Palm Springs (2020)
90 min|Comedy, Fantasy, Mystery|10 Jul 2020
7.4Rating: 7.4 / 10 from 184,389 usersMetascore: 83
Stuck in a time loop, two wedding guests develop a budding romance while living the same day over and over again.

Plot time loop seperti kita tahu sudah puluhan kali diekplorasi para sineas sejak The Groundhog Day, dan film ini tanpa keraguan adalah salah satu yang terbaik. Palm Springs adalah film drama roman fantasi arahan sineas debutan Max Barbakow. Setelah premiere di Sundance Film Festival awal tahun ini, film ini akhirnya dirilis streaming pada tanggal 10 Juli lalu. Film berbujet USD 5 juta ini dibintangi oleh Andy Samberg, Christin Milioti, dan aktor senior J.K Simmons.

Niles turut menghadiri pernikahan sahabat pacarnya. Dalam satu momen, secara berani Niles berpidato untuk kedua mempelai yang menarik perhatian kakak perempuan dari sang mempelai, Sarah. Mereka berdua pergi ke gurun untuk memadu kasih sebelum seseorang datang dan ingin membunuh Niles. Niles pun berlari menghindar hingga masuk ke dalam sebuah gua, dan Sarah pun mengikutinya. Sebuah anomali terjadi, Niles dan Sarah bangun di hari yang sama pada momen pernikahan di hari sebelumnya. Mereka berdua terjebak dalam satu lingkaran waktu, juga bersama seseorang yang mencoba membunuh Roy.

Setelah sekian lama dieksplorasi, formula time loop akhirnya bersentuhan dengan naskah yang cerdas dan brilian. Apa yang membedakan dengan film-film sebelumnya? Satu hal adalah kisah romannya yang teramat manis dengan disisipi dialog-dialog ringan tentang pemaknaan dan eksistensi kehidupan, plus kejutan cerita yang tak mungkin bisa diantipasi siapa pun. Satu lagi adalah penggunaan formula loop plot sendiri yang teramat segar, dengan multi-karakter di dalamnya. Berbeda dengan film-film sejenis, dua karakter dalam film ini, mengalami loop telah sekian lama, sejak plot bermula. Ini satu hal baru untuk formula ini. Menonton Palm Springs adalah sebuah perjalanan sinematik yang amat menggairahkan, terlebih jika kamu mengikuti perkembangan formula ini sejak awal. (Sekilas Time Looptonton video ini)

Baca Juga  Honest Thief

Selain formulanya, satu kekuatan filmnya adalah penampilan dua bintang utamanya, Samberg dan Milioti. Mereka berdua, memiliki salah satu chemistry terbaik yang pernah saya tonton dalam sejarah perkembangan genrenya. Sisi roman yang berbalut elemen mistik akibat formula fantasinya, menjadikan hubungan keduanya terasa spesial. Ini terasa ketika mereka berdialog, saling bertatapan, dan olah tubuh keduanya. Mereka bisa mengisi satu sama lain dalam semua momennya dan selama itu, kita pun mampu merasakan pula ada sesuatu yang mengganjal pada hubungan keduanya. Untuk film formula time loop, chemistry mereka berdua adalah yang terbaik.

Palm Springs adalah ekplorasi cerita menyegarkan dari formula time loop ditambah kekuatan chemistry dari dua bintang utamanya. Sang sineas debutan, Max Barbakow telah menghasilkan sebuah karya yang istimewa. Dua hingga tiga karakter yang terjebak dalam time loop memang telah ada sebelumnya, sebut saja film Korea, A Day hingga serial Russian Dolls, namun Palms Springs mampu mengeksplorasi dan memadukan semua elemennya lebih jauh lagi. Jika kamu memang fans film berformula time loop, Palm Springs adalah yang kamu tunggu-tunggu!

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaGreyhound
Artikel BerikutnyaGhosts of War
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.