Sherni adalah film drama lingkungan produksi India arahan Amit V. Masurkar. Film ini didistribusikan oleh Amazon Prime Video yang baru saja dirilis minggu lalu. Film ini dibintangi oleh Vidya Balan, Sharat Saxena, Vijay Raaz, Brijendra Kala, dan Neeraj Kabi. Film fiksi yang terang-terangan mengangkat tema konservasi cagar alam dan binatang memang tergolong langka. Sherni adalah satu contoh film yang sederhana, brilian, dan menginspirasi.

Vidya (balan) adalah pejabat yang baru saja dilantik oleh Departemen Kehutanan untuk mengepalai wilayah area hutan konservasi di satu wilayah di India. Belum sempat beradaptasi penuh, Vidya sudah menghadapi kasus berat, yakni seekor harimau betina yang meneror warga hingga tewas. Situasi ini semakin diperumit dengan pemilihan kepala wilayah yang tengah panas-panasnya berlangsung. Situasi ini dimanfaatkan satu calon untuk mengambil hati para warga dengan meminta bantuan pemburu profesional. Vidya harus berpacu waktu dengan sang pemburu yang bermaksud menembak langsung sang harimau.

Rasanya Sherni adalah film bertema konservasi hutan dan binatang terbaik yang pernah saya tonton. Film ini begitu cerdas menggunakan medium “harimau yang marah” sebagai analogi dari semua masalah yang ada di sana. Kita semua tahu, yang bermasalah adalah manusianya dan bukan penghuni hutan. Hutan adalah habitat mereka yang semakin tersingkir karena ulah manusia. Semua problem lingkungan nyaris ada dalam kisahnya, seperti kontraktor lingkungan nakal, kebijakan lingkungan yang kurang tepat sasaran, area tambang yang makin mengurangi areal hutan, edukasi warga yang lemah, hingga pejabat yang malas dan korup. Komplit. Hanya dalam satu momen perburuan ini semuanya terwakili. Sosok Vidya yang berpegang erat dengan prinsipnya yang idealis menjadi penyeimbang dan moral kompas bagi penonton.

Baca Juga  The Gangster, The Cop, The Devil

Kisah yang demikian “kompleks” juga didukung kuat pendekatan estetiknya yang unik pula. Dalam beberapa momen, film ini layaknya film dokumenter yang menjelaskan kita tentang banyak hal tentang hutan dan binatang. Jujur saja, saya jadi tahu lebih banyak tentang harimau setelah menonton film ini. Hal lain yang saya garis bawahi adalah editing. Saya tertawa geli, ketika beberapa kali, gambar close-up binatang di-cut dengan gambar manusia, tentu motifnya adalah simbolik seperti yang dilakukan pembuat film era soviet montage. Komparasi ini semakin menggila ketika satu segmen montage menawan yang menyajikan aksi perburuan harimau, para calon yang tengah berkampanye, hingga isu yang membesar menjadi kegemparan nasional. Penggunaan lirik lagunya yang membuat kita bakal terpingkal karena membandingkan mereka semua ini dengan binatang.

Dengan segala kebersahajaan, gaya lokal, serta konsep yang cerdas, Sherni mengemas tema konservasi cagar alam dan binatang tanpa banyak menggurui penonton. Kedekatan dengan budaya juga membuat kisahnya terasa familiar bagi kita, sebut saja tradisi warga untuk menolak bala hingga problem ekonomi yang menjadi isu terbesar sehingga mereka mudah terbuai dengan omongan manis para calon pemimpin. Sayangnya, film ini tidak memiliki solusi yang ideal. Ending-nya ditutup dengan brilian dan menyentuh dengan serangkaian gambar binatang di satu tempat yang tak perlu saya sebut di mana. Sungguh ironis, jika anak cucu kita kelak hanya bisa melihatnya di sana. Sebuah perenungan buat kita semua. Seperti halnya sang harimau yang marah, bisa jadi pandemi yang tengah memanas ini adalah ulah kita yang sendiri mengabaikan alam dan sesama.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaChernobyl: Abyss
Artikel BerikutnyaA Perfect Fit
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.