Sudah lama, saya tidak menyaksikan tontonan drama-crime thriller berkelas dalam beberapa tahun terakhir, mungkin sejak film masterpiece arahan Coen Brothers, No Country for Oldman. Pig yang dibintangi aktor kawakan yang memudar pamornya, Nicholas Cage, tak disangka-sangka muncul menampilkan sebuah sajian berkelas yang amat langka pencapaiannya. Pig adalah film garapan sineas debutan, Michael Sarnoski, yang sekaligus menulis naskahnya. Selain Cage, Pig dibintangi oleh Alex Wolf dan Adam Arkin. Apa istimewanya sebuah Pig?

Dikisahkan Rob (Cage) adalah seorang pemburu jenis jamur langka (truffle) yang telah belasan tahun tinggal menyendiri di tengah hutan ditemani babi peliharaannya. Rob menggunakan penciuman sang babi untuk mencari apa yang ia cari. Secara rutin tiap pekan, partnernya, Amir (Wolf) mengambil stok jamur truffle yang ada. Suatu ketika, sang babi dirampas oleh sekelompok orang. Rob pun kembali ke kota bersama Amir mencari babinya yang hilang.

Jamur Truffle? Rasanya orang awam masih banyak yang belum mengenali jamur ini. Jamur ini konon adalah salah satu bahan makanan termahal di dunia. Untuk jenis tertentu, jamur ini per kg-nya bisa mencapai ribuan dollar! Tercatat, jamur jenis white truffle termahal yang pernah dijual adalah nyaris bernilai USD 0.5 juta!! (Sumber: link)  Hah, mengapa bisa semahal ini? Jamur ini konon teramat sulit dicari, apalagi dibudidayakan. Habitatnya di bawah tanah dan dibawah pohon tua jenis tertentu, seperti ek, hazel, dan poplar yang lazimnya terdapat di wilayah Eropa/AS. Pencari jamur ini seringkali menggunakan babi betina, karena aroma jamur ini konon menyerupai aroma babi jantan. Plot Pig memang terkait erat dengan jamur ini untuk memahami motif kisahnya.

Pig, sejak awal kisahnya sudah memunculkan banyak pertanyaan. Siapa Rob, mengapa ia tinggal menyendiri di hutan, dan lain-lainnya. Kisah mulai berubah arah ketika sang babi dirampas. Latar sosok Rob yang amat minim, lambat laun mulai terkuak. Penikmat film sejati mungkin sudah mencium gelagat sejak awal, bahwa Rob pasti bukan orang sembarangan. Trik pengembangan plot sejenis sudah sering digunakan dalam film. Namun, Rob bukan John Wick atau jagoan lain yang sering kita lihat. Ia hanyalah seorang koki, dan juga bukan koki kebanyakan.

Baca Juga  47 Meters Down: Uncaged

Sisi misteri identitas Rob, atau nama panjangnya, Robin Feld, adalah salah satu penokohan karakter yang langka dan terbaik, sejauh saya pernah menonton film. Penonton terus dibuat penasaran akan sosok eksentrik ini dengan perspektif cerita yang unik, dan ada momen ketika kita mengira dia adalah “John Wick”. Rob adalah seorang maestro yang sudah tidak butuh apa pun dalam hidupnya. Uang dan materi tidak bernilai baginya. Luka ditubuhnya sudah tidak lagi bisa ia rasakan. Hanya ada satu kelemahan kecil dalam dirinya. Pencarian ini tak disadari Rob adalah sebuah perjalanan spritual baginya, menyusuri masa lalu untuk mencari sesuatu yang hilang dalam hidupnya untuk mencapai ketenangan jiwa. And what a Journey, baik untuk Rob maupun bagi penonton.

Peran Rob yang jenius dan eksentrik diperankan sangat impresif oleh Cage. Bagi saya, ini adalah pencapaian terbaik dalam karirnya sebagai aktor. Rob yang tak banyak omong dan hanya bicara seperlunya, mengandalkan ekspresinya untuk memancarkan karisma yang membuat orang segan pada sosok ini. Aktor muda, Alex Wolf, menjadi pendamping yang ideal untuk Rob, serta medium bagi penonton, yang sama-sama terkejutnya dengan sosok maestro di hadapannya ini. Piala Oscar untuk Cage? Kita lihat saja tahun depan.

Melalui kisah dan penokohan unik, serta penampilan memukau sang bintang, Pig menyajikan salah satu drama thriller terbaik dalam beberapa dekade terakhir. Sang sineas debutan jelas memiliki talenta langka. Dengan bahasa gambar, melalui perpaduan setting, tata cahaya, sinematografi, serta musik, ia mampu menghadirkan sosok Rob dengan segala pesona dan karismanya. Lalu kaitannya, dengan jamur truffle? Ini bukan masalah kuliner semata. Nuansa filosofi timur terasa kental. Rob ibarat seorang “raja” yang telah meraih segalanya dalam kehidupan, dan menyendiri dalam hutan melepas segala atributnya untuk memburu “berlian langka” dengan bantuan babi (“hewan paling kotor”) peliharaannya yang amat ia cintai. Sang babi adalah bentuk trauma batin yang masih belum bisa ia lepaskan. Adegan penutup menegaskan bahwa ia telah berdamai dengan dirinya sendiri. Pig, tidak ada keraguan adalah salah satu film drama terbaik dalam beberapa dekade terakhir. Salut!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaI
Artikel BerikutnyaRising Wolf
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

1 TANGGAPAN

  1. Saya gak ngerti filmnya om sengaja saya cari referensinya, duel bawah tanah maksudnya apa, terus babak belur masuk restoran gak ada yg peduli, cuci muka dulu harusnya hehe , ekspetasi John Wick

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.