Shiva Baby adalah film drama komedi arahan sineas debutan asal Kanada, Emma Seligman. Uniknya, film ini diadaptasi sang sineas dari film pendek berjudul sama yang juga merupakan karyanya. Film ini dibintangi oleh Rachel Sennott, Molly Gordon, Polly Draper, Fred Melamed, serta Dianna Agron. Film berlatar kaum dan tradisi Yahudi sudah banyak diangkat dalam medium film, namun belum pernah dengan pencapaian istimewa semacam ini.

Seorang gadis muda, Danielle (Sennott) diajak oleh orang tuanya untuk menghadiri shiva (acara berkabung kaum Yahudi) di rumah bibinya. Di momen inilah, Danielle menjadi bulan-bulanan para keluarganya, menyangkut sekolah, karir, hingga kehidupan seksnya. Semua tamu yang hadir seolah menggosipi dirinya. Kehadiran Max dan istrinya, lelaki yang baru saja ia kencani, menambah rumit dan panas suasana.

Tidak pernah saya sebelumnya menonton film drama komedi begitu intens dan menggemaskan seperti ini. Rasanya seperti menonton film aksi thriller nonstop. Filmnya nyaris berjalan real time (tanpa ada jeda waktu) dengan 90% kisahnya berjalan di lokasi rumah yang sama. Naskahnya yang ditulis sendiri oleh sang sineas adalah sungguh luar biasa. Hanya melalui perspektif Danielle seorang, plotnya berkembang dengan dinamis, dari satu pembicaraan ke pembicaraan lainnya, dengan intensitas yang semakin meningkat. Naskahnya mampu mengalirkan dialognya dari satu tokoh ke tokoh lain dengan begitu cerdas tanpa sedikit pun terlihat memaksa dengan topik yang pas pula. Saya bisa mengatakan naskah film ini adalah salah satu yang terbaik untuk genrenya.

Satu kunci utama keberhasilan naskahnya adalah pencapaian istimewa para kastingnya. Rachel Sennott yang bermain jenius sebagai Danielle adalah bintang utamanya. Sennott mampu bermain prima menjaga stamina aktingnya untuk memainkan satu sosok karakter yang tergolong sulit untuk diperankan. Ekspresi cemas, bimbang, cemburu, sekaligus rasa percaya diri, bergulir secara bergantian ia mainkan dengan amat menawan dari momen ke momen. Piala Oscar? Mengapa tidak. Kasting lainnya? Sang ibu dan ayah, Max dan istinya, Maya kekasih lesbiannya, bahkan sang bayi, semuanya bermain sempurna.

Baca Juga  Lost Illusions (Festival Sinema Prancis)

Naskah dan kasting yang brilian didukung pula oleh pencapaian estetiknya yang istimewa. Sang debutan rupanya tahu betul bagaimana ia harus mengemas filmnya. Ilustrasi musiknya yang unik adalah tentu yang paling mencuri perhatian. Musiknya yang bernuansa horor/thriller entah mengapa begitu pas menghadirkan suasana/mood yang pas untuk sosok Danielle. Bagi Danielle, momen ini adalah horor buatnya. Kombinasi olahan pergerakan kamera handheld dinamis berpadu dengan editing yang efektif (seringkali POV cutting), juga warna gambar (satu adegan “mabuk”), seringkali menghasilkan momen dramatik, mengejutkan, bahkan mengagetkan dalam beberapa adegannya. Amat mengesankan pula bagaimana sang sineas memanfaatkan tangis bayi untuk menguatkan status mental sang tokoh dalam satu adegannya. Awas, Emma Selignan adalah sineas yang patut diperhitungkan.

Hanya perlu satu momen kecil di lokasi yang sama, Shiva Baby mampu menyajikan banyak lapisan kisah melalui penampilan memikat para kastingnya, khususnya Rachel Sennott, serta pendekatan estetik yang berkelas. Jarang sekali genre drama komedi macam ini memiliki pencapaian sebaik ini. Hanya melalui satu perspektif tokoh dan tradisi keagamaan yang begitu spesifik, kisahnya mampu kita terima dengan baik secara universal. Inti kisahnya memang bukan tentang tradisi atau agama tapi tentang seorang manusia yang mencari jati dirinya di tengah hiruk pikuknya kehidupan yang semakin lama semakin edan. What a film, what a talent, and what a director.  

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaTersanjung: The Movie
Artikel BerikutnyaBeast Beast
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.