Peacemaker adalah seri televisi arahan James Gunn yang kisahnya merupakan bagian dari DC Extended Universe (DCEU) serta pula spin-off dari Suicide Squad (2021) yang juga digarap Gunn. Film ini masih dibintangi John Cena sebagai sang superhero unik, bersama Jennifer Holland, Danielle Brooks, Freddie Stroma, Robert Patrick, dan Steve Agee. Film ini memiliki total tujuh episode dengan durasi rata-rata sekitar 40 menit. Dari sekian banyak seri superhero DC, Peacemaker adalah seri pertama yang berhubungan langsung dengan DCEU. Apakah Peacemaker memiliki kualitas atau sama dengan reputasi buruk sebagian film-film semesta sinematiknya?

Selepas kejadian Suicide Squad, Chris Smith aka Peacemaker yang tertembak dan tertimpa runtuhan gedung ternyata masih hidup. Setelah keluar dari RS, Chris dipaksa bergabung sebuah tim kecil untuk menginvestigasi dan memusnahkan keberadaan butterflies, yakni alien yang bisa masuk tubuh dan mengontrol pikiran manusia. Chris tidak hanya menghadapi ancaman alien tapi juga trauma masa kecil serta ayahnya yang keras. Chris bersama rekan-rekannya yang sebagian besar masih amatir dengan segala upaya melakukan sesuatu yang dianggap mustahil.

Bukankah Peacemaker telah tewas? Ya benar, tapi sekarang, naskah film apapun tidak ada lagi yang tidak mungkin jika bisa menghasilkan uang, bukan begitu? Dengan sedikit argumen kecil, dan boom! Peacemaker hidup kembali. Tak ada gunanya kita bahas masalah ini. Kisahnya memang sudah mati sejak awal. Satu yang menarik di sini adalah sentuhan estetik Gunn yang tercetak di mana-mana. Gunn yang juga menggarap Guardian of the Galaxy Vol. 1 & 2, rupanya menemukan gaya aslinya dalam Suicide Squad yang brutal dan ekstrim. Gunn melakukan segalanya yang tidak mungkin ia lakukan dalam film-film Marvel yang “bermoral”. Sekarang, melalui Peacemaker, polah Gunn makin menjadi.

Dialog dengan kata dan sumpahan kasar adalah yang paling dominan. Tidak ada satu menit pun di mana kata “f**k” tidak pernah terlontar. Unsur dialog bisa jadi adalah 90% isi naskahnya ketimbang adegan aksinya. Deadpool dan Logan sudah melakukan ini jauh sebelumnya, dan ini bukan lagi hal yang baru. Dialog panjang pertama pada adegan pembuka episode 01, antara Chris dan tukang pel RS adalah satu contoh bagus yang mewakili dialog sepanjang serinya. Untuk genrenya, bisa jadi seri ini memecahkan rekor penggunaan kata-kata kasar, itu belum termasuk jumlah korban tewas (entah manusia atau alien, bagi saya sama saja).

Baca Juga  Sentinelle

Stempel Gunn tampak di mana-mana, termasuk tema narasinya. Sisi keluarga, khususnya hubungan Chris dengan ayahnya menjadi satu penekanan plotnya (Ingat plot Guardian Vol. 2, antara Quill dan Ego?). Belum lagi karakter tokoh-tokohnya yang unik dan nyeleneh, tidak pernah serius, dan saling mengumpat kasar, ini persis sama Guardian. Di antara sosok-sosok yang kasar dan brutal tersebut, ada kehangatan di sana. Ya, keluarga. Sisi ini terlihat personal bagi sineas. Lalu untuk sisi estetik, tentu yang paling dominan adalah lagu dan musik, yang kali ini didominasi genre slow rock. Nyaris tidak ada satu pun adegan yang tidak ada lagu rock di dalamnya, sejak opening hingga ending credit.

Peacemaker dengan dominasi dialog komedi, aksi vulgar dan brutalnya, plus estetik sentuhan sang sineas bisa jadi adalah sempurna untuk target penontonnya, namun bisa jadi tidak untuk mayoritas penonton. Peacemaker bukan hal baru bagi sang sineas, hanya saja, kali ini ia mendapat ruang bermain lebih besar serta kebebasan untuk melakukan apa saja yang ia mau. Ini tinggal masalah selera penonton. Saya hanya bisa menikmati segelintir momen dalam film ini, bukan karena tidak terhibur, namun seringkali aksi dan banyolannya sangat kelewatan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaPelangi Tanpa Warna
Artikel BerikutnyaTexas Chainsaw Massacre
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses