Nomadland (2020)
108 min|Drama|19 Feb 2021
7.6Rating: 7.6 / 10 from 13,473 usersMetascore: 95
After losing everything in the Great Recession, a woman embarks on a journey through the American West, living as a van-dwelling modern-day nomad.

Nomadland adalah film drama yang disutradarai, diproduseri, ditulis, serta diedit oleh Chloe Zhao. Kisah filmnya diadaptasi dari buku (noncerita) berjudul Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century karya Jessica Bruder. Film ini dibintangi oleh aktor-aktris senior, Frances McDormand serta David Strathairn serta beberapa pelaku “nomad” sungguhan. Film ini telah banyak mendapat pujian tinggi di banyak festival film besar, termasuk Golden Globe, serta dijagokan dalam ajang Academy Awards mendatang. Begitu baguskah film ini?

Film berkisah tentang Fern (McDormand) yang kehilangan pekerjaannya akibat pabrik gipsum di tempat ia bekerja ditutup. Fern menjual seluruh yang ia miliki dan memutuskan untuk hidup mengembara dari satu kota ke kota lain untuk mencari pekerjaan. Ia tinggal dan tidur di dalam mobil van tuanya. Dalam pengembaraannya, Fern bertemu dengan banyak rekan “nomad” sepertinya di mana ia bisa mencari teman baru dan bertukar pengalaman.

Boleh jadi ini adalah satu bentuk film fiksi yang paling dekat dengan film dokumenter. Bukan hanya gaya teknisnya, namun adalah tema dan isunya. Tak banyak konflik dalam filmnya. Godaan bagi Fern untuk kembali hidup normal ditampiknya mentah-mentah. Plotnya berjalan datar dan jujur saja, membosankan. Untuk apa sebenarnya Fern melakukan ini semua? Jawaban dari ini adalah kunci filmnya, sayangnya, saya tak mampu menangkapnya dengan baik. Ini bertambah sulit untuk dijawab karena (saya) sulit berempati dengan sosok Fern. Jika saja ini film dokumenter, bisa jadi tak sulit untuk menangkapnya.

Baca Juga  The Angry Birds Movie

Bicara akting pemain, khususnya McDormand, saya tak banyak melihat sesuatu yang sangat istimewa dengan perannya. McDorman pernah memainkan peran yang lebih sulit dari ini, seperti Fargo misalnya. Saya justru lebih berkesan dengan pemain-pemain amatir yang konon adalah pengembara sungguhan. Mereka lebih terlihat tulus. Saya tak bilang akting McDorman buruk, hanya saja untuk bisa bersimpati tidak cukup hanya secara gamblang terlihat menderita dengan segala rutinitas yang dijalankan sang tokoh. Gaya visual sineas yang dekat dengan dokumenter juga tidak mendukung untuk ini.

Nomadland berjalan layaknya dokumenter melalui isu sosial dan tradisi “nomad” di AS tanpa banyak greget dalam penceritaannya. Film ini bisa jadi sulit dijelaskan bagi seseorang yang tak mengenal banyak sejarah AS seperti saya. Banyak hal mungkin terlewat. Tapi bicara film, tema sejenis sudah disinggung dalam banyak film western klasik, sebut saja Grapes of Wrath atau How the West was Won. Film-film istimewa ini mampu memberikan argumen tegas untuk konteks masanya, tapi untuk era modern seperti sekarang? Satu narasi panjang di penghujung, memberikan jawaban kecil mengapa mereka melakukan itu semua, yakni sense of hope, atau mungkin sebaliknya, mereka tidak bisa move on? Entahlah, itu pilihan mereka, satu hal yang jelas, hati saya tidak bisa masuk ke dalam film ini.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Little Things
Artikel BerikutnyaWilly’s Wonderland
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.