Star Wars: Episode IX - The Rise of Skywalker (2019)
142 min|Action, Adventure, Fantasy, Sci-Fi|20 Dec 2019
6.7Rating: 6.7 / 10 from 332,367 usersMetascore: 53
The surviving members of the resistance face the First Order once again, and the legendary conflict between the Jedi and the Sith reaches its peak bringing the Skywalker saga to its end.

Setelah sekian lama dinanti, saga penutup seri ikonik Star Wars akhirnya rilis melalui Star Wars: The Rise of Skywalker. J.J. Abrams kini kembali mengarahkan filmnya setelah menggarap episode ke-7 yang sukses komersial luar biasa meraih lebih dari US$ 2 miliar. Para pemain seri sebelumnya, kembali tampil di sini, yakni Daisy Ridley, Adam Driver, John Boyega, Oscar Isaac, serta para bintang seri orisinalnya, Carrie Fisher, Mark Hamill, Billie Dee Williams, Anthony Daniels, hingga Ian McDiarmid. Lantas bagaimana saga klasik ini ditutup?

Kekuatan gelap muncul kembali ketika sang kaisar, Palpatine dan pengikutnya berniat untuk kembali menguasai semesta. Dengan iming-iming kuasa gelap, Kylo Ren pun menjadi tangan kanannya. Kelompok pemberontak mendapatkan bocoran ini dari mata-mata. Rey, Finn, Chewie, Poe bersama C-3PO berusaha mencari lokasi sang kaisar dengan petunjuk kecil dari tulisan milik Luke.

Sebagai fans berat seri orisinalnya, saya sangat berharap sebuah kisah yang segar dan banyak mendapatkan kejutan melalui seri penutup ini. Ternyata saya salah besar. Sejak awal pun, tak terlalu sulit untuk mengantisipasi akhir kisahnya. What the heck. Ini Star Wars bung, buat apa dibuat trilogi final jika hanya berakhir seperti ini. Ini semata hanya pengulangan lagi. Jika mau, trilogi berikutnya juga bisa dibuat lagi dengan konsep yang sama.

Sejak muncul berita, bagaimana J.J. Abrams serta John Boyega “kecewa” dengan kisah seri ke-8 (digarap oleh Rian Johnson), saya malah bingung. Oleh karena Abrams pun pada seri ke-7, sebenarnya hanya melakukan pengulangan cerita Episode 4 & 5 tanpa formula cerita yang segar. Sementara Johnson justru sudah mencoba sesuatu yang baru dan hasilnya pun sangat baik. Satu hal yang menjadi pertanyaan besar bagi saya adalah, apakah sejak awal semua kisah tiga seri final ini sudah terkonsep secara matang? Melihat ini tentu jawabnya tidak.

Baca Juga  Madagascar 2: Escape 2 Africa

Pemaksaan konsep cerita serta tambal sulam plot terlihat jelas dalam film penutup ini. Saya tak yakin betul, jika Palpatine ada dalam konsep awal trilogi final ini. He is done. Buat apa karakter ini muncul kembali, saya sungguh tak habis pikir. Tak masuk akal. Bagaimana selama itu, dia mampu membangun armada sedemikian (maha) besar tanpa ada satu pihak pun yang mengetahui? Lalu, jika ingin menguasai alam semesta lakukan saja, hancurkan saja semua planet yang ada, untuk apa harus menunggu Rey?

Bicara soal logika, film ini tak ada habisnya untuk dibahas. Saya sampai geleng-geleng kepala karena saking konyolnya. Dalam satu momen misalnya, Chewie ditangkap oleh sepasukan musuh, dan mereka pun tahu, semuanya (Rey, Finn, Poe) ada di dekat sana, mengapa mereka tidak menangkap semuanya saja? Yang lebih konyolnya lagi, setelahnya, mereka berusaha menyelamatkan Chewie dengan menyambangi pesawat raksasa destroyer utama yang isinya tentu ribuan pasukan musuh. Mereka pun masuk dengan membabi buta dan langsung menyerang! Hei, alarm-nya mana?? Apa ini tidak gila? Kekonyolan macam ini tidak hanya sekali dua kali. Tiap plotnya seakan memiliki satu tujuan, namun itu dimentahkan kembali oleh plot berikutnya. Lelahnya bukan main saat menonton dan saya merasa dibodohi.

Konyol, memaksa, serta tak berjiwa, Star Wars: The Rise of Skywalker menutup seri saga ikonik ini dengan cara yang absurd. The force is dead on this one. Bagi saya, pencapaian visual yang sedemikian hebat, tak berarti apa-apa jika tidak dimbangi kisah yang setidaknya masuk akal. Abrams ingin menyelamatkan seri ini, namun ia justru menghancurkan seri ini lebih buruk dari sebelumnya. Apa yang dilakukan Rian Johnson sebenarnya sudah sangat baik dengan memasukkan kualitas mistis serta kearifan seri Star Wars orisinalnya. Abrams justru menghilangkan ini semua dengan semata hanya fokus pada aksi-aksi visual hebat. Saya justru menikmati seri The Mandalorian dengan kisah yang lebih membumi dan sederhana.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaJeritan Malam
Artikel BerikutnyaHabibie & Ainun 3
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.