Planet of the Humans adalah film dokumenter lingkungan yang dirahkan, ditulis dan diproduseri oleh Jeff Gibbs. Kolega sesama sineas dokumenter, sutradara kawakan, Michael Moore menjadi eksekutif produser. Tak ada yang lebih sempurna, merilis Planet of the Humans pada Hari Bumi Internasional (22 April), sekaligus di saat umat manusia secara global tengah dilanda pandemi Covid-19. Kalian bisa menonton film ini secara gratis di channel Youtube yang link-nya terdapat pada bagian bawah artikel ini. Saya hanya bisa mengatakan, menonton Planet of the Humans (judulnya jelas terinspirasi dari seri film fiksi ilmiah populer) adalah salah satu pengalaman paling emosional dan menyentuh yang pernah saya alami.

Energi fosil (minyak dan batu bara) adalah sumber energi utama di muka bumi ini. Bioenergi serta biomassa yang kini diproduksi aktif sebagai alternatif pengganti energi fosil sudah dilakukan sejak beberapa dekade lalu. Film ini lebih jauh mengeksplorasi lebih dalam tentang penggunaan energi terbaharukan ini, yang berlindung dibalik kata-kata “green energy” serta simbiosis koorporasi raksasa di belakangnya.

Sebelumnya, kita bahas dulu gaya filmnya yang memang tak jauh dari gaya Michael Moore, baik tema maupun estetik. Sang sutradara sendiri, Jeff Gibbs menjadi narator yang juga aktif berinteraksi dengan puluhan narasumber sepanjang filmnya. Alur plotnya bertutur semakin sempit dengan struktur sederhana, lengkap dengan fakta yang solid. Sineas secara efektif menggiring penonton melalui fakta-fakta di lapangan dengan argumen yang tak terbantahkan. Puluhan narasumber dipilih dengan cermat, baik pro maupun kontra agar memperoleh argumen yang seimbang.

Juga seperti Moore, visualisasi grafis serta montage, disajikan dengan sangat dinamis seperti tersaji apik dalam segmen How Solar Cells and Wind Turbines are Made. Shot pembuka yang diambil dari satelit yang memperlihatkan keindahan bumi dari angkasa mengawali filmnya dengan sempurna. Walau faktanya di bawah, tak seindah yang terlihat. Cuplikan gambar berita atau rekaman memiliki banyak peran penting untuk menjelaskan fakta serta argumen sepanjang filmnya. Ending footage yang begitu mengerikan, rasanya bakal membuat penonton “bergidik”, terlebih kita yang tinggal di Indonesia, karena kejadiannyai diambil di sini. Sad but true.

Tak ada keraguan, film ini bakal mencerahkan kita tentang banyak hal tentang energi alternatif atau energi hijau. Energi alternatif, contohnya solar sistem dan turbin angin, ternyata tidak “sehijau” yang seperti kita bayangkan. Bahkan lebih buruk dari yang kita pikir. Dengan cara sederhana dan gamblang, sang sineas mampu mengarahkan penonton secara efektif, ke mana ia akan membawa filmnya.

Baca Juga  The King's Man

Dalam satu pesta perayaan solar di Vermont, menggunakan 100% energi solar untuk menjalankan aktivitas festivalnya. Rupanya sang sineas mendapati generator sebagai back up cadangan listriknya kala hujan datang. Dalam satu promosi mobil “hijau” produksi General Motor, sang sineas dengan pertanyaan sederhana membuat wakil dari GM gelagapan, “Lantas listrik untuk men-charge mobil (listrik) ini berasal dari mana?”. Ini adalah inti pertanyaan besar dari film Planet of the Human. “Kita tidak bisa mengganti sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang buruk pula” ungkap satu narasumber. Semua, akhirnya mengarah kepada koorperasi raksasa yang saling terkait satu sama lain yang melindungi kapitaslime modern di balik kata-kata “green energy”, serta bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan secara global. Tak terkecuali pula, dari negara kita tercinta ini, seperti terpapar di filmnya. Sad but true.

Planet of the Humans adalah salah satu film dokumenter lingkungan paling penting di era modern yang mempertanyakan segala hal tentang energi alternatif dan kooorporasi di baliknya, serta yang terpenting adalah mampu membuat kita merenung tentang kehidupan dan eksistensi sebagai manusia di bumi ini. “Saya takut, dan ini semua (kerusakan lingkungan) tidak bisa membuat saya tidur dengan nyenyak”, jawab satu pengamat lingkungan ketika ditanya sang sineas, apa pertanyaan (soal lingkungan) yang tidak pernah ditanyakan padanya.

Ya, seperti pernyataan dalam filmnya, bumi kita kini sudah melewati kapasitas dukungnya. Dalam satu abad terakhir, kerusakan lingkungan sudah dalam situasi paling kritis sepanjang umur planet kita. Mengutip satu pernyataan dari tulisan saya sebelumnya yang terinspirasi dari sebuah film bencana. Alam selalu mencari keseimbangan. Tinggal kita memilih, kita sebagai manusia yang menyeimbangkan alam, atau alam yang akan menyeimbangkan kita (dengan caranya yang paling brutal). Apakah pandemi COVID-19 adalah bentuk jawaban dari alam terhadap aksi umat manusia? Saya tidak tahu. Bisa jadi, ini hanya permulaan. Kutipan akhir filmnya dari setengah abad lalu menjelaskan semuanya.

Humankind is challenged, as it never challenged before, to prove its maturity and its mastery – not of nature, but from itself”.

Selamat menonton filmnya!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaAbe – English
Artikel BerikutnyaPlanet of the Humans – English
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses