Resistance (2020)
120 min|Biography, Drama, History|27 Mar 2020
6.5Rating: 6.5 / 10 from 9,052 usersMetascore: 53
The story of mime Marcel Marceau as he works with a group of Jewish boy scouts and the French Resistance to save the lives of ten thousand orphans during World War II.

Untuk saat ini, rasanya sulit mencari kisah yang segar bertema Perang Dunia II. Ratusan film rasanya sudah masuk dalam kategori ini dengan beragam variasi genre. Resistance mencoba mencari celah baru melalui kehidupan sosok tokoh utamanya yang seorang seniman pantomim. Resistence merupakan film biografi berlatar perang yang fokus pada sosok seniman legendaris, Marcel Marceau. Marcel semasa mudanya adalah seorang pejuang yang mampu menyelamatkan ribuan anak-anak Yahudi dari wilayah terdampak Perang Dunia II. Resistance diarahkan oleh Jonathan Jakubowicz dengan dibintangi oleh Jesse Eisenberg, Ed Harris, Clémence Poésy, Edgar Ramirez, hingga Matthias Schweighöfer.

Marcel (Eisenberg) adalah seorang seniman pantomim yang dibilang ayahnya selalu mementingkan dirinya sendiri, terlebih di masa perang. Marcel tinggal di kota perbatasan wilayah Perancis yang berjarak hanya satu mil saja dari wilayah yang diduduki pihak Nazi. Suatu ketika, rekan-rekan Marcel membantu ratusan anak Yahudi dari seberang yang orang tuanya dibunuh tentara Nazi. Bakat seni Marcel ternyata mampu menghibur mereka di tempat penampungan. Kondisi politik yang memburuk mengharuskan warga harus meninggalkan kota dan tentu saja anak-anak yatim piatu tersebut. Mau tak mau, Marcel dan rekan-rekannya harus membawa anak-anak tersebut sekaligus melindungi keselamatan mereka sendiri dari pihak Nazi.

Kisahnya memang menarik di awal, namun berjalannya cerita, alur plotnya menjadi tak terarah. Mengapa tak menekankan cerita hanya pada usaha menyelamatkan anak-anak ini? Kisahnya memang diambil dari kejadian sungguhan sang tokoh, tentu bisa dimaklumi jika penekanan kisahnya pada sosok ini. Namun, ini pun tetap tak konsisten pada perkembangan plotnya. Konflik anak, seolah terlupakan sejak ambisi Marcel masuk ke kelompok bawah tanah perlawanan Nazi. Segmen kisah ini nyaris tak punya fungsi selain mengenalkan sosok Gestapo bengis bernama Klaus Barbie. Peran sosok Marcel terasa lemah sepanjang separuh akhir film, tertutup oleh sosok Barbie. Bahkan akting pemeran antagonis ini pun (Schweighöfer), jauh lebih berkesan ketimbang Eisenberg.

Baca Juga  Free Fire

Kisahnya yang lemah dan tak terarah, namun tidak demikian dengan penggunaan setting-nya. Tampak sekali penggunaan shot on location di banyak lokasi yang benar-benar terlihat otentik, khususnya segmen di stasiun kereta api dan alun-alun tengah kota Lyon. Selain ini, tak ada hal lain yang menonjol dalam filmnya. Aspek teknis pun kurang lebih sama. Dua adegan yang berkesan sepanjang filmnya adalah ketika Marcel berpantomim di depan anak-anak, dan satu lagi adalah ketika anak-anak yang tengah ber-choir di gereja dipotong oleh Barbie yang tengah menembak para Yahudi di kolam renang yang kosong. Sungguh mengherankan, mengapa mereka tidak mampu membuat adegan berkelas macam ini di banyak adegannya? Adegan penutup di panggung yang seharusnya bisa amat menyentuh, terasa antiklimaks, sama sekali tak membekas.

Resistance memiliki ide cerita segar berlatar Perang Dunia II, hanya saja eksekusi naskahnya yang terlalu melebar menjadikan kisahnya tidak konsisten. Judul film Resistance, rasanya juga kurang pas, dan kisahnya pun kurang mewakili ini. Sosok aktor lain, selain Eisenberg rasanya ada yang lebih pas untuk memerankan sosok ikonik sebesar Marcel. Aksen Eropa sang aktor pun terdengar janggal dan lebih terasa aksen aslinya (AS). Secara keseluruhan, sangat disayangkan, film ini tak mampu memanfaatkan potensi kisahnya dan sosok seniman sebesar Marcel Marceau. Marcel pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Captain
Artikel BerikutnyaCrash Landing on You
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

2 TANGGAPAN

  1. Akan lbh bagus jika resensi film berikut penilaiannya tdk melulu hanya dari sisi filmografinya. Apalagi ini film sejarah yg didedikasikan utk tokoh & peristiwa nyata. Byk hal yg bisa dihayati dr film semacam ini.
    Klo sy si tk kasi nilai 99. Pokok e film nya niat bikinnya, actor, setting, dll & bisa menyampaikan informasi berikut pembelajaran pesannya maka film itu layak dinilai bagus. Apalagi yg sanggup bikin penontonnya jd penasaran googling ttg kisah sebenarnya.
    Salam sejarah..

    • Terima kasih sebelumnya atas responnya,

      Pembahasan dan ulasan film kami memang lebih banyak menekankan pada sisi naratif dan filmografinya karena kompetensi para penulis kami semua ada di bidang ini. Film menurut kami, tidak hanya melulu mampu menampilkan kisah yang bagus, tapi juga bagaimana film tersebut dikemas secara filmis. Semua ulasan pasti punya ciri khasnya masing-masing dan mustahil bisa mencakup semua sisi dalam sebuah film. Penulis yang mempunyai latar sejarah kuat, terlebih untuk satu tokoh dalam sebuah film biografi, tentu akan lebih kuat membahas sang tokoh. Itu mengapa, banyak ulasan tentang sebuah film akan semakin baik pula bagi pengembangan seni film. Jika sebuah film kami nilai buruk, bukan lantas berarti film itu buruk, namun untuk genrenya bisa jadi film tersebut sudah terlalu umum. Demikian penjelasan kami. terima kasih. Salam film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.