Settlers (2021)
103 min|Drama, Sci-Fi, Thriller|23 Jul 2021
4.6Rating: 4.6 / 10 from 1,797 usersMetascore: 57
Mankind's earliest settlers on the Martian frontier do what they must to survive the cosmic elements and each other.

Lagi, satu film thriller fiksi ilmiah ber-setting unik dirilis tanpa ada monster atau alien kali ini. Settlers merupakan film thriller fiksi ilmiah produksi Inggris yang disutradarai oleh Wyatt Rockefeller. Film berdurasi 103 menit ini dibintangi Sofia Boutella serta sederetan pemain yang belum terlalu akrab bagi penonton, seperti Nell Tiger Free, Johnny Lee Miller dan Ismail Cruz Cordova. Walau hanya berkonsep minim ternyata filmnya sungguh istimewa, khususnya bagi penikmat genrenya.

Ilza (Boutella) dan Reza (Miller), beserta Remmy putri mereka adalah penghuni Planet Mars tersisa yang pindah dari Bumi yang sudah lama tak layak huni. Mereka tinggal di sebuah hunian luas dengan fasilitas mandiri yang memungkinkan mereka bertahan hidup untuk selamanya. Tak banyak latar cerita yang dikisahkan bagaimana mereka berada di sana dengan situasi seperti ini. Suatu ketika, sekelompok orang menyusup masuk ingin mengambil alih hunian tersebut. Korban berjatuhan, Ilza dan putrinya selamat, dan mereka pun dipaksa Jerry, satu dari mereka tersisa untuk tinggal bersamanya. Satu misteri terkuak, ternyata Jerry adalah penghuni lawas hunian tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?

Bagaimana mungkin mereka menghirup udara di Planet Mars? Bagaimana mereka bisa sendirian di sana tanpa ada manusia lainnya? Sejak kapan mereka berada di sana? Apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka dalam situasi seperti itu? Sejumlah pertanyaan pasti muncul sejak menit-menit pertama menonton filmnya. Sejalan dengan cerita, sejumlah pertanyaan selintas terjawab walau tak akan pernah ada penjelasan gamblang. Fokus kisah adalah memang bukan latar cerita, namun adalah para penghuninya sendiri.

Baca Juga  Pawn

Narasinya yang penuh misteri ditambah dengan penuturan tersegmen dalam bentuk babak. Total ada tiga babak yang secara unik dinamai para pelakunya. Tak banyak alur plot yang bisa dijelaskan di sini karena akan mengurangi kenikmatan menonton. Plotnya yang berjalan amat lambat memperlihatkan proses para penghuni ini dari waktu ke waktu. Dengan tokoh yang minim, lokasi dan panorama yang itu-itu saja, tanpa banyak dialog pula, segalanya terasa senyap sepanjang filmnya. Jika kita cermati prosesnya babak demi babak, secara tersirat menjawab inti pertanyaan-pertanyaan besar di atas. Film ini secara ringkas menggambarkan bagaimana insting dan sifat naluriah manusia dalam bertahan hidup dan bagaimana mereka tidak pernah belajar untuk menghargai apa yang sebenarnya telah mereka miliki. Benar dan salah semakin kabur. Ini tentu menjawab pertanyaan terbesar dalam kisahnya, mengapa bumi tak lagi layak huni?

Settlers merupakan film sci-fi unik yang brilian, menyajikan studi manusia dengan konsep minimalis dan sisi sinematografi yang mengesankan. Di tengah rasa frustasi kita akan alur plotnya yang lambat serta sisi misteri yang terus mengusik, panorama hunian, baik interior maupun lansekap Mars, tertangkap begitu apik dengan tata kamera yang solid dengan komposisi kuat. Para kastingnya bermain apik pula walau tanpa banyak dialog. Kesunyian dan kesendirian adalah poin terbesar kisah filmnya. Lebih jauh, apakah film ini menyinggung evolusi artificial intelegence? Sulit dikatakan karena hanya ada selintas petunjuk. Satu hal yang jelas, kadang ketidaktahuan adalah sebuah berkah yang tak ternilai. Melalui konsep dan bagaimana mereka mengemas ide besarnya secara brilian, Meander dan Settlers adalah dua film fiksi ilmiah terbaik tahun ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaAli & Ratu-Ratu Queens
Artikel BerikutnyaGunpowder Milkshake
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.