Scream merupakan seri kelima dari seri populer Scream yang rilis sejak 1996. Film ini untuk pertama kalinya tidak diarahkan oleh sineas horor kawakan Wes Craven, melainkan duo sineas, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyloe Gillett. Film ini menampilkan bintang-bintang muda pendatang baru, yakni Melissa Barrera, Mason Gooding, Jenna Ortega, serta para pemain bintang seri lamanya, Neve Campbell, Courtney Cox, David Arquette, serta Marley Shelton. Dengan genre horor yang kini telah banyak bergeser, mampukah Scream membuat sensasi seperti seri pertamanya?

Dua puluh lima tahun sejak pembunuhan pertama oleh sosok bertopeng di kota kecil Woodsboro, warga kini kembali diteror oleh sosok yang sama. Korban tewas kembali berjatuhan, dan satu korban yang selamat adalah Tara, adik dari Sam, yang ternyata adalah putri dari Billy Loomis (pembunuh seri pertama). Sam akhirnya meminta tolong eks sherrif, Dewey (Arquette) untuk membantu mengusut kasus ini, hingga kasus ini pun semakin membesar dan menarik perhatian jurnalis kawakan, Gale Weathers (Cox) yang juga mantan kekasih Dewey. Sementara korban pun terus berjatuhan dengan pola yang mulai terbaca.

Sejak opening, film ini sudah terlihat menggunakan formula yang sama dengan seri sebelumnya di mana kekuatan kisahnya adalah melalui selipan humor sinematiknya. Tribute film, termasuk film Stab (film adaptasi di kisahnya), dengan segala teori dan istilah seringkali dibincangkan oleh para tokohnya. Jujur, hanya sisi (nostalgia) ini yang mencuri perhatian. Sisanya, hanya usaha sang sineas untuk membalikkan semua formula yang ada sebelumnya agar terlihat orisinal. Apakah nyatanya begitu? Not at all. Segmen klimaks yang antiklimaks seolah menghilangkan semua hal menarik yang dibangun sejak awal kisahnya. Formula kisahnya yang mencoba mengecoh penonton melalui dugaan terhadap siapa pelakunya tidak lagi membuat penasaran karena tidak ada ikatan emosional yang cukup sepanjang kisahnya. Intinya, siapapun pembunuhnya, saya tidak terlalu peduli. Pun untuk korbannya. Sisi ancaman juga tidak lagi menggigit, bisa jadi karena formula kisahnya hanya itu-itu saja dengan sedikit variasi.

Baca Juga  Come True

Banyak membangkitkan momen nostalgia, Scream mencoba berdamai dengan penonton masa kini menggunakan elemen lama dalam format baru, walau babak ketiga terasa antiklimaks. Trik horor pun juga sama, sineas hanya tampak menunda atau mempercepat momen jump scare, tanpa membuat sesuatu yang baru. Pemain-pemain lama pun juga tidak banyak terlalu mengangkat kisahnya karena mereka sendiri sudah terlalu tua untuk ini. Ketimbang membuat “requel” (reboot- sekuel) macam ini dengan motif yang tak masuk akal, mending membuat reboot sungguhan dengan para pemain yang sama sekali baru. “I prefer The Babadook”, ujar Tara di penghujung. Hell yess.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSing 2
Artikel BerikutnyaThe 355
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.