Resort to Love adalah film komedi romantis arahan Steven Tsuchida dengan diproduseri oleh penyanyi kenamaan Alicia Keys. Film ini dibintangi aktris dan juga penyanyi Christina Milian, didampingi Jay Pharoah, serta Sinqua Walls. Film berdurasi 101 menit ini diproduksi dan dirilis oleh Netflix minggu ini. Rasanya, sejak Crazy Rich Asians (2018), tak ada lagi film komedi romantis berkualitas dan menghibur, lalu bagaimana Resort to Love?

Erica (Milian) yang gagal dalam pertunangannya, kini gagal pula dalam karirnya sebagai penyanyi. Untuk mengobati batin dan situasi ekonominya, Erica pun menerima tawaran pekerjaan sebagai penyanyi di resor mewah di sebuah pulau yang sangat indah di Mauritania. Ketika Erica mulai melupakan segala masalahnya di sana, justru masa lalunya kembali ke hadapannya. Siapa sangka, mantan tunangannya, Jason, kini akan menikah di resor tempat ia bekerja.

Yah, bagi fans komedi romantis, Resort to Love rasanya sudah tidak lagi menawarkan sesuatu yang baru dari plotnya. Pengembangan kisah hingga ending sudah tak sulit diantisipasi. Proses kisahnya yang penuh gereget adalah yang membuat film komedi romantis begitu digemari. Tapi tak ada dominasi drama cinta di sini, namun justru bagaimana harus move on darinya. Di sela-sela kisah cinta lamanya, kakak Jason hadir untuk menambah selipan roman yang menambah ramai konfliknya. Harus diakui, ada beberapa momen humor apik di seputar titik balik pertama kisahnya, namun hanya itu saja. Kisah yang awalnya menarik serta mampu memanfaatkan potensi lokal setting-nya, berkembang menjadi semakin klise hingga ke belakang. Setting dan pesona alamnya yang luar biasa cuma terasa sebagai pajangan. Peristiwa ini bisa terjadi di mana saja.

Baca Juga  Squid Game

Di luar pesona lokal yang menakjubkan dan penampilan memikat sang bintang, Resort to Love terbilang klise untuk genrenya. Satu yang sangat mencuri perhatian jelas adalah sang bintang, Christina Milian. Saya pun masih asing dengan bintang yang satu ini. Ia mampu bermain sangat baik sepanjang film jika tidak dikecewakan oleh pengembangan naskahnya. Jika diberi kesempatan bemain dalam skenario berkelas rasanya ia masih mampu memaksimalkan potensi aktingnya. Untuk setting-nya yang amat luar biasa? Tolong masukkan saja ke daftar setting film Bond berikutnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaDevil on Top
Artikel BerikutnyaGhibah
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.