Russian Doll (2019–2022)
30 min|Comedy, Drama, Mystery|01 Feb 2019
7.7Rating: 7.7 / 10 from 106,525 usersMetascore: N/A
A cynical young woman in New York City keeps dying and returning to the party that's being thrown in her honor on that same evening. She tries to find a way out of this strange time loop.

Sejak dua dekade lalu, film serial kini tengah dalam masa emasnya dengan bujet produksinya yang relatif lebih murah dari film bioskop serta memberi profit yang besar. Di luar masalah profit, ada satu keuntungan lagi yang didapat dari pembuat film seri, yakni mereka bisa memainkan plotnya dengan durasi yang lebih fleksibel. Film bioskop rata-rata berdurasi 90-120 menit, namun film seri bisa berdurasi tak terbatas, terlebih jika seri tersebut berlanjut dari tahun ke tahun. Dulu, Kisah film seri umumnya terpisah dari satu episode ke episode lainnya. Penonton pun bisa mengikuti satu kisahnya secara mandiri tanpa harus melihat episode sebelumnya. Kini, justru kebanyakan tiap episode memiliki kontinuitas cerita yang tidak terpisahkan. Ibarat film panjang yang dibagi dalam banyak episode.

Saya sendiri tak banyak mengikuti film seri, bukan karena tak suka, namun karena film seri memang membutuhkan waktu menonton yang lebih lama. Konsep film bioskop dan film seri memang berbeda. Memang disayangkan, ada beberapa film seri yang menurut saya sebenarnya punya potensi besar jika dibuat versi bioskopnya, salah satunya adalah Russian Dolls yang dirilis Netflix awal tahun lalu. Film seri ini memiliki 8 episode yang masing-masing berdurasi 24-30 menit. Salah satu keunikan filmnya adalah menggunakan formula loop plot (plot berulang) yang lazimnya banyak digunakan film bioskop.

Seri Russian Dolls diarahkan oleh Leslye Headland (4 episode), Jamie Babbit (3 episode), dan Natasha Lyonne (1 episode). Lyonne sendiri juga adalah bintang utama dalam filmnya sekaligus menjadi penulis naskahnya bersama Headland dan Amy Poehler.  Bagi saya, Russian Dolls adalah satu film panjang yang dpecah dalam 8 episode. Film ini adalah sebuah pencapaian naskah brilian dengan lusinan karakter yang unik dengan pengembangan formula loop plot yang berbeda dari film-film sejenisnya.

Kisahnya mengikuti sosok Nadia Vulvokov (Lyonne), seorang pembuat dan programer game yang hidupnya bebas dengan gaya hidupnya yang urakan. Saat itu adalah pesta perayaan ultahnya yang ke-36. Kita disajikan rutinitas dan pergaulan Nadia dengan rekan, pacar, hingga orang lain yang baru dikenalnya. Dalam satu momen, Nadia tewas tertabrak taksi ketika melihat kucing peliharaannya di seberang jalan. Anehnya, Nadya kembali ke momen di saat sebelumnya ia berpesta merayakan ultahnya. Peristiwa ini berulang terus ke momen yang sama saat ia kembali tewas karena belasan sebab yang berbeda. Ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya dan tanpa diduga ia bertemu Alan, seorang pria muda yang rupanya memiliki pengalaman yang sama dengan Nadia.

Baca Juga  Borg vs McEnroe

Seperti kita tahu, sejak The Groundhog Day, formula ini sudah banyak digunakan dalam film dengan ragam dan variasi pengembangan yang berbeda. Namun, ada satu film yang formula loop plot-nya mirip dengan Russian Doll, yakni film Korea Selatan, A Day. Film ini bahkan menggunakan 3 orang tokoh yang terjebak dalam loop yang sama, sementara Russian Doll hanya  2 orang. Walau bagi saya, tak sebaik Groundhog Day dan A Day, Russian Doll memilki banyak kelebihan lainnya, satu diantaranya adalah penampilan menawan sang bintang utama. Lyonne membuat film ini benar-benar hidup dengan sosoknya yang energik, urakan, dan nyaris tak pernah menganggap banyak hal terlalu serius. Nadia adalah sosok yang tidak bisa diprediksi, dan ini yang membuat formula loop plot-nya juga sulit diantisipasi.

Satu hal yang menarik adalah motif penggunaan loop plot-nya. Alan mengatakan, bisa jadi ini adalah hukuman buat mereka karena kesalahan yang mereka lakukan. Bisa jadi memang ini, tapi dipatahkan oleh Nadia sendiri yang mengatakan bahwa Alan adalah orang baik, tidak seperti dirinya. Tidak hingga seri final, pertanyaan ini setidaknya bisa sedikit terjelaskan. Walaupun motifnya tetap kurang tegas, mengapa harus Nadia dan Alan? Keduanya memang memiliki masalah. Nadia dengan trauma masa kecilnya dan Alan dengan kepercayaan dan mental dirinya, namun ini tetap tak menjelaskan secara kuat apa hubungan batin antara keduanya. Saya berharap sebuah jawaban yang memuaskan. Seri musim kedua? Bagi saya, seri film ini sudah cukup satu musim.

Russian Dolls adalah seri fantasi unik dengan penggunaan formula loop plot yang terbilang inventif dengan penampilan memukau dari sang bintang utama. Russian Dolls membuktikan bahwa formula ini masih mampu dikembangkan lebih jauh dengan motif naratif dan kemasan visual yang beragam. Saya masih menunggu, film lainnya yang menawarkan konsep dan cerita yang lebih baik. Bagi penikmat film, Russian Doll adalah sebuah pengalaman yang sangat mengasyikkan melalui permainan plotnya. Setidaknya film ini mampu memberi pengalaman bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sekecil apapun. Kesempatan, memang selalu ada untuk membuat perubahan. Kesempatan tidak datang dua kali, bisa saja ini salah, tapi bisa berulang kali, hanya tergantung kita, apakah mampu membaca isyarat di sekitar kita?

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaTigertail
Artikel BerikutnyaMortal Kombat Legends: Scorpion’s Revenge
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.