Reminiscence (2021)
116 min|Mystery, Romance, Sci-Fi|20 Aug 2021
5.9Rating: 5.9 / 10 from 66,027 usersMetascore: 46
Nick Bannister, a private investigator of the mind, navigates the alluring world of the past when his life is changed by new client Mae. A simple case becomes an obsession after she disappears and he fights to learn the truth abou...

Reminiscence adalah film fiksi ilmiah investigasi arahan Lisa Joy yang seperti kita tahu dikenal dengan seri televisi arahannya Westworld. Film berbujet USD 68 juta ini dibintangi aktor-aktris besar, Hugh Jackman, Sarah Ferguson, Cliff Curtis, Thandice Newton, serta Daniel Wu. Film yang dirilis platform HBO MAX ini selama sebulan bersamaan dengan rilisnya di teater. Film si-fi investigasi memang bukan hal baru bagi genrenya, namun Reminiscence memiliki beberapa keunikan tersendiri.

Di masa datang, global warming menyebabkan permukaan air laut naik, dan seluruh kota di dunia kini terendam air, tidak terkecuali kota Miami. Nick (Jackman) adalah seorang seorang penyedia jasa yang memiliki teknologi untuk membawa seseorang untuk bisa kembali ke masa lalu melalui pikiran. Klien Nick kebanyakan adalah orang-orang yang tak mampu melepas masa lalunya, dan sesekali ia membantu investigasi polisi jika mereka memiliki jalan buntu. Suatu ketika, seorang perempuan bernama Mae (Ferguson) datang, hanya untuk mencari kunci rumahnya yang hilang. Nick pun jatuh hati pada Mae, dan mereka pun menjalin hubungan asmara. Hingga suatu, ketika Mae menghilang tanpa jejak, dan Nick yang emosional memulai investigasi dengan caranya untuk menambal lubang hatinya.

Satu hal menarik, jelas ada pada setting kisahnya yang unik. Rasanya baru kali ini medium film menyajikan kisah dengan nyaris seluruh kota terendam air hingga beberapa meter. Berbeda dengan Water World, di mana daratan benar-benar terendam seluruhnya. Ini tentu berdampak besar pada plotnya yang selalu bergerak ke sana ke mari menggunakan moda transportasi kereta atau kapal boat. Hanya saja sayangnya, setting ini sebenarnya ideal untuk filmnoir, yang memiliki semua cirinya, termasuk plot investigasi rumit, femme fatale, hingga jalanan basah, cuma setting waktu cerita saja sebagian besar di siang hari (filmnoir dominasi malam hari) dan minus asap rokok. Oke, saya terima jika diistilahkan “neo-noir”.

Satu lagi hal menarik tentu adalah teknologi untuk membaca masa lalu yang dimiliki Nick. Entah mengapa, teknologi ini langsung mengingatkan saya pada Inception dan The Matrix walau konteks kisah dan motifnya jelas berbeda. Walau ide ini boleh dibilang tak sepenuhnya orisinil, namun kaitan dengan setting kisahnya yang membuatnya menjadi menarik. Tidak hanya satu kota yang terendam air laut, namun pikiran manusianya (semua tokoh dalam filmnya) pun juga “terendam” (trauma) oleh masa lalu mereka. Coba saja perhatikan. Hanya saja, saya merasa agak janggal dengan visualisasi masa lalu melalui alat yang ada di kantor Nick. Jika visualisasinya berupa POV shot subyeknya masih terasa masuk akal, namun jika berupa 3D, kok rasanya agak mustahil. Ya, kita tahu, ini diperuntukkan kita yang menonton agar terlihat lebih nyaman, hanya sedikit janggal saja. Lalu Nick, dengan alat penyedia jasa semacam ini, dia bisa menghasilkan uang jutaan dollar dengan mudah tapi ia tidak menggunakannya untuk profit. Hmm.. mungkin pada masa ini, tradisi kapitalis juga ikut larut terendam air laut.

Baca Juga  Thor: Love and Thunder

Bicara investigasinya, selain setting, ini rasanya adalah satu hal paling menyenangkan dalam plotnya. Dengan berbekal alat yang dimiliki Nick, investigasi berjalan menarik, mencari kepingan informasi dari petunjuk-petunjuk yang Nick dapat dari data para kliennya yang secara kebetulan saling terhubung. Seperti sudah diduga, pencarian Mae, berujung pada seseorang paling berpengaruh di kota ini dan ternyata lebih kompleks dari yang kita pikir. Sementara untuk Mae, opsinya cuma dua, ia adalah sosok manipulatif atau sebenarnya ia tulus mencintai Nick? Hmm.. Coba ceritakan kisah happy ending dan kamu potong di tengahnya, kata Mae dalam satu momen.

Di luar setting-nya yang luar biasa unik, Reminiscence menyajikan premis segar melalui plot investigasi yang konvensional. Untuk genrenya, setting kisahnya adalah sesuatu yang baru sekalipun tak ada yang istimewa dari plotnya. Bagi sang sineas yang juga mengarahkan seri televisi populer Westworld, setting macam ini sudah tidak lagi asing. Ia pun juga membawa aktris regulernya, Thandiwe Newton berperan sebagai partner Nick. Sebagai penutup, film ini jelas tidak selevel dengan film-film sci-fi masterpiece dengan plot senada, macam Blade Runner, Dark City, atau pun Inception. Bagi yang ingin menonton film sci-fi investigasi dengan sedikit berpikir, Reminiscence boleh jadi adalah film yang pas buatmu.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Green Knight
Artikel BerikutnyaStillwater
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.