Scary Stories to Tell in the Dark (2019)
108 min|Adventure, Horror, Mystery|09 Aug 2019
6.2Rating: 6.2 / 10 from 84,932 usersMetascore: 61
In 1968, the night of Halloween brings mayhem in a small town when a group of friends discovers a notebook written by a mysterious girl that foretells terrifying events.

Sebelum rilis It: Chapter 2, Scary Stories to Tell in the Dark rupanya mencoba mencuri start dengan menampilkan pula film horor bertema remaja berlatar waktu masa silam. Dengan gaya horor klasik ala “Twilight Zone”, film ini dibesut André Øvredal serta diproduseri sineas kawakan Guillermo del Toro. Naskah film ini sendiri diadaptasi lepas dari buku cerita horor anak, berjudul sama karya Alvin Schwartz. Film ini menampilkan para pemain remaja yang belum banyak dikenal, seperti Zoe Colleti, Michael Garza, serta Gabriel Rush. Lalu, apakah film ini mampu menampilkan sesuatu yang berbeda untuk film horor remaja sejenisnya?

Alkisah di kota kecil Mill Valley pada tahun 1968, warga kini tengah mempersiapkan diri mereka untuk malam Halloween. Satu kejadian kecil, akhirnya membawa sekelompok remaja, yakni Stella, August, Chuck, serta Ramon ke sebuah rumah angker di kota mereka yang kini tidak lagi dihuni. Rumah tua tersebut adalah milik Keluarga Bellows yang konon salah seorang dari putri mereka, bunuh diri di sana. Tanpa disadari, Stella dan rekan-rekannya dibawa ke suatu petualangan mengerikan yang membahayakan jiwa mereka.

Saya belum pernah membaca buku aslinya, namun dari sumber mengatakan bahwa buku ini berisi 29 kisah horor pendek yang diinspirasi penulis dari berbagai urband legend dan folklore. Entah, masing-masing cerita ini saling terkait (satu dunia cerita) atau tidak. Mengapa ini penting? jika memang tidak, berarti naskah filmnya terhitung sangat brilian! Film ini hanya menampilkan beberapa cerita horor (atau mengkombinasi) dari bukunya dan mampu dirangkum dalam satu dunia cerita utuh yang dikemas secara cerdas. Buku kutukan milik Sarah Bellows menjadi penyatu dari semua kisahnya dan plot film utamanya berada di lingkar luar semua kisah dalam bukunya. Bingung? Plot filmnya justru sederhana sekali.

Setelah Stella mengambil buku kutukan dari rumah angker tersebut, satu demi satu, cerita baru yang tertulis dengan sendirinya di buku tersebut selalu memakan korban. Dalam perkembangannya, satu kisah menegangkan mendadak berubah menjadi plot investigasi yang menarik. Layaknya plot film “Final Destination”, Stella dan kawan-kawan berpacu melawan waktu untuk mencari tahu misteri di balik semua, sebelum cerita baru tertulis di bukunya (yang berarti korban baru bakal jatuh). Dengan alur plot yang demikian membuat penasaran dan menegangkan, tak sulit bagi penonton untuk masuk dalam kisahnya sepanjang film. Para pemain remajanya yang berakting amat meyakinkan semakin membuat penonton tak bisa lepas dari layar sejak awal hingga klimaks.

Baca Juga  Retribution

Walau hanya duduk sebagai produser, namun sentuhan magis del Toro masih terlihat dalam filmnya. Siapa pun tahu, del Toro adalah master mise_en_scene untuk urusan film horor dan fantasi. Pada semua segmen horornya, kembali sosok-sosok monster unik dengan setting yang kuat disajikan. Efek horornya memang berbeda dengan seri “The Conjuring” yang banyak mengandalkan jump scare, namun film ini sangat efektif membangun ketegangan filmnya karena dukungan setting-nya. Satu contohnya, adegan ala “Kubrick” dalam aksi pengejaran di lorong rumah sakit yang disajikan sederhana, namun efek ketegangannya sungguh luar biasa. Momen horornya rata-rata memang berkelas walau jauh dari kata “seram” (baca: mengagetkan). Ini memang yang menjadi ciri khas del Toro.

Walau tak terhitung segar, Scary Stories to Tell in the Dark adalah film horor thriller remaja dengan plot misteri yang menegangkan sekaligus menghibur dengan dukungan akting para pemain serta elemen mise_en_scene yang kuat. Naskah brilian yang rapi tanpa cela, hebatnya lagi, memiliki nilai plus melalui pesan terselubung melalui metaforanya. Sejak awal filmnya, berita tentang Perang Vietnam dan Presiden Nixon, sering kali disisipkan sekilas dalam banyak adegannya. Ini jelas bukan tanpa maksud. Buku kutukan milik Sarah menuliskan takdir untuk para korbannya yang tak berdosa. Ini ibarat Perang Vietnam, di mana AS mengirim ratusan ribu tentaranya ke medan perang tanpa mereka tahu apa yang sesungguhnya mereka bela. Perang ini memakan korban ratusan ribu orang dan kelak Presiden Nixon pula yang menghentikan Perang Vietnam. Momen klimaks filmnya, disisipi momen kemenangan Presiden Nixon dalam pemilihan presiden tahun 1968.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaZeta: When the Dead Awaken
Artikel BerikutnyaWedding Agreement
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.