Son (2021)
98 min|Horror, Thriller|05 Mar 2021
5.6Rating: 5.6 / 10 from 1,181 usersMetascore: 52
When a young boy contracts a mysterious illness, his mother must decide how far she will go to protect him from terrifying forces in her past.

Son adalah film horor arahan sineas yang belum banyak dikenal, Ivan Kavanagh. Film ini dibintangi oleh aktor Emily Hirsch, Andi Matichak, serta Luke David Blumm. Cerita horor yang berlatar aliran sesat memang sudah lazim di genrenya, Son menawarkan sedikit perspektif yang berbeda dalam kisahnya serta sisi brutal yang tak lazim untuk plot horor sejenis.

Meninggalkan masa lalunya yang penuh misteri, Laura (Matichak) dan putranya, David kini hidup nyaman di sebuah kota kecil di wilayah pinggiran. Hingga suatu ketika, Laura mulai bermimpi buruk dan merasa sang putra diincar oleh sekelompok aliran sesat. Gangguan pun semakin menjadi dan Laura pun meminta bantuan detektif lokal, Paul (Hirsch). Laura ternyata memiliki sejarah, pernah dirawat di rumah sakit jiwa karena gangguan mental. Sementara gangguan pada David semakin memengaruhi fisiknya, situasi mental Laura pun semakin tidak stabil. Apa sebenarnya yang terjadi dan siapa yang mengincar mereka?

Dibuka dengan opening mengejutkan, sebenarnya kisahnya cukup menarik dengan mengkombinasi dua plot tipikal horor, yakni gangguan mental (halusinasi) dan anak iblis (aliran sesat). Dengan bermodal ini, sineas mempermainkan rasa penasaran kita melalui apa yang nyata dan apa yang tidak? Apakah trik ini berhasil? Sama sekali tidak. Penonton tidak diberi ruang yang cukup berempati dengan karakter sang ibu akibat minimnya latar tokoh ini. Alhasil, ini tidak memberikan banyak pilihan sehingga terlalu mudah untuk menduga ke mana arah kisahnya. Arah plot mengarah ke satu titik dan kita bakal tahu yang terjadi pasti sebaliknya. Ada sedikit kejutan di penghujung kisah, namun rasanya tidak lagi menggigit bagi penikmat berat genrenya. Ada sesuatu yang hilang dan tidak koheren. Kalau memang begitu, lantas mengapa? Ini juga masih tak terjawab.

Baca Juga  Creed II

Walau kisahnya memang bukan kekuatan filmnya, namun pencapaian teknisnya jauh dari buruk. Jump scare-nya memang bukan satu hal yang baru, namun dengan pengadeganan yang disajikan begitu mapan serta dukungan sisi sinematorafi dan efek suara, trik horornya menjadi terlihat berkelas. Sayangnya, momen-momen horor semacam ini tak banyak disajikan dalam filmnya. Tone dan atmosfir kelam sepanjang film juga berhasil dicapai dengan mengesankan. Sang sineas memang memiliki sentuhan estetik yang bagus untuk genrenya. Satu lagi jelas adalah sisi sadismenya. Beberapa adegan disajikan begitu brutal dan eksplisit. Bukan aksinya yang menjadi masalah tapi siapa yang melakukannya. Dari sisi pemain, Matichak jelas mendominasi peran sepanjang film dengan akting menawannya.

Selain berbekal jump scare, sinematografi yang menawan, serta sisi sadisme, Son tak banyak menawarkan sesuatu yang baru untuk genrenya. Unsur plot film ini sudah pernah kita sebelumnya dalam banyak film, sebut saja The Omen, The Exorcist, Hereditary, The 6th Day, dan banyak lagi lainnya. Ide menarik rupanya tidak lantas membuat eksekusinya berhasil. Bicara soal iblis dalam film horor, ada sedikit pertanyaan mengganjal yang membuat saya terkadang sedikit lelah dengan ini semua. Apa sih sebenarnya mau mereka (iblis)? Ok, setelah iblis menang dan sisi kegelapan hadir di antara kita, terus apa yang terjadi? Bukankah tanpa mereka pun, manusia sudah merusak diri mereka sendiri? Jika mereka iblis sejati pun, apa perlu show off bersama pengikutnya? Apa saking besar musuh hingga membutuhkan pengikut begitu banyak? Sosok Damien dalam The Omen telah memberikan contoh awal yang bagus bagaimana sesungguhnya iblis bekerja.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaGeez & Ann
Artikel BerikutnyaRaya and the Last Dragon
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.