Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century karya Jessica Bruder. Film ini dibintangi oleh aktor-aktris senior, Frances McDormand serta David Strathairn serta beberapa pelaku “nomad” sungguhan. Film ini telah banyak mendapat pujian tinggi di banyak festival film besar, termasuk Golden Globe, serta dijagokan dalam ajang Academy Awards mendatang. Begitu baguskah film ini?

Film berkisah tentang Fern (McDormand) yang kehilangan pekerjaannya akibat pabrik gipsum di tempat ia bekerja ditutup. Fern menjual seluruh yang ia miliki dan memutuskan untuk hidup mengembara dari satu kota ke kota lain untuk mencari pekerjaan. Ia tinggal dan tidur di dalam mobil van tuanya. Dalam pengembaraannya, Fern bertemu dengan banyak rekan “nomad” sepertinya di mana ia bisa mencari teman baru dan bertukar pengalaman.

Boleh jadi ini adalah satu bentuk film fiksi yang paling dekat dengan film dokumenter. Bukan hanya gaya teknisnya, namun adalah tema dan isunya. Tak banyak konflik dalam filmnya. Godaan bagi Fern untuk kembali hidup normal ditampiknya mentah-mentah. Plotnya berjalan datar dan jujur saja, membosankan. Untuk apa sebenarnya Fern melakukan ini semua? Jawaban dari ini adalah kunci filmnya, sayangnya, saya tak mampu menangkapnya dengan baik. Ini bertambah sulit untuk dijawab karena (saya) sulit berempati dengan sosok Fern. Jika saja ini film dokumenter, bisa jadi tak sulit untuk menangkapnya.

Baca Juga  End of Watch

Bicara akting pemain, khususnya McDormand, saya tak banyak melihat sesuatu yang sangat istimewa dengan perannya. McDorman pernah memainkan peran yang lebih sulit dari ini, seperti Fargo misalnya. Saya justru lebih berkesan dengan pemain-pemain amatir yang konon adalah pengembara sungguhan. Mereka lebih terlihat tulus. Saya tak bilang akting McDorman buruk, hanya saja untuk bisa bersimpati tidak cukup hanya secara gamblang terlihat menderita dengan segala rutinitas yang dijalankan sang tokoh. Gaya visual sineas yang dekat dengan dokumenter juga tidak mendukung untuk ini.

Nomadland berjalan layaknya dokumenter melalui isu sosial dan tradisi “nomad” di AS tanpa banyak greget dalam penceritaannya. Film ini bisa jadi sulit dijelaskan bagi seseorang yang tak mengenal banyak sejarah AS seperti saya. Banyak hal mungkin terlewat. Tapi bicara film, tema sejenis sudah disinggung dalam banyak film western klasik, sebut saja Grapes of Wrath atau How the West was Won. Film-film istimewa ini mampu memberikan argumen tegas untuk konteks masanya, tapi untuk era modern seperti sekarang? Satu narasi panjang di penghujung, memberikan jawaban kecil mengapa mereka melakukan itu semua, yakni sense of hope, atau mungkin sebaliknya, mereka tidak bisa move on? Entahlah, itu pilihan mereka, satu hal yang jelas, hati saya tidak bisa masuk ke dalam film ini.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Little Things
Artikel BerikutnyaWilly’s Wonderland
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

4 TANGGAPAN

  1. Hmm, mungkin harus menontonnya 1 kali lagi.. menurut saya ini bukan film tentang narasi, tapi film tentang rasa, sampai akhir walaupun terlohat kentang, tapi itu cukup memuaskan. Bagaimana karakter yanh dibangun dan kita sudah dapat mengidentifikasikannya di awal, lalu rasa kesepian yang menghinggapi diri karakter sangat relate dengan saya, dan bagi saya sutradara berhasil dalam menyampaikan rasa nya

    • Bagi saya, narasi tidak akan bisa dilepaskan dari sebuah film. Rasa dibentuk oleh narasi. Tanpa narasi, rasa akan subyektif. Demikian pula rasa terhadap gaya estetik, akan selalu terkait dengan narasi. Tanpa narasi, rasa “estetik” akan ditafsirkan secara liar tanpa arah. Tanpa narasi, medium film tak punya makna, secuil apa pun narasinya. Film bisa bertujuan untuk hiburan, perenungan, refleksi kehidupan, atau lainnya dengan memberikan contoh baik, buruk, atau di antara keduanya. Saya tidak bisa melihat semuanya di film Nomadland, narasinya tidak mengarah kemana pun dengan motivasi apa pun. Entah saya yang tidak paham, atau ada sesuatu yang belum saya pahami, yang jelas saya tidak menemukannya. Saya hanya jujur dengan apa yang saya lihat dan saya rasakan. Hal inilah yang menjadikan medium film begitu indah. Karena setiap orang pasti akan menemukan sebuah pengalaman yang berbeda dari satu tontonan dan menjadikan sebuah diskusi yang asyik. Terima kasih atas responnya.

  2. Penilaian terhadap Arts berdasarkan ‘pengalaman’ manusia.kalau tidak punya pengalaman ke arah tsb,maka memang akan sulit utk memahami.Buat sy, film ini menunjukkan karakter kuat seorg Fern, wanita yg mampu hidup ‘sendiri’ dan menikmati setiap moment hidupnya.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.