Beberapa waktu lalu, terjadi sebuah insiden mengerikan di Mako Brimob Depok. Konfrontasi para napi dengan pihak kepolisian yang menewaskan beberapa petugas. Sayap-Sayap Patah yang digawangi oleh Monty Tiwa, Erik Tiwa, dan Alim Sudio sebagai para penulis lewat arahan Rudy Soedjarwo lantas dibuat berdasarkan kisah tersebut. Hadir dengan genre drama, laga, dan kriminal, film produksi Denny Siregar Production dan Maxima Pictures dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Ariel Tatum, serta para pemain lainnya yakni Iwa K., Poppy Sovia, Ariyo Wahab, Khiva Iskak, Dewi Irawan. Melihat rekam jejak ketiga penulis dan sutradaranya, apakah Sayap-Sayap Patah bakal tak sekadar drama semata?

Wilayah Surabaya tengah diramaikan dengan aksi-aksi teror oleh sekelompok orang di bawah pimpinan Leong (Iwa K.). Tim kepolisian dan Densus 88 antiteror dari Surabaya, Banyuwangi, Depok, dan Jakarta lantas bekerja sama untuk membekuk mereka. Adji (Nicho), termasuk salah satu komandan dalam tim ini. Namun upaya yang berjalan lambat malah menewaskan anggotanya sendiri dan beberapa orang lainnya. Sementara Nani (Ariel), istrinya yang tengah memasuki masa-masa akhir kehamilan selalu dilanda kekhawatiran. Pergumulan antar suami-istri yang akan punya anak ini lantas menemui masalah, ketika situasi berubah drastis dan berbahaya, hingga meminta korban jiwa.

Sayap-Sayap Patah memang amat kental nuansa dramanya. Meski memiliki aksi laga pula, tetapi tak berdampak signifikan. Unsur-unsur pembentuk momen dramanya begitu kuat. Namun sang sineas agaknya lupa untuk membatasi, dan malah cenderung menumpuk sisi dramanya. Ada banyak detail dari setiap adegan dramatis maupun momen sedih yang semestinya bisa digali lebih dalam melalui variasi shot yang tepat dengan memaksimalkan shotshot dekat.

Beberapa kali juga terdapat adegan sisipan yang sebetulnya tidak terlalu penting adanya. Namun tetap dimasukkan sebagai pengisi durasi, sembari menunggu peristiwa lain di tempat yang berbeda untuk terjadi. Unsur aksi dan kriminal dalam Sayap-Sayap Patah yang sebetulnya berpotensi besar untuk digarap lagi dengan lebih baik, justru terabaikan. Cara-cara penanganan tim dari kepolisian maupun Densus 88 dikerjakan alakadarnya. Variasi gambar agar (minimal) unsur aksi dan kriminalnya bisa lebih tebal pun tak banyak. Ada, namun tipis.

Baca Juga  Calon Bini

Segi musik pun demikian. Memang ada kalanya berperan besar untuk memperdalam gejolak emosi terhadap cerita. Namun kadang justru cenderung berisik. Agak tidak konsisten, jika dilihat secara keseluruhan filmnya. Beberapa momen yang semestinya mampu mengaduk-aduk emosi penonton, malah terasa biasa dan berlalu begitu saja. Padahal kisahnya sendiri kemungkinan besar ditujukan untuk memperlihatkan gambaran momentum heroik dari peristiwa aslinya. Terutama masa-masa kritis yang terjadi di Mako Brimob.

Lain halnya dengan aspek dialog. Sayap-Sayap Patah boleh jadi merupakan salah satu dari sedikit film kita yang memiliki dialog yang baik. Mulai dari diksi, struktur, kalimat apa yang semestinya diutarakan, dan penentuan kapan setiap dialog terucap menunjukkan kemapanan para penulisnya. Ihwal dialog ini kian apik, saat didukung oleh olah peran kedua bintang utamanya, Nico dan Ariel. Keduanya membawakan karakter masing-masing dengan luwes, baik dalam momen dramatis, pertengkaran, maupun romantisme suami-istri. Apalagi jika kita mengingat bagaimana peran Ariel dalam Selesai, atau peran Nico dalam Paranoia.

Sayap-Sayap Patah punya drama yang amat kental dan kuat, tetapi sayangnya terseok-seok mengerjakan bagian laga dan kriminalnya. Ini bisa dimaklumi, sineas dan penulis naskahnya memang kita kenal melalui film drama, keluarga, atau roman. Beruntungnya, Sayap-Sayap Patah memilih para pemeran utamanya dengan tepat. Baik Nico sabagai Aji maupun Ariel sebagai Nani sama-sama telah matang dalam “memainkan” karakter masing-masing. Film ini terangkat berkat kehadiran mereka.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaPengabdi Setan 2: Communion, Sebuah Tribute Horor untuk Horor?
Artikel BerikutnyaEmergency Declaration
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.