Settlers (2021)
103 min|Drama, Sci-Fi, Thriller|23 Jul 2021
4.8Rating: 4.8 / 10 from 6,028 usersMetascore: 56
Mankind's earliest settlers on the Martian frontier do what they must to survive the cosmic elements and each other.

Lagi, satu film thriller fiksi ilmiah ber-setting unik dirilis tanpa ada monster atau alien kali ini. Settlers merupakan film thriller fiksi ilmiah produksi Inggris yang disutradarai oleh Wyatt Rockefeller. Film berdurasi 103 menit ini dibintangi Sofia Boutella serta sederetan pemain yang belum terlalu akrab bagi penonton, seperti Nell Tiger Free, Johnny Lee Miller dan Ismail Cruz Cordova. Walau hanya berkonsep minim ternyata filmnya sungguh istimewa, khususnya bagi penikmat genrenya.

Ilza (Boutella) dan Reza (Miller), beserta Remmy putri mereka adalah penghuni Planet Mars tersisa yang pindah dari Bumi yang sudah lama tak layak huni. Mereka tinggal di sebuah hunian luas dengan fasilitas mandiri yang memungkinkan mereka bertahan hidup untuk selamanya. Tak banyak latar cerita yang dikisahkan bagaimana mereka berada di sana dengan situasi seperti ini. Suatu ketika, sekelompok orang menyusup masuk ingin mengambil alih hunian tersebut. Korban berjatuhan, Ilza dan putrinya selamat, dan mereka pun dipaksa Jerry, satu dari mereka tersisa untuk tinggal bersamanya. Satu misteri terkuak, ternyata Jerry adalah penghuni lawas hunian tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?

Bagaimana mungkin mereka menghirup udara di Planet Mars? Bagaimana mereka bisa sendirian di sana tanpa ada manusia lainnya? Sejak kapan mereka berada di sana? Apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka dalam situasi seperti itu? Sejumlah pertanyaan pasti muncul sejak menit-menit pertama menonton filmnya. Sejalan dengan cerita, sejumlah pertanyaan selintas terjawab walau tak akan pernah ada penjelasan gamblang. Fokus kisah adalah memang bukan latar cerita, namun adalah para penghuninya sendiri.

Baca Juga  News of the World

Narasinya yang penuh misteri ditambah dengan penuturan tersegmen dalam bentuk babak. Total ada tiga babak yang secara unik dinamai para pelakunya. Tak banyak alur plot yang bisa dijelaskan di sini karena akan mengurangi kenikmatan menonton. Plotnya yang berjalan amat lambat memperlihatkan proses para penghuni ini dari waktu ke waktu. Dengan tokoh yang minim, lokasi dan panorama yang itu-itu saja, tanpa banyak dialog pula, segalanya terasa senyap sepanjang filmnya. Jika kita cermati prosesnya babak demi babak, secara tersirat menjawab inti pertanyaan-pertanyaan besar di atas. Film ini secara ringkas menggambarkan bagaimana insting dan sifat naluriah manusia dalam bertahan hidup dan bagaimana mereka tidak pernah belajar untuk menghargai apa yang sebenarnya telah mereka miliki. Benar dan salah semakin kabur. Ini tentu menjawab pertanyaan terbesar dalam kisahnya, mengapa bumi tak lagi layak huni?

Settlers merupakan film sci-fi unik yang brilian, menyajikan studi manusia dengan konsep minimalis dan sisi sinematografi yang mengesankan. Di tengah rasa frustasi kita akan alur plotnya yang lambat serta sisi misteri yang terus mengusik, panorama hunian, baik interior maupun lansekap Mars, tertangkap begitu apik dengan tata kamera yang solid dengan komposisi kuat. Para kastingnya bermain apik pula walau tanpa banyak dialog. Kesunyian dan kesendirian adalah poin terbesar kisah filmnya. Lebih jauh, apakah film ini menyinggung evolusi artificial intelegence? Sulit dikatakan karena hanya ada selintas petunjuk. Satu hal yang jelas, kadang ketidaktahuan adalah sebuah berkah yang tak ternilai. Melalui konsep dan bagaimana mereka mengemas ide besarnya secara brilian, Meander dan Settlers adalah dua film fiksi ilmiah terbaik tahun ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaAli & Ratu-Ratu Queens
Artikel BerikutnyaGunpowder Milkshake
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.