Disarankan untuk menonton filmnya sebelum membaca ulasan film ini.

“Don’t Look him in the eye.”

Nope adalah film ketiga dari sineas berbakat, Jordan Peele, setelah sukses Get Out dan Us. Film sci-fi horor ini dibintangi oleh aktor regulernya, Daniel Kaluuya serta didampingi Keke Palmer, Steven Yuen, Brandon Perea, dan Michael Wincott. Peele sekaligus juga sebagai penulis dan memproduseri film berbujet  USD 68 juta ini. Lalu, apakah film ini bakal memiliki pencapaian cerita dan estetik yang sama dengan dua film sebelumnya?

Otis Jr. atau O.J. (Kaluuya) kini melanjutkan usaha sang ayah yang tewas dalam kecelakaan aneh di pekarangan rumahnya. Ayah OJ meneruskan tradisi leluhurnya, keluarga Haywood, yang menyewakan kuda untuk produksi film atau televisi. O.J. yang dibantu adik perempuannya, Em (Palmer) suatu ketika menyaksikan anomali aneh di sekitar wilayah tanah mereka. Satu obyek asing berukuran besar melintas di atas mereka, mematikan semua benda yang memiliki aliran listrik.  OJ dan Emm berniat untuk merekamnya, namun ternyata benda raksasa tersebut tidak seperti yang mereka pikir.

Kita tahu persis, seperti film-film Peele sebelumnya, Nope juga memiliki konsep dan ide yang berbeda yang memiliki pesan atau tema terselubung. Banyak adegan dan aksinya memicu pertanyaan yang memang tidak bisa dijawab dalam plotnya karena merupakan metafora (simbol] yang memiliki motif tertentu. Ini yang membuat Nope menantang bagi penikmat film. Namun di luar ini, plotnya sendiri juga tergolong unik untuk genrenya.

Satu hal yang membuat Nope unik dan segar adalah obyek misterius yang menjadi tokoh antagonis utama filmnya. Apakah ini UFO? Apa motifnya? Mengapa hanya di lokasi tersebut? Semakin plotnya bergerak, sisi misteri justru semakin menjadi, ini yang menjadi ciri khas plot sang sineas. Rasa penasaran yang membuat kita terus menatap layar bioskop tanpa ada rasa bosan sedetik pun. Padahal durasi film ini terhitung cukup lama, 2 jam 15 menit. Twist menjelang babak ketiga sedikit membuat film ini bergerak lebih cepat. Ending-nya jelas memicu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ini yang mungkin hanya mampu dijawab melalui makna terselubungnya.

Jika boleh jujur, film ini memang sulit untuk ditangkap makna, tema, atau pesan tersembunyinya. Ada yang mengatakan NOPE adalah singkatan dari Not of Planet Earth yang mengisyaratkan suatu benda asing yang berasal dari luar bumi. Namun, ini pun masih belum bisa menjadi acuan yang jelas. Satu petunjuk kuat adalah film ini berhubungan dengan medium film. Keluarga Hayward, leluhur OJ dan Em merupakan sosok yang turut ambil bagian dalam sejarah gambar bergerak (film). Satu footage pendek, The Galloping Horse (1878) karya Eadweard Muybridge, tersaji pada pembuka film. Di mana sang joki merupakan kakek buyut mereka, kata Em; Keluarga OJ dan Em juga terlibat dalam banyak produksi film melalui usaha persewaan kuda mereka; Sosok Ricky Park atau “Jupe” juga ambil bagian dalam satu acara televisi; Lalu sosok sinematografer, Antler Host memiliki kamera film seluloid untuk merekam kejadian di tanah Hayward.

Baca Juga  Jason Bourne

Lalu semua ini arahnya kemana? Melalui footage pendek yang ditampilkan dalam pembuka, The Galloping Horse, pasti merupakan petunjuk kunci untuk membedah temanya. The Galloping Horse sejatinya merupakan serangkaian foto yang digerakkan secara berputar sehingga gambarnya terlihat bergerak. Pada ending film ini, Em melakukan hal yang sama ketika memotret (kamera di dalam sumur) sang monster di atasnya (yang tengah memakan balon udara “jupe”). Lalu? Apakah sang monster merupakan simbol perkembangan industri film modern yang semakin melunturkan tradisi aslinya (sejarah)? Ini bisa bermakna berlipat, sebut saja: film seluloid berganti digital, tenaga kru fisik yang hilang akibat teknologi film yang semakin canggih, atau ketakutan akan tontonan streaming yang melemahkan film bioskop; atau jangan-jangan sang monster mewakili COVID-19 yang sempat membunuh industri film? Ini semua serba tidak pasti. Tanpa makna implisitnya, film ini sudah merupakan sebuah karya yang beda.

Unik dan segar untuk genrenya, Nope, seperti film-film sang sineas sebelumnya terjebak dalam pesan tersembunyi yang kini tak mudah untuk dipahami. Dengan sentuhan Peele melalui pendekatan cerita yang tak biasa, ia mampu menjaga konsistensi karyanya melalui sisi misteri-horor dan kontrol tempo alur plotnya. Sisi teknis yang lebih banyak mengacu pada penggunaan simbolnya memang perkara lain. Dalam Get Out dan Us memang terasa lebih gamblang. Tentu sang sineas tidak ingin ditafsirkan semudah membalik telapak tangan. Selamat Menonton.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaFall
Artikel BerikutnyaLook Both Ways
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.