Prey adalah film thriller produksi Jerman arahan Thomas Sieben. Film rilisan Netflix ini dibintangi beberapa bintang lokal, yakni David Kross, Hanno Koffler, serta Maria Ehrich. Pada masa pandemi dengan segala protokolnya, genre thriller rupanya memang menjadi favorit karena mampu menyajikan sisi ketegangan dalam ruang/setting maupun pemain yang terbatas. Prey menggunakan pula strategi produksi yang sama, apakah lantas mampu menjadi tontonan yang menarik?

Lima orang laki-laki, termasuk kakak beradik, Albert (Koffler) dan Roman (Kross) tengah merayakan pesta bujangan sang adik di wilayah hutan terpencil. Sesaat sebelum meninggalkan lokasi tersebut, mereka mendadak diteror oleh seorang pemburu misterius bersenjata api. Seorang dari mereka terluka, dan perburuan pun dimulai.

Dengan premis sederhana, film ini memulai kisahnya dengan baik serta mampu memancing hebat rasa penasaran penonton. Apa yang terjadi dan siapa yang meneror mereka? Sayangnya, dalam perkembangan, film ini tak mampu memberi sentuhan thriller yang menggigit. Beberapa momen, plotnya terasa membuang waktu dan ancaman pun seolah tak nyata bagi mereka dengan sikap yang (bagi saya) terlalu “santai” untuk situasi semacam ini. Beberapa aksi pun terasa janggal, contoh saja sudut ruang tembak si pemburu yang seolah tak mengenal arah. Berjalannya waktu, identitas sang pemburu pun terungkap. Cuplikan kilas-balik, Roman dan sang tunangan, ternyata memiliki relasi emosional dengan motif sang pemburu. Sayangnya, ini tak juga mampu membantu mengangkat filmnya.

Prey menyajikan thriller dengan premis menarik, sayangnya tanpa aksi dan resolusi yang menggigit. Potensi sisi ketegangan dan horor (sosok sang pemburu), serta atmosfir hutan sebenarnya cukup untuk mendukung kisahnya. Hanya saja, sineas kurang terampil memaksimalkan semua potensi ini. Relasi psikologis antara trauma Roman dan sang pemburu pun tidak tergali lebih dalam, baik secara cerita maupun pesannya. Dunia yang bagai hutan rimba dengan segala kegilaannya, mampu membuat seseorang hilang kewarasannya, namun rupanya tidak untuk Roman. Lantas, kisah ini untuk apa disajikan?

Baca Juga  A Man Called Ove

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaDon’t Breath 2
Artikel BerikutnyaMalignant
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.